SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

wanita bekerja sebagai dokter


Akhwat (Jakarta)
2 weeks ago on Fiqih

Bagaimana hukumnya bagi seorang wanita untuk bekerja sebagai dokter? (Dimana ia akan banyak keluar rumah dan berkemungkinan ada ikhtilat di tempat kerjanya)
Redaksi salamdakwah.com
1 week ago

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Wallahu ta'ala a'lam, ummat ini membutuhkan dokter wanita yang aktif supaya penanganan pasien menjadi ideal, di mana seharusnya yang menangani pasien wanita adalah dokter wanita dan yang menangani pasien pria adalah dokter pria. Oleh karena itu seorang wanita yang bekerja menjadi dokter tidaklah melanggar syariat selama ia mendapatkan izin dari wali atau suaminya dan pekerjaannya tidak menariknya ke dalam perbuatan dosa seperti khalwat dan sejenisnya.

Dikutip dari ‘Majalah Al-Mujamma’ (8/1/49) Divisi di pemerintahan yang bergerak di dunia kesehatan hendaknya bergerak (sekuat tenaga) dalam memberi dorongan kepada para wanita agar mendalami ilmu kedoteran dan mengambil spesialis pada semua cabangnya. Terutama masalah kewanitaan dan kelahiran, karena minimnya jumlah wanita dalam bidang spesialisasi kedokteran ini. Dengan begitu diharapkan kita tidak terpaksa merujuk ke kaidah pengecualian.” 

Oleh karena itu bila memungkinkan maka dokter wanita itu keluar dari rumah sakit yang tidak memperdulikan aturan khalwat dan ikhtilat kemudian ia bisa membuka praktek sendiri dan mengatur sendiri pasien yang bisa berobat ke dia (kecuali saat darurat). 

Apabila pekerjaan ini ditinggalkan oleh dokter wanita kemudian menimbulkan masalah yang lebih besar misalnya orang-orang yang tidak mengerti syariat mengisi posisi-posisi kosong di rumah sakit tersebut dan menimbulkan pelanggaran syariat yang serius maka tidak apa tetap bekerja di situ dengan tetap berusaha maksimal menghindari-hal-hal yang diharamkan. Jangan lupa untuk menasehati manajemen rumah sakit supaya memperhatikan masalah khalwat, ikhtilat dan sejenisnya dengan cara misalnya menerapkan kebijakan dalam jadwal kerja yang berbeda (antara petugas medis wanita dan pria) dan kebijakan lainnya.

ومن ذلك ما أفتى به شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله فيمن يتولى الولايات ، ويُلزم بأخذ المكوس المحرمة من الناس ، لكنه يجتهد في العدل ورفع الظلم بحسب إمكانه ، ويخفف من المكوس ما استطاع ، ولو ترك الولاية لحل محله من يزيد معه الظلم ، فأفتى رحمه الله بأنه يجوز له البقاء في ولايته ، بل بقاؤه على ذلك أفضل من تركه ، إذا لم يشتغل بما هو أفضل منه

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berfatwa mengenai orang yang menguasai suatu wilayah. Dan ia diharuskan untuk memungut bea cukai (yang haram) dari orang-orang, akan tetapi ia berusaha untuk adil dan menghilangkan kezaliman sebisa mungkin, serta meminimalisir cukai sedapat mungkin. (Di sisi lain kalau dia tinggaklan posisi tersebut akan ada orang yang menempati posisi itu dab berbuat kezaliman yang lebih) Maka beliau rahimahullah memberikan fatwa dibolehkannya orangtersebut untuk tetap dalam menduduki posisi itu. Bahkan keberadaan dia di posisi itu lebih utama dibandingkan dengan meninggalkannya jika dia tidak bekerja di posisi yang lebih baik dari itu. Beliau menambahkan,“

 وقد يكون ذلك واجبا عليه إذا لم يقم به غيره قادرا عليه . فنشر العدل بحسب الإمكان ، ورفع الظلم بحسب الإمكان فرض على الكفاية ، يقوم كل إنسان بما يقدر عليه من ذلك إذا لم يقم غيره في ذلك مقامه 

Bisa jadi hal itu wajib atasnya kalau orang lain tidak ada yang mampu. Sehingga ia menyebarkan keadilan (sebisa mungkin). Menghilangkan kezaliman sesuai kemampuan termasuk fardu kifayah. Setiap orang harus melakukannya sesuai dengan kemampuannya, itu jika yang lainnya tidak ada yang mampu menempatinya.” (Majmu Fatawa, 30/356-360).

