SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apakah Ini Pengobatan Yang Dibolehkan?


Akhwat (Jakarta)
2 weeks ago on Aqidah

Assalamuallaikum ustadz, saya sedang sakit, ibu dan ayah saya memaksa saya untuk berobat ke orang pintar. yang dimana metodenya ia bisa melihat penyakit melalui telur yang di tempelkan ke telapak tangan pasien. saya ragu untuk masalah metodenya pak ustadz. saya sudah bertanya bagaimana orang pintar itu bisa melihat hanya melalui telur saja?orang tua bilang tidak tahu. tapi mereka memaksa secara halus melihat banyak keluarga saya yang berobat kesana dan sembuh. saya tetap tidak mau karena takut akan dosa syirik yang dimana dosa yang tidak dapat di ampuni. orang tua saya bilang kalau si orang pintar ini tetap berdoa kepada Allah dan menjalankan sholatnya, si orang pintar tidak memperbolehkan percaya kepada dia dan tetap percaya sama Allah. tapi saya tetap ragu dengan metodenya yang memakai telur itu. bagaimana seharusnya saya menyikapinya?sedangkan orang tua saya bersih kukuh dengan halus untuk berobat disana. saya hanya ingin saya sembuh dengan ridha Allah.
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kami sarankan untuk mencari metode pengobatan lain meski orangnya mengatakan bahwa perlu bersandar kepada Allah ta'ala ketika berobat dengan media telur itu, mengingat tidak ada nash yang menguatkan pengobatan itu, itu belum teruji secara klinis dan belum diakui secara umum. Berikut ini keterangan syaikh Ibnu Baz rahimahullah ta'ala tentang kaidah pengobatan yang halal:  
Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz kepada saudara Muslim yang dimuliakan Allah. Mudah-mudahan Allah menambah pengetahuan dan keimanan kita. Amin.

Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah tercurah kepada kalian. Selanjutnya, atas izin Allah, kami telah menerima surat Anda tertanggal 14/1/1385 H. Saya senang mengetahui bahwa Anda berada dalam keadaan sehat, alhamdulillah. Saya juga senang bahwa Anda memperhatikan jawaban saya terkait gelang kesembuhan dan Anda berupaya mencari tahu tentang masalah ini dalam segala aspeknya.

Saya perlu menyampaikan bahwa metode penyembuhan memiliki hukum yang berbeda-beda dan banyak macamnya. Hukumnya juga akan berbeda, tergantung keyakinan dari penggunanya. Ada metode yang hukumnya boleh, ada yang makruh dan hanya diperbolehkan ketika perlu, dan ada pula yang haram meskipun pelakunya meyakini bahwa metode itu hanya sebab, sedangkan penyembuh sejati adalah Allah semata.

Di antara metode yang hukumnya boleh adalah pengobatan halal yang banyak dilakukan oleh masyarakat pada saat ini, seperti penggunaan pil, suntikan, perban, dan salep untuk menyembuhkan penyakit sesuai anjuran dokter, serta penyinaran X-ray. Metode-metode tersebut dan metode semisalnya merupakan sarana yang dibolehkan apabila sudah teruji, diakui manfaatnya, dan tidak membahayakan. Selain itu, penggunanya harus meyakini bahwa semua itu hanyalah sebab, sedangkan penyembuh sejati adalah Allah semata. Di antara metode yang makruh adalah al-kayy (kauterisasi; menghentikan pendarahan dengan menempelkan besi panas), berdasarkan sabda Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, "

«الشفاء في ثلاث كية نار وشرطة محجم وشربة عسل وما أحب أن أكتوي»

Kesembuhan ada dalam tiga hal: menempelkan besi panas pada luka (terapi al-kayy), mengeluarkan darah (bekam), dan seteguk madu, tetapi saya tidak suka pengobatan dengan menempelkan besi panas."

dan dalam redaksi lain,"

«وأنا أنهى أمتي عن الكي »

... tetapi aku melarang umatku melakukan pengobatan dengan menempelkan besi panas."

