SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tidak Jadi Berkurban Karena Khawatir Riya


Akhwat (Bandung)
3 months ago on Aqidah

Bismillah.. Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh Ustadz, ijin bertanya. Jika seseorang sudah berniat untuk melakukan qurban dari uangnya sendiri, namun tidak jadi dilaksanakan alasan pertamanya karena orang tua fulanah yg rutin melaksanakan qurban juga tetap ingin berqurban, dimana fulanah ini beranggapan bahwa orang tuanya sudah mewakili satu keluarga dalam berqurban jadi ia tidak perlu lagi melaksanakan qurban dari uangnya sendiri. Alasan kedua, karena fulanah khawatir dianggap riya oleh tetangganya jika dalam satu rumah ada 2 anggota keluarga yg berqurban. Mohon penjelasannya ustadz. Jazakallahu khayran
Redaksi salamdakwah.com
3 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apabila seseorang memiliki kemampuan dan kecukupan harta untuk berkurban maka ia disyariatkan untuk berkurban. Rasulullah shallallahu aialaihi wa sallam bersabda

من كان له سَعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا 

“Barang siapa yang mempunyai keluasan rizki, namun tidak berkurban, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ibnu Majah 3123)

Apabila masing-masing anggota keluarga punya keleluasaan rizki maka masing-masing disyariatkan untuk berkurban. Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda:  

إِنَّ عَلَى أَهْلِ كُلِّ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أَضْحَاةً

 

“Sesungguhnya bagi setiap anggota kelurga sembelihan kurban setiap tahunnya”. (HR. Ahmad 20207)

Merupakan kesalahan bila seseorang meninggalkan amal baik gara-gara takut riya'. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:  Ada orang yang sedang menunaikan salat (wajib). Selepas salat, ternyata dia melihat salah seorang gurunya di sampingnya. Dia pun merasa takut berbuat riya', sehingga tidak mengerjakan salat sunnah. Apakah ini boleh? Apakah dia berdosa? Apakah tindakannya itu benar?

Mereka menjawab:Hukum yang paling ringan untuk perbuatan itu adalah makruh. Sebagian ulama menganggapnya termasuk perbuatan riya'. Sebab, jika ada orang yang telah bertekad menunaikan ibadah, tetapi kemudian tidak jadi dia lakukan lantaran khawatir dilihat oleh manusia, maka sesungguhnya dialah yang sedang berbuat riya' karena telah meninggalkan suatu perbuatan demi manusia. Tidak melakukan suatu perbuatan hanya karena takut dianggap riya' berarti masuk dalam jeratan tali-tali setan. Karena apabila seseorang melakukannya, niscaya setan akan membisikkan pikiran-pikiran dan perasaan waswas (bisikan) dalam setiap amalnya, hingga pada akhirnya orang tersebut meninggalkan seluruh bentuk ibadah.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa 
Bakar Abu Zaid (Anggota)
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh (Anggota) 
Shalih al-Fawzan (Anggota) 
Abdullah bin Ghadyan (Anggota) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 1/362 pertanyaan ketiga

Orang yang diserang was-was takut riya' dalam hatinya perlu melawan perasaan itu. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Saya berniat mengerjakan salat, puasa, dan membaca Alquran. Saya juga berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan perintah Alquran dan Sunah. Akan tetapi, timbul perasaan aneh di dalam hati saya yang menegaskan bahwa sesungguhnya saya melakukan itu semua hanya karena ingin dikatakan sebagai orang saleh. Perasaan itu terkadang membuat saya meninggalkan banyak kebaikan, hanya karena takut riya'. Bagaimana cara mengatasinya?

Mereka menjawab: Anda harus melaksanakan semua ajaran Islam dalam rangka menaati perintah Allah dan mengharapkan pahala dari-Nya. Anda tidak perlu menghiraukan bisikan-bisikan yang mengatakan bahwa Anda beramal karena riya'. Anda harus melawan perasaan itu sekuat tenaga.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota) 
Abdullah bin Ghadyan (Anggota) 
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua Komite) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 2/196 Pertanyaan Kedua Belas dari Fatwa Nomor:8691

Wallahu ta'ala a'lam

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com