SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tidak Mendapat Restu Orangtua Untuk Menikahi Wanita Tertentu


Ikhwan (Jakarta)
1 month ago on Keluarga

Assalammu’alaikum wr wb Ustadz, izinkan saya bertanya. Saya laki2 usia 27th, alhamdulillah sudah memiliki pekerjaan, dan insyaAllah sudah mampu menafkahi. Saat ini saya sedang memiliki hubungan dekat dengan seorang wanita yang masih belum berhijab dan usianya lebih muda 1 tahun dari saya. Selama yang saya tahu, wanita ini selalu berpakaian sopan dan juga selalu menjaga solatnya. Wanita ini seorang yatim dan berasal dari keluarga dengan latar belakang agama yang baik, Ibu nya mengaji dan mengenakan hijab. Namun, ketika ditanya alasan belum berhijab adalah karena memang masih mempersiapkan diri dan belajar untuk berhijab. Selain itu, keluarga wanita tersebut juga menegaskan bahwa jilbab itu wajib, namun tidak boleh dipaksakan caranya. Karena hidayah datangnya dari Allah, dan jangan sampai niat berhijab karena perkara lain bukan karena Allah. Ustadz saya memiliki niatan untuk melamar wanita ini, namun terganjal restu orangtua saya. Orangtua saya mensyaratkan wanita ini harus berhijab dulu sebelum menikah. Namun, menurut saya, memaksa orang berhijab kalau bukan dari diri sendiri akan memiliki konsekuensi yang kurang baik seperti diatas. Sebagai tambahan, wanita yang saya ingin lamar ini tidak menolak untuk berhijab, namun meminta kesabaran untuk belajar dan berproses dulu sebelum benar2 siap dan akan istiqomah mengenakan hijab. Orangtua saya sebenarnya tidak melarang kalau saya ingin tetap melamar wanita tersebut, karena secara islam sah bagi laki2 untuk melamar wanita walaupun tanpa wali dari pihak laki2. Orangtua saya beralasan bahwa apabila merestui pernikahan saya dengan wanita yang belum berhijab, orangtua saya kelak di akhirat akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah karena tidak bisa mendidik saya untuk memilih calon istri yang sudah berhijab. Bagaimana pendapat ustadz tentang hal tersebut? Apakah salah ustadz kalau menikah sambil belajar agama bersama2? Bukankah menikah itu menyempurnakan separuh dari agama ustadz? Terimakasih. Wassalammu’alaikum wr wb
Redaksi salamdakwah.com
1 month ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apa yang diperbuat oleh wanita yang dekat dengan penanya tersebut adalah kemungkaran, sebab, ia telah membiarkan auratnya terbuka. Ulama' bersepakat bahwa rambut wanita adalah aurat yang harus ditutupi di depan laki-laki yang bukan mahram. Dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 31 Allah ta'ala menyinggung masalah tersebut:


وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. An-Nur ayat 31

Firman Allah ta'ala di atas menunjukkan bahwa rambut adalah aurat yang wajib ditutupi dari dua sisi:
1. Rambut termasuk perhiasan wanita, dan perhiasan wanita tidak boleh ditampakkan kepada selain orang-orag tertentu dari keluarganya. Tidak ada seorang pun ulama' yang menggolongkan rambut ke dalam perhiasan yang boleh ditampakkan di depan umum.

2. Allah ta'ala memerintahkan muslimat untuk menutupkan kain kerudung sampai dada mereka, dan ini secara tidak langsung menunjukkan kewajiban menutupi rambut wanita dari pandangan laki-laki yang bukan mahram.

Bisa saja seorang wanita berdalih bahwa ia masih "mempersiapkan dirinya" untuk menjauhi larangan Allah ta'ala namun apakah dia bisa menjamin bahwa malaikat maut menunggu dia selesai "mempersiapkan dirinya" kemudian baru mencabut nyawanya sehingga dia meninggal dalam keadaan tidak melanggar aturan Allah ta'ala. Padahal faktanya malaikat maut datang mencabut nyawa seorang hamba berdasarkan perintah Allah ta'ala dan bukan menunggu seseorang menunggu hidayah atau menunggu seseorang menerapkan syariat Allah dalam kehidupannya.

Di sisi lain ketika penanya sampaikan akan "menikah sambil belajar agama bersama-sama", kami pribadi tidak yakin bahwa itu pasti akan mudah terwujud mengingat wanita itu telah hidup bertahun-tahun  tanpa hijab padahal keluarganya berhijab. Di mana biasanya seseorang akan cukup terpengaruh oleh keluarganya. Oleh karena itu apa yang dilakukan oleh orang tua penanya merupakan kebaikan yang perlu dihormati.

Bahkan dalam salah satu fatwa disebutkan bahwa bila seorang wanita tidak berbusana syar'i (setelah diarahkan dengan maksimal oleh suaminya) maka suami boleh menceraikannya meskipun si istri mengakui dirinya menyelisihi syariat. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Apa hukum Islam tentang laki-laki yang menikah dengan seorang perempuan yang tidak memakai pakaian Islami: apakah dia menanggung dosa atau tidak karena perempuannya (tetap) bertabarruj (memperlihatkan keindahannya/auratnya kepada selain suaminya) meskipun dia telah menasihati dan memerintahkannya untuk memakai pakaian Islami. Apakah dia boleh menceraikannya karena dia tidak memakai pakaian tersebut meskipun tetap mengakuinya dan mengatakan bahwa itu wajib? 

 

Mereka menjawab: Suami harus terus menasihati dan mengarahkannya. Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq kepada istrinya. Jika dia telah berusaha untuk menasihatinya, maka dia tidak berdosa. Jika istri tetap bersikukuh dalam kemungkaran, maka dia wajib menceraikannya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. 

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa 

Abdullah bin Qu'ud (Anggota)

Abdullah bin Ghadyan (Anggota) 

Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua) 

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua )

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 17/182. Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor: 4245 

Kami menyarankan kepada penanya untuk menjauhi hubungan "dekat" dengan wanita yang bukan mahram dan wanita yang belum sah menjadi istrinya mengingat itu terlarang dalam syariat, termasuk wanita yang telah diceritakan dalam pertanyaan. Sebagai gantinya, dalam rangka mendidik wanita tersebut, penanya bisa mengarahkannya ke komunitas muslimah yang komitmen terhadap syariat. Penanya juga bisa mengarahkan wanita itu untuk mengikuti kajian yang benar, baik itu online atau offline. Penanya juga bisa mengarahkan wanita itu membaca artikel-artikel online yang sesuai dengan al-Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Apabila wanita itu tetap tidak berhijab dan tidak mau menambah khazanah keilmuan dia maka silahkan mencari wanita lain yang sholehah sebagai pengganti.   

Wallahu ta'ala a'lam

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com