SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

mengambil bagian dari nafkah anak


Akhwat (Jakarta)
1 year ago on Mu'ammalah

Assalamualaikum ustadz, apakah seorang janda boleh mengambil sebagian dari nafkah anak yg diberikan oleh mantan suami sebagai upah mengurus anak tanpa sepengetahuan mantan suaminya?
Redaksi salamdakwah.com
1 year ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Berikut ini terjemahan dari isi kitab Mukhtashor al-Fiqhi al-Islami yang disusun oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri 

Hadhonah (hak asuh)

- Hadhonah: Adalah penjagaan terhadap anak kecil atau seorang idiot dari segala sesuatu yang mengganggunya, serta mendidik dan mengurusinya dengan pantas sehingga dia bisa mengurus dirinya sendiri.

- Penguasaaan terhadap seorang anak ada dua macam:

Pertama adalah apa yang diutamakan ayah terhadap ibu, yaitu berhubungan dengan harta dan nikah.

Kedua adalah apa yang diutamakan ibu terhadap ayah, yaitu permasalahan hadhonah dan rodho' (menyusui).

- Yang paling berhak terkait hak asuh:

Hadhonah termasuk dari kebaikan Islam dan perhatiannya terhadap anak-anak kecil, apabila kedua ayah bercerai setelah dikaruniai anak, maka yang paling berhak untuk mengurusnya adalah ibu; karena ibu lebih lembut terhadap anak kecil, juga lebih sabar dan sayang terhadapnya, dia lebih memahami cara mentarbiah, menggendong serta menidurkannya. Berikutnya adalah ibu isteri terdekat kemudian saudari isteri (bibi) kemudian ayah, kemudian ibu ayah kemudian kakek kemudian ibunya, kemudian saudari kandung bayi tersebut, kemudian saudarinya satu ibu kemudian saudari satu ayah kemudian saudari ayah (bibi) dan seterusnya.

- Apabila orang yang berhak untuk hadhonah (mengasuh) menolak, atau dia seorang yang tidak pantas untuk mengasuh, atau karena tidak pantasnya anak tersebut pindah hak asuh kepadanya, hendaklah dia diberikan kepada yang menjadi urutan berikutnya. Apabila ibunya telah menikah kembali, maka hak asuh akan terjatuh darinya dan berpindah kepada urutan setelahnya, kecuali jika suami barunya ridho kalau isterinya tersebut tetap mengasuh anaknya.

- Apabila bayi telah berumur tujuh tahun dan berakal, dia diberi pilihan untuk memilih tinggal bersama salah satu orang tuanya, dia harus tinggal bersama orang yang dipilihnya. Hak asuh ini tidak boleh diberikan kepada dia yang tidak pantas ataupun tidak bisa mengasuh, sebagaimana tidak bolehnya seorang kafir mengasuh seorang Muslim.

- Ayah seorang putri yang telah berumur tujuh tahun lebih berhak atasnya, jika terbukti maslahat terhadap putri tersebut, dan juga tidak berpengaruh apa-apa terhadap ibunya, kalau tidak demikian maka hak asuh akan kembali kepada ibunya.

- Setelah dewasa, anak laki-laki boleh memilih tinggal bersama siapa saja, sedangkan wanita bersama ayahnya sampai dia menyerahkannya kepada suaminya, akan tetapi ayah tersebut tidak boleh melarangnya untuk mengunjungi ibunya ataupun melarang ibu yang akan mengunjungi putrinya. Selesai

 

Terkait nafkah untuk mantan istri 

 

Wanita yang dicerai dengan bain (tidak bisa rujuk lagi) tidak ada nafkah baginya juga tidak ada tempat tinggal kecuali kalau dia hamil. Dalil akan hal itu adalah apa yang diriwayatkan Muslim, (1480) dari Sya’bi berkata,

 

