SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Benarkah Ada Dalil Yang Menerangkan Shalat Di Masjid Lebih Utama Bagi Wanita


Akhwat
2 months ago on Ibadah

Assalamu'alaikum wr.wb. Ust. saya mau tanya ... saya membuka web. tentang masalah shalat bagi wanita. Kemudian saya menemukan situs tertentu " oleh ust yang sudah magister yang menerangkan dalil2 keutamaan shalat di masjid bagi wanita dan membantah dalil2 tentang keutamaan shalat wanita di rumah. Manakah yg benar ustadz. Saya jadi bingung karena suami saya menyuruh saya dan ibu2 pengajian utk wajib shalat di masjid. Jazakallah
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Alhamdulillah kami membaca sekilas apa yang beliau tuliskan, namun nampaknya yang kami dapati adalah yang beliau pakai adalah dalil umum tentang keutamaan ke masjid dan beliau berpandangan tidak ada yang mengkhususkannya padahal ada dalil yang mengkhususkannya. Berikut ini dalil-dalil yang mengkhususkan itu, diantaranya:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ


Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian melarang istri-istri kalian pergi ke masjid namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka. HR. Abu Daud no.567. Dinilai shahih oleh al-Albani.

Dalam riwayat lain disebutkan:
Dari Ummu Salamah radhiallahu anha, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,


خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ


"Sebaik-baik masjid (tempat shalat) bagi wanita adalah di bagian dalam rumahnya." (HR. Ahmad, no. 26543, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Targhib, no. 341)

Dalam riwayat lain disebutkan:


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سُوَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ عَمَّتِهِ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: " قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِي "، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ


Dari Abdullahbin Suwaid al-Anshari, dari tantenya Ummu Humaid, isteri Abu Humaid As-Sa'idi radhiallahu anhuma, dia mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku senang jika shalat bersama engkau,' Beliau berkata, 'Aku telah mengetahui bahwa engkau suka shalat bersamaku, (akan tetapi) shalatmu di rumahmu (bagian dalam) lebih baik daripada shalatmu di rumahmua bagian depan, dan shalatmu di rumahmu bagian depan, lebih baik dari shalatmu di perkampunganmu, shalatmu di perkampunganmu lebih baik dari shalatmu di masjidku." Lalu beliau minta dibuatkan masjid (tempat shalat) dia bagian terdalam di rumahnya dan dijadikan gelap. Maka seterusnya dia shalat di sana hingga berjumpa dengan Allah Azza wa Jalla." (HR. Ahmad, no. 27090 dinyatakan hasan oleh Al-Albany)

Maksud dari apa yang kami sampaikan adalah bahwasanya seorang wanita boleh untuk melaksanakan shalat di masjid bila syaratnya terpenuhi namun bila dia melaksanakannya di rumah maka itu lebih baik berdasarkan hadits-hadits di atas. Kita sepakat bahwa tidak boleh melarang wanita ke masjid bila terpenuhi syaratnya. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Ada seorang Nasrani yang masuk Islam bersama istrinya. Di suatu hari Jumat, dia dan istrinya pergi ke masjid. Namun, ada yang mengatakan kepadanya bahwa wanita dilarang masuk masjid. Maka, dia menemui imam masjid dan bertanya, “Kenapa wanita muslimah tidak diperkenankan masuk masjid?” Imam tersebut menjawab, “Karena tidak semua wanita itu baik, bahkan wanita muslimah di Makkah al-Mukarramah tidak diizinkan masuk masjid.” Laki-laki yang baru masuk Islam itu berkata, “Lantas saya menyebutkan surat al-Jumu'ah ayat 8 kepada imam itu."

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ}

 
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli
 
Laki-laki itu juga bertanya apakah ini benar temasuk ajaran Islam yang murni? Dia menyebutkan bahwa wanita Nasrani (diperbolehkan) pergi ke gereja untuk beribadah, mengapa wanita muslimah dilarang masuk masjid? Mohon diberi jawaban demi pencerahan bagi kaum Muslimin.

