SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Ibu Menjelekkan Suami


Akhwat (Riau)
5 months ago on Keluarga

Assalaamu'alaikum. Ustaadz, seorang ibu suka membicarakan aib atau kekurangan suami anaknya sehingga menjadi bahan ejekan. Si istri, anak ibu tersebut, merasa lebih nyaman ketika misah rumah dari orang tuanya karena tidak ada yang mengomentari suaminya. Adapun saat ini tinggal dengan ibunya karena kasihan dengan ibunya yang tinggal sendiri karena bapaknya sudah wafat. Si istri sudah pernah bilang ke ibunya bahwa setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan namun ibunya malah menjawab "tapi ini terlalu". Jika si istri dan suaminya memutuskan misah rumah lagi dari rumah orang tuanya, membiarkan ibunya tinggal sendiri namun ibunya tidak ridho, baik dengan mengatakan bahwa ia tidak ridho ataupun berbohong, mengatakan tidak apa-apa jika anaknya ikut suaminya, namun dalam hatinya tidak ridho, apakah si istri bahkan suaminya itu berdosa?
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

 

Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuhu

 

Idealnya seorang mertua adalah orang yang bijak Dan tidak menjadi faktor yang memperburuk keadaan dalam rumah tangga anak dan menantunya.

Sungguh indah kehidupan Syuraih al-Qadhi yang menikahi seorang wanita sholehah sedangkan mertuanya adalah seseorang yang bijak

Syuraih al-Qadhi berkata, “Aku meminang seorang wanita dari Bani Tamim. Saat hari pernikahanku dengannya, datanglah teman-teman wanitanya memberi hadiah kepadanya hingga ia masuk menemuiku.” Aku berkata, “Termasuk ajaran sunnah, apabila seorang istri dipertemukan dengan suaminya hendaknya si suami bangkit mengerjakan shalat dua rakaat, lalu memohon kebaikan istrinya kepada Allah Shubhanahu wata’alla dan berlindung dari kejelekannya.” Aku lantas berwudhu. Ternyata, istriku pun berwudhu seperti wudhuku. Aku lalu melakukan shalat, ternyata ia pun shalat mengikuti shalatku.

Tatkala rumah telah sepi, tinggal kami berdua, aku mendekatinya lalu mulailah tanganku menjulur kepadanya. Istriku berkata saat itu, “Jangan terburu-buru, wahai Abu Umayyah.”

Lantas istriku melanjutkan ucapannya, “Alhamdulillah, aku memohon pertolongan -Nya dan aku bershalawat atas Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba’du. Aku adalah wanita yang asing, tidak ada pengetahuanku tentang akhlakmu. Terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya, dan apa yang engkau benci niscaya aku akan menjauhinya. Sekarang, engkau telah memiliki diri ini dengan ketetapan dari Allah Shubhanahu wata’alla yang mesti terjadi, maka lakukanlah apa yang Allah Shubhanahu wata’alla perintahkan, dalam firman –Nya, “Apakah menahan dengan cara yang ma’ruf atau melepas (mencerai) dengan cara yang baik.” (al-Baqarah: 229).

 

Aku berkata, “Alhamdulillah, aku memuji Allah Shubhanahu wa ta’alla dan memohon pertolongan kepada-Nya, shalawat dan salam semoga tertuju kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan segenap sahabat beliau. Amma ba’du… Sungguh engkau telah mengucapkan kalimat yang jika engkau benar-benar berada di atasnya, hal itu menjadi keberuntungan bagiku. Namun, jika engkau meninggalkannya, niscaya hal itu akan menjadi hujah yang memberatkanmu. Aku suka ini dan aku benci itu. Hal-hal baik yang engkau lihat dariku, maka sebarkanlah. Namun, kejelekan yang engkau lihat, maka tutupilah.”

 

Sang istri berucap lagi, “Apa engkau suka apabila aku mengunjungi keluargaku?” “Aku tidak suka keluarga istriku menjadi bosan kepadaku,” jawabku.

 

Istriku kembali mengajukan pertanyaannya, “Di antara tetanggamu, siapa yang engkau senangi masuk ke rumahmu sehingga aku akan izinkan (ia masuk rumahmu), dan siapa yang tidak engkau sukai sehingga aku pun tidak suka?”.

 

“Bani Fulan adalah kaum yang saleh, sedangkan Bani Fulan (yang lain) adalah kaum yang buruk,” jawabku.

Syuraih al-Qadhi akhirnya menyatakan, “Aku pun melewati malam yang terindah bersamanya. Waktu setahun pun berlalu dalam kebersamaanku dengannya. Tidak pernah aku melihat darinya selain perkara yang aku senangi.

 

Ketika akhir tahun saat aku datang dari majelis hakim, tiba-tiba aku bertemu dengan seorang wanita tua.” Aku bertanya, “Siapa perempuan tua itu?” Dijawab, “Fulanah, ibu dari istrimu.” “Marhaban, ahlan wa sahlan,” sambutku.

Saat aku telah duduk, datanglah ibu mertuaku tersebut seraya berkata, “Assalamu ‘alaik, wahai Abu Umayyah.”

“Wa ‘alaikum salam, marhaban bik wa ahlan,” sambutku.

Mertuaku bertanya, “Bagaimana yang engkau lihat dari istrimu?”

 

Aku jawab, “Istriku adalah sebaik-baik istri dan teman yang paling sesuai. Sungguh ibu telah mendidiknya dengan adab yang terbaik. Ibu telah melatihnya dengan latihan yang paling bagus. Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla membalas ibu dengan kebaikan.”

 

“Wahai Abu Umayyah! Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkanmu dari perilaku istrimu, peganglah cambuk,” nasihat ibu mertuaku.

Ibu mertua ini meminta izin untuk datang setiap akhir tahun ke tempat kami. Pada kesempatan itulah beliau memberi nasihat kepada kami. Aku telah menjalani masa dua puluh tahun bersama istriku. Selama itu pula tidak pernah aku melihat darinya sesuatu yang patut dicela.” selesai

 

Oleh karena itu, apabila memang suami tidak salah dan ibu penanya yang salah maka kami sarankan kepada penanya untuk menasehati ibunya supaya tidak membicarakan aib suami dan menjadikannya bahan ejekan. Apabila ibunya tetap tidak berhenti dari kesalahannya maka silahkan penanya mengambil opsi mengontrak atau membeli rumah yang tidak jauh dari rumah ibunya supaya tetap bisa membantu ibunya bila sewaktu waktu dibutuhkan. Semoga Allah ta'ala memberikan petunjuk kepada ibu penanya dan memberikan karunia rumah tangga yang dipenuhi keberkahan kepada penanya dan kami semua 

 

 

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com