SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apakah Melanjutkan Proses Ke Jenjang Pernikahan Atau Tidak


Akhwat (Samarinda)
1 week ago on Keluarga

Assalamualaikum ustadz, saya telah melaksanakan sholat istikhoroh meminta petunjuk oleh seseorang yang ingin melamar saya, dan ketika saya membuka al quran terbuka surah al mujadila tentang "wanita yang mengajukan gugatan" saya tidak paham apakah ini petunjuk bahwa saya tidak baik menerima dan lanjut jenjang pernikahan ataukah bagaimana ? Terima kasih sebelumnya ustadz
Redaksi salamdakwah.com
1 week ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Shalat istikharah disyariatkan dalam perkara yang dibolehkan atau dalam memilih di antara perkara-perkara yang disunahkan. Adapun dalam melaksanakan kewajiban, dan (meninggalkan) yang diharamkan serta makruh, tidak disyariatkan melakukan shalat istikharah untuk itu.

Disebutkan dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah (3/243): "Istikharah tidak dilakukan untuk perkara wajib, haram dan makruh. Akan tetapi pada perkara-perkara yang sunnah. Itupun maksudnya bukan pada pokok sunahnya, karena (yang pokok) dituntuk (untuk melakukannya), akan tetapi ketika terjadi pertentangan di antara perkara-perkara sunah. Misalnya, manakah diantara kedua perkara tersebut yang lebih dahulu dia lakukan. Atau manakah yang dicukupkan. Adapun perkara yang dibolehkan, boleh melakukan istkharah untuk pokok perkaranya."

Kembali ke pertanyaan penanya, wallahu ta'ala a'lam, dengan terbatasnya ilmu yang kami miliki, hingga kini kami belum mengetahui adanya nash atau perkataan Ulama' yang menyatakan bahwa kejadian seperti yang dialami oleh penanya merupakan tanda "arahan sikap" setelah shalat istikharah dilakukan. 

Yang kami tahu diantara tanda istikharah adalah kemudahan proses menuju pernikahan atau sulitnya proses, atau kecondongan hati dari orang yang melakukan istikharah. 

 Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan,"
pertanda setelah shalat istikharah untuk melanjutkan urusan yang diistikharahkan atau tidak melanjutkannya yaitu seseorang yang melaksanakan istikharah mendapati bahwa hatinya bisa menerima dengan lapang dada urusan ini (yang disebutkan dalam istikharahnya) dan menganggapnya baik. apabila dia dapati dadanya sempit dan terhalangi dari urusan tersebut maka ini tanda bahwasanya ada keburukan, kala itu dia meninggalkannya dan mengalihkan ke yang lain". Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/57 pertanyaan kedua dari fatwa 13610

Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan," Imam an-Nawawi menyebutkan dalam kitab al-Adzkar,"Setelah istikhoroh  seseorang melakukan apa yang mengantarkan kepada ketenangan hati. Kemudian beliau berdalil dengan hadits Anas yang dikeluarkan oleh Ibnu as-Sunni," Apabila engkau berkeinginan kuat melakukan sesuatu maka beristikhorohlah kepada Rabb mu sebanyak tujuh kali kemudian perhatikan apa yang terbersit di hatimu, sesungguhnya kebaikan ada padanya."Seandainya riwayat ini kuat maka sungguh ini bisa dijadikan acuan namun sanadnya lemah sekali. Yang dijadikan acuan adalah dia tidak melakukan apa yang menyenangkan hatinya dari apa yang memang dia condong sekali kepadanya sebelum istikhoroh, beginilah yang diisyaratkan pada akhir hadits Abu Said, tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah. Fath al-Baari 11/187

Hasil istikhoroh bisa terlihat dari kemudahan proses atau sulitnya proses menuju pernikahan sebagaimana yang diisyaratkan dalam salah satu hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika mengajarkan istikhoroh kepada Jabir



عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَالسُّورَةِ مِنَ القُرْآنِ: " إِذَا هَمَّ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ،وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاقْدُرْهُ لِي، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ، وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ


dari Jabir radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengajarkan istikharah kepada kami untuk setiap perkara, sebagaimana mengajarkan surat dari Al Qur'an. (Beliau bersabda): "Jika salah seorang menginginkan sesuatu maka hendaknya ia mengerjakan dua raka'at lalu ia mengucapkan: ALLAHUMMA INNI ASTAKHIRUKA BI 'ILMIKA WA ASTAQDIRUKA BI QUDRATIKA WA AS'ALUKA MIN FADLIKAL ADZIMI FAINNAKA TAQDIRU WALA AQDIRU WA TA'LAMU WALA A'LAMU WA ANTA A'LLAMUL GHUYUB, ALLAHUMMA IN KUNTA TA'LAMU ANNA HADZAL AMRA KHAIRAN LII FII DIENIE WA MA'AASYII WA 'AQIBATI AMRI -atau berkata; FII 'AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FAQDURHU LI WA IN KUNTA TA'LAMU ANNA HAADZAL AMRA SYARRAN LI FI DIINII WA MA'AASYII WA 'AAQIBATI AMRII -atau berkata; FII 'AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FASHRIFHU 'ANNI WASHRIFNI 'ANHU WAQDURLIIL KHAIRA HAITSU KAANA TSUMMA RADDLINI BIHI kemudian ia menyebutkan hajat yang ia inginkan. (Ya Allah saya memohon pilihan kepada Engkau dengan ilmu-Mu, saya memohon penetapan dengan kekuasaan-Mu dan saya memohon karunia-Mu yang besar, karena Engkaulah yang berkuasa sedangkan saya tidak berkuasa, Engkaulah yang Maha mengetahui sedangkan saya tidak mengetahui apa-apa, dan Engkau Maha mengetahui dengan segala yang ghaib. Ya Allah jikalau Engkau mengetahui urusanku ini adalah baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku -atau berkata; baik di dunia atau di akhirat- maka takdirkanlah untukku, sebaliknya jikalau Engkau mengetahui bahwa urusanku ini buruk untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, -atau berkata; baik di dunia ataupun di akhirat- maka jauhkanlah aku daripadanya, serta takdirkanlah untukku yang baik baik saja, kemudian jadikanlah aku ridla dengannya.) " Lalu ia menyebutkan hajatnya. HR. Bukhari, Kitab Ad-Da'awat, Bab Ad-Du'a' 'inda Al-Istikhoroh no.6382. Imam Bukhari juga menyebutkannya di tempat lain di nomer 7390

Apabila laki-laki itu memang baik agama dan akhlaknya maka silahkan dilanjutkan prosesnya meski ada kejadian yang dialami penanya tersebut. Dalam salah satu jawabannya terkait laki-laki yang layak untuk dipilih Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan," Suami yang dipilih haruslah laki-laki yang saleh dalam agamanya, bertakwa kepada Allah dalam segala urusannya, paling bagus akhlaknya, dan paling sempurna kecerdasannya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/47-48. Fatwa NO.13656

Kalau laki-laki itu buruk agama dan akhlaknya, seperti tidak melaksanakan shalat wajib atau shalatnya bolong-bolong atau laki-laki itu suka menyiksa orang dekatnya maka proses itu tidak perlu dilanjutkan.  

 

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com