Mereka menjawab: Wanita muslimah boleh salat di masjid. Jika dia meminta izin, maka suaminya tidak boleh melarangnya, dengan catatan dia menutup aurat dan tidak menampakkan bagian tubuhnya yang dilarang untuk dilihat laki-laki bukan mahramnya. Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yang bersabda,
 

«إذا استأذنكم نساؤكم إلى المساجد فأذنوا لهن

 
Apabila istri-istri kalian meminta izin pergi ke masjid, maka izinkanlah mereka
Dalam riwayat lain,“

لا تمنعوا النساء حظوظهن من المساجد إذا استأذنكم، فقال بلال - هو ابن لعبد الله بن عمر -: والله لنمنعهن، فقال له عبد الله أقول لك قال رسول الله صلى الله عليه وسلم وتقول أنت: لنمنعهن

 
Janganlah kalian melarang kaum wanita untuk mendatangi masjid-masjid Allah jika mereka meminta izin kepada kalian.” Bilal – putra dari Abdullah bin Umar – berkata, “Demi Allah, kami benar-benar akan melarang mereka.” Abdullah berucap kepadanya, “Aku menyampaikan (ilmu) dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kepadamu, namun engkau (berani) menimpali dengan ucapanmu, 'Kami benar-benar akan melarang mereka." (HR. Muslim) Muslim dalam kitab Shahihnya.
 
Akan tetapi, jika wanita tersebut menampakkan sebagian anggota badannya yang haram dilihat laki-laki non-mahram, atau memakai wangi-wangian, maka dia tidak diperbolehkan keluar dari rumahnya, apalagi ke masjid untuk salat, sebab ada kekhawatiran akan terjadi fitnah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,  Katakanlah kepada wanita yang beriman:"
 

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ

 
Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka

Dalam ayat yang lain, 
 

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}

 
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Zainab al-Tsaqafiyyah meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, 
 

: «إذا شهدت إحداكن العشاء فلا تتطيب تلك الليلة »

 
Jika seorang wanita pergi salat Isya, maka janganlah memakai wangi-wangian (berhias) pada malam itu  Dalam riwayat lain,  Apabila salah seorang dari kalian (kaum wanita) (hendak) salat berjamaah di masjid, maka janganlah dia memakai minyak wangi.  (HR. Muslim)

Ini juga berdasarkan beberapa hadis sahih,“Para istri shahabat pergi ke masjid untuk salat Subuh berjamaah. Mereka menutup seluruh tubuhnya sehingga tidak seorang pun yang dapat mengenal mereka.” Juga berlandaskan riwayat yang menyebutkan bahwa `Amrah binti Abdurrahman berkata, "Aku telah mendengar Aisyah radhiyallahu 'anha berkata,  ‘
 

«لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء لمنعهن المسجد كما منعت نساء بنى إسرائيل، فقيل لعمرة: نساء بني إسرائيل منعن المسجد؟ قالت: نعم »

 
Seandainya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyaksikan apa yang terjadi terhadap para wanita, niscaya beliau benar-benar akan melarang mereka ke masjid, sama seperti kaum wanita Bani Israil yang dilarang (ke tempat ibadah).” Ada yang bertanya kepada `Amrah, "Apakah kaum wanita Bani Israil itu dilarang ke masjid?" ‘Amrah menjawab, "Ya.". (HR. Muslim).
 
Hadis-hadis tersebut menjelaskan bahwa wanita Muslimah tidak dilarang untuk salat di masjid jika mereka memegang teguh adab-adab Islam dalam berpakaian dan tidak memakai perhiasan yang dapat menimbulkan fitnah atau menimbulkan ketertarikan bagi orang-orang yang lemah iman. Akan tetapi, jika keadaan mereka membuat orang-orang yang tidak baik tergoda dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya terfitnah, maka mereka dilarang masuk masjid. Bahkan, mereka dilarang keluar rumah dan menghadiri perkumpulan-perkumpulan umum.
 
Adapun berita bahwa kaum wanita Mekah tidak diizinkan masuk masjid, itu tidak benar. Yang benar adalah mereka diperbolehkan masuk Masjid al-Haram dan salat berjamaah di dalamnya, dengan ketentuan bahwa mereka harus duduk di tempat khusus (bagi wanita) agar tidak bercampur baur dengan laki-laki saat salat.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam

Komite Penelitian Ilmiah dan Penerbitan Fatwa
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua)
Ibrahim bin Muhammad Ali asy Syaikh (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/333-334 Fatwa Nomor:873

Terkait memaksa para wanita ke masjid maka yang nampak adalah itu tidaklah tepat mengingat ini bertentangan dengan dalil-dalil shahih di atas. Wallahu ta'ala a'lam 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2018 - Www.SalamDakwah.Com