Dari hadis ini, para ulama menyimpulkan bahwa al-kayy hukumnya makruh dan hanya boleh digunakan ketika perlu. Selain itu, pilihan menggunakan al-kayy juga harus merupakan alternatif pengobatan yang paling akhir karena mengalami kesulitan atau tidak ada lagi cara penyembuhan yang lebih baik bagi pasien. Di antara cara yang haram adalah pengobatan dengan menggunakan barang haram, misalnya khamr, daging binatang buas, atau makanan dan minuman haram lainnya. Semua itu tidak boleh dipakai untuk pengobatan meskipun masyarakat mengklaim ada khasiatnya, dan sekalipun diyakini bahwa penyembuh sejati adalah Allah dan itu hanyalah sebab. Semua itu dilarang karena banyak dalil yang mengharamkan berobat dengan benda najis dan haram. Sebab, meskipun diklaim memiliki manfaat, bahaya yang ditimbulkan lebih besar. Selain itu, tidak semua yang memiliki manfaat boleh digunakan. Ia harus memenuhi dua syarat: 
Pertama, tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu `Alaihi wa Sallam -- selaku penjelas hukum -- secara khusus melarangnya.

Kedua, mudaratnya tidak boleh lebih besar dari manfaatnya. Apabila mudaratnya lebih besar ketimbang manfaatnya, maka tidak boleh digunakan, meskipun tidak ada dalil yang melarangnya. Sebab, syariat Islam yang sempurna telah mengharamkan sesuatu yang memiliki mudarat lebih besar, misalnya khamr. Ini berdasarkan hadis sahih bahwa Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda,"

«عباد الله تداووا ولا تتداووا بحرام»


Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah! Namun, janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram."

Dalam redaksi lain,"

«إن الله لم يجعل شفاءكم فيما حرم عليكم»

Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian pada sesuatu yang Dia haramkan."

Terdapat riwayat sahih dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam


أن رجلا سأله عن الخمر يصنعها للدواء فقال له النبي صلى الله عليه وسلم ليست بدواء ولكنها داء

Bahwa seorang lelaki bertanya kepada Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam tentang hukum khamr sebagai obat. Beliau bersabda kepadanya,"Itu bukanlah obat, tetapi penyakit."

Dari keterangan di atas, Anda dapat mengetahui bahwa kriteria halal dan haram tidak didasarkan pada keyakinan masyarakat, tetapi dalil-dalil syar'i. Seseorang boleh jadi meyakini bahwa kesembuhan datang dari Allah, tetapi dia tetap melakukan pengobatan yang haram. Ini seperti sikap kaum musyrikin yang bergantung kepada sesembahan mereka dan beribadah kepada selain Allah, tetapi mengatakan bahwa itu adalah cara mereka mendekatkan diri dan mencari pertolongan kepada Allah. Semua itu hukumnya adalah haram, meskipun mereka tidak meyakini bahwa hakikat benda tersebut tidak menyembuhkan, tidak dapat mengembalikan orang yang tidak ada, atau melindungi mereka. Allah Subhanahu berfirman,

{وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ}

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah".

Allah Ta'ala juga berfirman,


{فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ} 


أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.(2) "Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar."

Masih banyak dalil yang senada dengan ini. Beberapa orang mungkin mengambil metode pengobatan yang diperbolehkan seperti ruqyah syar'iyyah, minum pil, dan memakai suntikan yang mengandung bahan-bahan yang mubah. Akan tetapi, semua itu menjadi haram apabila penggunanya meyakini bahwa pengobatan tersebutlah yang menyembuhkan, bukan Allah. Sebab, Allahlah yang memberikan kesembuhan.

Setelah mengetahui hal ini, maka apakah hukum gelang kesembuhan dapat disamakan dengan metode pengobatan yang diperbolehkan, misalnya penggunaan suntikan dan pil? Apakah dapat diserupakan dengan pengobatan makruh seperti al-kayy dan sejenisnya? Apakah dapat disetarakan dengan pengobatan yang haram, seperti menggantungkan jimat, memakai cincin, benang, dan kerang laut pada anak-anak untuk menghindari penyakit ain, gangguan jin, dan beberapa penyakit, atau seperti memakaikan kalung tali pada binatang ternak sebagaimana yang dilakukan kaum Jahiliah? Sesungguhnya Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam telah melarang mereka dan mengatakan bahwa semua itu termasuk dalam perbuatan syirik. Sebab, mereka melakukannya sambil tetap memercayai bahwa Allahlah yang memberikan manfaat dan mudarat. Dialah yang mengatur segala urusan dan Dia pula yang menghilangkan bahaya serta mendatangkan manfaat. Dalil atas hal tersebut adalah firman Allah Ta'ala,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam untuk bertanya kepada kaum musyrikin tentang hal-hal di atas. Kemudian, Allah menyampaikan bahwa mereka akan mengatakan bahwa hanya Allahlah yang melakukan semuanya. Oleh karena itu, Allah berfirman,

 {فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ}

Maka katakanlah, "Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" Artinya: Mengapa kalian tidak bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan kemusyrikan jika kalian mengetahui bahwa Allah Subhanah yang menjalankan dan mengatur semua urusan?