دَخَلْتُ عَلَى فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ فَسَأَلْتُهَا عَنْ قَضَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا ، فَقَالَتْ : طَلَّقَهَا زَوْجُهَا الْبَتَّةَ ، فَقَالَتْ : فَخَاصَمْتُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السُّكْنَى وَالنَّفَقَةِ ، قَالَتْ : فَلَمْ يَجْعَلْ لِي سُكْنَى وَلَا نَفَقَةً ، وَأَمَرَنِي أَنْ أَعْتَدَّ فِي بَيْتِ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ

 

“Saya masuk ke (rumah) Fatimah binti Qais, saya bertanya tentang keputusan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam atasnya. Maka beliau (Fatimah) menjawab, “Diceraikan oleh suaminya dengan perceraian yang tidak bisa rujuk lagi (Bain). Maka beliau mengatakan, “Maka saya mengadukan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam terkait tempat tinggal dan nafkah. Dia (Fatimah) mengatakan, “Beliau tidak menjadikan untukku tempat tinggal dan nafkah. Dan memerintahkan kepadaku menyelesaikan iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum.

 

Dalam riwayat Muslim juga, berkata (Fatimah), “Saya ceritakan hal itu kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Tidak ada nafkah bagi anda juga tidak ada tempat tinggal. Dalam redaksi lain untuk Abu Dawud, “Tidak ada nafkah untuk anda kecuali anda dalam kondisi hamil.

 

 

Kalau dia menceraikan istrinya dengan perceraian pertama atau kedua dan tidak rujuk (kembali) sampai habis masa iddah dan berpisah. Maka dia membunyai hak nafkah di sela-sela masa iddah. Sementara kalau dicerai bain seperti perceraian ketiga, maka tidak ada nafkah dan tempat tinggal bagi (mantan istrinya). Sebagaimana hadits Fatimah binti Qois tadi.

 

 

Kalau istri yang diceraikan itu memelihara (anaknya). Maka para ulama fikih berbeda pendapat terkait dengan tempat tinggalnya. Apakah mantan suaminya (ayah anak-anaknya) diharuskan atau tidak diharuskan. Apakah diharuskan menafkahi kepadanya atau bersama-sama (memberi nafkahnya). Mantan suami membayar gaji ke mantan istrinya sesuai ijtihad hakim atau kalau (mantan istrinya) mendapatkan tempat tinggal, cukup itu saja? Kalau mantan istrinya tidak mempunyai tempat tinggal, seorang ayah (mantas suaminya) diharuskan mencarikan tempat tinggalnya? Pendapat terakhir ini adalah pendapat yang bagus. 

Silahkan melihat ‘Hasyiyah Ibnu Abidin, (3/562) Syarkh Khursyi, (4/218) Mausu’ah Fiqhiyah, (17/313).

 

 

Kalau wanita yang diceraikan itu yang memelihara anak-anaknya, dia diperbolehkan meminta upah pemeliharaan meskipun telah ada dana bantuan untuk pemeliharaan. Ini adalah mazhab Hanabilah. Dalam ‘Muntaha Irodat’ dikatakan, “Ibunya lebih utama meskipun dengan digaji seperti menyusui.” Silahkan melihat ‘Syarkh Muntaha Irodat, (3//249).

Sementara mazhab Malikiyah, “Bahwa dia tidak ada upah atas pemeliharaan. Sementara menurut Hanafiyah dan Syafiiyyah ada perincian dalam permasalahan ini. Silahkan melihat ‘Mausu’ah Fiqhiyah, (17/311).

Apabila janda tersebut membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sedangkan mantan suami hanya mau memberi nafkah anaknya maka janda itu bisa mengadukan masalah ini ke pengadilan. Apabila mantan suami itu tetap bandel dan tidak mau memberikan upah mengasuh ke mantan istrinya supaya bisa tetap maksimal kala mengasuh maka boleh bagi janda itu untuk mengambil uang secukupnya dari kiriman mantan suaminya meski suami tidak tahu 

maka tidak apa mengamnil sebagian uang nafkah anak untuk memenuhi kebutuhan pokoknya

 

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com