SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

mengucapkan “gara gara dia jadi terlambat”


Ikhwan (Jakarta)
1 year ago on Fiqih

Assalaamu’alaikum pak saya ingin bertanya bagimana hukum berbicara “garabm gara dia nih saya jadi terlambat” apakah itu termasuk kesyirikan?
Redaksi salamdakwah.com
1 year ago

 

waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuhu

 

Apabila ini tujuannya bukan menafikan takdir namun cuma menyebutkan salah satu sebab keterlambatan maka tidak bisa dikatakan bahwa itu kesyirikan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara tidak langsung pernah menyebutkan salah satu sebab dhohir suatu kejadian.Dalam suatu hadits shahih disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ بِنْ مَالِك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : " كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ , فَأَرْسَلَتْ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ بِصَحْفَةِ فِيْهَا طَعَامٌ , فَضَرَبَتِ الَّتِيْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ بَيْتِهَا يَدَ الْخَادِمِ فَسَقَطَتِ الصَّحْفَةُ فَانْفَلَقَتْ , فَجَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فِلَقَ الصَّحْفَةِ ثُمَّ جَعَلَ يَجْمَعُ فِيْهَا الطَّعَامَ الَّذِيْ كَانَ فِي الصَّحْفَةِ وَيَقُولُ : " غَارَتْ أُمُّكُمْ ." ثُمَّ حَبَسَ الْخَادِمَ حَتَّى أُتِيَ بِصَحْفَةٍ مِنْ عِنْدِ الَّتِيْ هُوَ فِيْ بَيْتِهَا , فَدَفَعَ الصَّحْفَةَ الصَّحِيْحَةَ إِلَى الَّتِيْ كُسِرَتْ صَحْفَتُهَا , وَأَمْسَكَ الْمَكْسُوْرَةَ فِيْ بَيْتِ الَّتِيْ كَسِرَ فِيْهِ "


Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu berkata : “Suatu ketika Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam sedang bersama salah seorang isterinya. Lalu salah seorang Ummul Mukminin (isteri Nabi yang lain) mengirimkan nampan yang berisikan makanan. Isteri yang sedang bersama Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memukul tangan pelayan sehingga nampan itu jatuh dan pecah. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan nampan itu, kemudian diatasnya beliau mengumpulkan makanan yang sebelumnya berada dinampan tadi. Sambil berkata : “Ibunda kalian sedang cemburu” Beliau menahan si pelayan tadi untuk tidak pergi sampai ia pulang membawa nampan (baru) milik isteri yang mana beliau berada dirumahnya. Beliau menyerahkan nampan baru (utuh) kepada pemilik nampan yang pecah tadi dan menahan nampan yang pecah dirumah yang memecahkan nampan tadi.”HR. Bukhari dan yang lainnya

Kalau seseorang menyebutkan kata kata tadi dengan meyakini bahwa itulah satu satunya sebab keterlambatan dan tidak ada peran takdir di situ maka ini adalah kesalahan besar karena menafikan takdir

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com