Allah berfirman, Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka,"

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab, "Allah". Katakanlah, "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah, "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nyalah orang-orang yang berserah diri bertawakkal

Ayat-ayat Alquran yang memiliki kandungan makna seperti ini jumlahnya banyak sekali. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin percaya bahwa Allahlah yang Maha Memberi manfaat dan mudarat. Allah yang menghilangkan mudarat dan mendatangkan manfaat. Allah yang menghidupkan, mematikan, dan mengatur segala urusan. Namun, mereka tetap beribadah kepada sesembahan mereka berupa berhala, pohon, para nabi, para wali, dan malaikat sebagai perantara dan penolong (untuk menyampaikan kepada-Nya). Demikian pula dengan tindakan mereka menggantungkan jimat, kalung tali, cincin, dan benang pada anak maupun binatang ternak sebagai sarana penyembuhan, mereka tidak meyakini bahwa semua itu dapat menyembuhkan. Namun, lantaran semua metode itu terlarang, sementara hati mereka sudah terikat dan cenderung menggunakannya hingga mengabaikan aturan Allah, maka Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam melarangnya, karena dapat mengantarkan kepada perbuatan syirik yang lebih besar dan kerusakan yang dahsyat. Inilah mengapa banyak terjadi perbedaan pendapat ulama terkait pembahasan masalah gelang kesembuhan; apakah masuk dalam kategori pengobatan haram? Saya telah membahasnya dalam surat jawaban yang saya kirimkan salinannya kepada Anda bahwa gelang kesembuhan itu lebih tepat dimasukkan dalam kategori haram karena serupa dengan cincin bertuah, jimat, dan kalung tali yang dilarang oleh syariat. Orang-orang yang menggunakannya, baik kaum Jahiliah maupun orang-orang yang mengikuti mereka, menyangka bahwa di dalamnya terdapat manfaat yang diciptakan oleh Allah, padahal sesungguhnya Allahlah yang memberi manfaat dan mudarat. Allah telah menciptakan berbagai jenis manfaat dan mudarat dalam berbagai ciptaan-Nya, dalam kadar yang berbeda-beda. Itulah sebabnya masyarakat seringkali terjerumus dalam berbagai cara pengobatan, baik yang halal maupun yang haram, dan mereka tidak akan dapat membedakannya kecuali melalui penjelasan syariat yang suci. Artinya, segala metode pengobatan yang masuk dalam kategori terlarang itu hukumnya adalah haram, sekalipun diklaim memiliki manfaat. Di sisi lain, metode pengobatan yang diperbolehkan hukumnya adalah halal meskipun mengandung efek samping, asalkan manfaatnya lebih besar. Semua yang dilarang oleh syariat wajib ditinggalkan, misalnya khamr dan daging binatang buas. Kita tahu bahwa manusia menganggap gelang kesembuhan sudah seperti jimat dan benda bertuah, dan keyakinan itu semakin meningkat seiring bertambahnya hari dan tahun. Tidak seperti pil yang dikonsumsi sementara lalu berhenti setelah sembuh atau suntikan yang hanya sesekali dipakai, gelang kesembuhan lebih menyerupai cincin yang dijelaskan dalam hadis Imran bin Hushain, yang saya sertakan dalam surat jawaban tersebut. Ia juga lebih mirip dengan jimat, kerang, dan kalung tali. Oleh karena itu, Anda dapat mengetahui pendapat saya dan pandangan para ulama yang sama-sama mengatakan bahwa gelang kesembuhan haram digunakan. Wallahu A'lam.

Faktor lain yang menegaskan keharamannya adalah: penggunaan gelang seperti ini dapat membuat masyarakat senang memakai barang-barang produksi barat yang diklaim memiliki khasiat. Ini dapat membawa bencana dan bahaya yang besar, serta membuat masyarakat mengabaikan ajaran syariat yang murni tentang penjelasan jenis-jenis hukum metode penyembuhan dan kewajiban untuk meninggalkan sarana yang diharamkan. Saya meminta kepada Allah untuk memberikan taufik kepada Anda, kami, dan segenap kaum muslimin untuk melakukan hal yang diridai-Nya. Saya juga memohon kepada Allah agar memberikan kita pemahaman dan keteguhan dalam agama, serta melindungi kita dan kaum muslimin dari kesesatan fitnah. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Wassalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Majmu' Fatawa Ibnu Baz 1/201-203

© 2018 - Www.SalamDakwah.Com