SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Meminta Arahan


Ikhwan (Sumbar)
4 days ago on Riba

As. Terkait dengan pertanyaan yg tadi ustad. Jika saya berhasil meminta untuk tidak membayar bunganya dan hanya pokoknya saja ustad. Gmn ustad apakah boleh seperti itu?

Redaksi salamdakwah.com
4 days ago

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Syaikh Utsaimin menerangkan bahwa orang yang sudah terlanjur terjerat riba seharusnya bersegera untuk berhutang kepada saudara atau kawannya demi melunasi hutang dari bank sehingga riba tidak terjadi lagi. Apabila tidak memungkinkan maka kalau bisa ia menghalangi bank untuk mendapatkan bunganya, dan itu agak susah. Lihat fatwa syaikh Utsaimin dalam bentuk audio yang telah dirubah dalam bentuk tulisan di http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=112033 

Apabila tidak ada yang menghutangi anda uang untuk segera berlepas diri dari riba maka anda bisa menjual barang-barang yang dibeli dari hasil riba kemudian membayarkannya ke bank (ini bila uang riba itu digunakan untuk membeli barang tertentu misalnya membeli barang untuk modal usaha). Intinya berusaha maksimal dengan cara yang halal supaya segera terlepas darijeratan riba.

Semakin lama anda terikat dengan riba (padahal ada jalan untuk berlepas diri  bila berusaha maksimal) semakin lama anda terlibat dengan dosa. dan apabila sampai meninggal sebelum lepas dari riba maka dikhwatirkan meninggal dunia dalam keadaan  berdosa besar. Diantara dosanya adalah disebutkan dalam salah satu riwayat 



عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الرِّبَا اثْنَانِ وَسَبْعُونَ بَابًا، أَدْنَاهَا مِثْلُ إِتْيَانِ الرَّجُلِ أُمَّهُ، وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا اسْتِطَالَةُ الرَّجُلِ فِي عِرْضِ أَخِيهِ


Dari al-Barra' bin 'Azib, dia berkata," Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan darinya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.”( HR. Ath-Thabrani di al-Mu'jam al-Ausath 7/158 no.7151. lihat As-Silsilah Ash-Shahihah oleh al-Albani no hadits 1871)   

Apabila memang hutang sudah terlunasi sebelumnya maka harta yang diperoleh dari hasil  riba itu tidak apa-apa dimanfaatkan. Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama yang tergabung dalam Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi: Saya beritahukan kepada Anda bahwa saya mengambil pinjaman dari salah satu bank yang tidak termasuk Bank Pembangunan Real Estate sebesar tiga puluh ribu riyal dan bank memberikan kepada saya sebesar dua puluh delapan ribu. Kemudian pinjaman ini saya gunakan untuk membangun rumah saya. Setelah rumah selesai dibangun dan bukan sebelum pembangunannya saya bertanya tentang masalah ini dan jawabannya adalah tidak boleh karena mengambil pinjaman dari bank yang bukan Bank Pembangunan Real Estate tidak diperbolehkan. Kami mohon penjelasannya, semoga Allah memberikan pemahaman kepada Anda sekalian. Apakah saya (mesti) menghancurkan rumah yang kami tempati sekarang yang dibangun dari uang yang yang saya ambil bukan dari Bank Pembangunan Real Estate dan uang ini adalah riba? Saya sangat menyesali perbuatan saya dan saya tidak mengetahui hal itu kecuali setelah pembangunan rumah selesai. Dan apakah saya menyerahkan urusan saya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mohon penjelasan tentang hal tersebut dan apa yang saya lakukan dalam hal ini?

Mereka menjawab: Jika kenyataannya seperti yang Anda sebutkan, maka pinjaman yang Anda dapatkan dengan cara seperti ini adalah haram karena ada unsur riba. Dan Anda harus bertaubat dan mohon ampun atas hal ini serta menyesali apa yang telah Anda lakukan dan bertekad untuk tidak mengulangi hal yang sama. Adapun rumah yang telah Anda bangun tidak perlu dihancurkan akan tetapi gunakanlah untuk tempat tinggal atau hal lainnya. Kami berdoa semoga Allah mengampuni kesalahan Anda.Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Abdullah bin Qu'ud (Anggota)
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua Komite)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 13/411 Fatwa Nomor 6941

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com