Telah diketahui bahwa bea cukai termasuk sangat diharamkan, termasuk dosa besar. Akan tetapi ketika seorang muslim saleh menduduki posisi ini untuk meringankan keburukan dan meminimalkan sesuai kemampuannya, maka hal itu dibolehkan.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengomentari perkataan Syaikhul Islam tersebut dengan perkataan yang mirip, beliau mengatakan,“

والمصالح العامة يجب مراعاتها ، لو مثلا تركنا مسألة الطب ، وصار أهل الخير لا يتعلمون الطب ، قال : كيف أتعلم الطب وإلى جانبنا نساء ممرضات ومتعلمات ومطبقات لمعلومات؟ نقول : هل أنت إذا امتنعت عن هذا هل سيبقى الجو فارغا ؟ سيأتي أناس خبثاء يفسدون في الأرض بعد إصلاحها ، وأنت ربما إذا اجتمعت أنت والثاني والثالث والرابع ، ربما في يوم من الأيام يهدي الله ولاة الأمور ويجعلون النساء على حدة والرجال على حدة "

Kemaslahatan umum harus dijaga. Salah satu contoh kalau kita tinggalkan ilmu kedokteran, sehingga orang baik-baik tidak belajar kedokteran dengan alasan, “Bagaimana saya belajar kedokteran, sementara disamping kami para perawat wanita, pelajar wanita dan staf wanita? Kami katakan, “Apakah kalau anda menolak hal ini, kondisi akan kosong (dari masalah)?! Akan datang orang yang buruk dan merusak di atas bumi (setelah sebelumnya ada perbaikan). Bisa jadi, jika anda (yang baik-baik berkumpul, baik berdua, bertiga atau berempat) suatu waktu pejabat pemerintah mendapat hidayah dari Allah lalu memisahkan antara laki-laki dan wanita, masing-masing terpisah di tempatnya.” (Syarh Kitab Siyasah Syaar’iyah, hal. 149)

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, “

نحن مجموعة أطباء نعمل في الرياض ، ويكون علينا مناوبات يكون فيها مرضى ذكور وإناث ، وأحيانا تشتكي المريضة وتكون الشكوى مثلا الصداع أو وجع في البطن ، ويقتضي العمل الطبي حتى يكون تاما أن يتم الفحص : يقتضي أخذ المعلومات عن سبب الصداع ، يقتضي أن يفحص البطن أو الرأس أو غيرها حتى لا يكون عليه مسئولية ، ولو لم يكن من فحص قد لا تتضرر المريضة كثيرا ، يعني هناك مجال للتهرب منها ، لكن حتى يقيم الحالة تقييما تاما يقتضي أن يفحص 

Kami sekelompok para dokter bekerja di kota Riyadh. Kami ada pergantian jam jaga, di dalamnya ada pasien, baik laki-laki maupun wanita. Terkadang pasien (pr) mengeluh seperti sakit kepala atau sakit perut. Pekerjaan sebagai dokter supaya sempurna pemeriksaannya menuntut: - pengumpulan informasi tentang sebab pusingnya, pemeriksaan perut, kepala atau selainnya atau lainnya agar tidak ada tanggung jawab lagi. Kalau tidak dicek, akan sangat berbahaya bagi pasien wanita itu. Bagi kami memungkinkan untuk menghindar darinya, akan tetapi  agar mendapatkan gambaran yang sempurna, mengharuskan untuk dicek.

Maka beliau menjawab, “

الواجب على إدارة المستشفى أن تلاحظ هذا وأن تجعل المناوبة بين الرجال والنساء حتى إذا احتاج النساء المرضى أن يُعالجن أو يفحصن أُرسل إليهن النساء ، فإذا لم تقم الإدارة بهذا الواجب عليها ولم تبال فأنتم لا حرج أن تفحصوا النساء ، لكن بشرط ألا يكون هناك خلوة أو شهوة ، وأيضا يكون هناك حاجة إلى الفحص ، فإن لم يكن حاجة وأمكن تأخير الفحص الدقيق إلى وقت تحضر فيه النساء فأخروه ، وإذا كان لا يمكن فهذه حاجة ولا بأس بها

 

Seharusnya manajemen rumah sakit memperhatikan hal ini, dengan menjadwal antara lelaki dan wanita. Agar ketika pasien wanita membutuhkan maka untuk pengobatan dan pengecekan dikirim petugas wanita. Jika manajemen tidak memperhatikan hal ini dan tidak memperdulikan, maka anda tidak mengapa mengecek pasien wanita. Akan tetapi dengan syarat, disana jangan ada khalwat (berduaan) atau ada syahwat. Begitu juga disyaratkan adanya kebutuhan untuk diperiksa. Kalau tidak dibutuhkan dan pemeriksaan rinci masih mungkin ditunda sementara waktu sampai hadir petugas wanita hadir, maka hendaknya ditunda. Kalau hal itu tidak memungkinkan dan disana ada kebutuhan, maka hal itu tidak mengapa.” (Liqo Bab Maftuh, 1/206).

 

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com