SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tidak sempat membayar utang


Akhwat
4 months ago on Mu'ammalah

Assalamu‘alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh Pertanyaan 1: Apakah hukumnya jika kita ingin membayar utang kita pada seseorang namun orang yg hendak kita kembalikan pinjamannya ternyata Sudah meninggal. lalu Bagaimanakah cara untuk kita melunasinya? Pertanyaan 2: Jika orang yang meminjam uang meninggal dunia dalam kondisi dia belum melunasinya, namun dia Sudah berkeinginan hanya saja tidak sempat apakah dia tetap berdosa? Pertanyaan 3: Andai kata jika kita meminjam uang dari seseorang, lalu org yang meminjamkan uangnya menghalalkan utang tersebut, apakah kewajiban orang meminjam tadi gugur? Syukron wa Jazaakallahu khairan
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Jawaban pertama: 

Ada perinciannya dalam masalah ini. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Seseorang memiliki utang dan ingin melunasinya. Namun dia tidak menemukan orang-orang yang memberinya piutang karena ada yang sudah meninggal, pindah ke luar negeri dan belum kembali, ada pula yang lupa serta tidak mengenalnya. Bagaimana hukumnya?

Mereka menjawab: Hak setiap orang wajib diberikan kepada mereka. Oleh karena itu, jika seseorang memiliki utang, maka dia wajib berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikannya kepada orang yang mengutangi atau kepada ahli warisnya jika telah meninggal dunia. Jika dia tidak bisa mengembalikannya kepada ahli waris atau pemiliknya yang telah pindah ke negara lain tanpa diketahui lokasi dan alamatnya, atau lupa namanya sama sekali, maka hendaklah dia menyedekahkan utang yang menjadi tanggungannya itu kepada fakir miskin atas nama pemilik piutang. Seandainya pemberi piutang itu suatu saat datang, maka hendaklah dia menceritakan semuanya. Jika pemiliknya rela, maka masalah selesai. Namun jika tidak, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya. Insya Allah, pahala sedekah yang telah dikeluarkan itu menjadi miliknya. Sebab, dia tidak terbebas dari tanggungannya tanpa keridaan dari pemiliknya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota) 
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua Komite) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 13/170 Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor: 2235

Mereka juga pernah ditanya: Saudara saya meninggal dan saya berhutang kepadanya sebanyak 30.000 dirham Maroko. Perlu diketahui bahwa dia tidak mempunyai anak namun memiliki seorang istri, ibu, ayah, tiga orang saudara perempuan, dan seorang saudara laki-laki. Saya adalah saudara laki-laki kedua. Saya ingin melunasi hutang, maka apa yang harus saya lakukan?
Mereka menjawab: Anda harus melunasi hutang Anda kepada ahli waris saudara Anda, mereka adalah istri, ibu, dan ayahnya, jika realitasnya sebagaimana yang Anda sebutkan dalam pertanyaan. Saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa karena mereka terhalang oleh ayah mereka. Setelah melihat susunan ahli warisnya, maka diperoleh angka pembagi untuk harta warisan tersebut, yaitu dua belas. Dengan demikian, istri mendapatkan tiga, karena bagiannya berdasarkan hukum syariat waris adalah seperempat. Ibu mendapatkan dua, karena bagian warisnya adalah seperenam. Sedangkan ayah mendapatkan tujuh karena bagiannya sesuai ketetapan syariat adalah 'ashabah (sisa pembagian).
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa    
Abdullah bin Ghadyan (Anggota) 
Bakar Abu Zaid (Anggota) 
Shalih al-Fawzan (Anggota) 
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh (Wakil Ketua) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 14/77 Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor:20241

Jawaban kedua:
Masalah ini ada rinciannya, berikut ini sebagian rinciannya:
- Apabila dia sudah berazam kuat untuk melunasi, dan dia tidak lalai namun dia belum punya uang karena dia fakir dan tidak punya harta peninggalan maka diharapkan dia tidak terkena hadits yang menyebutkan bahwa jiwanya masih menggantung hingga dilunasi hutangnya.

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Apakah ruh orang yang meninggal dunia dan punya hutang yang tidak dapat dilunasi karena kefakirannya itu tergadaikan dan menggantung?
Mereka menjawab: Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, dari Rasulullah Shalallahu `Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda,
 

«نفس المؤمن معلقة بدينه حتى يقضى عنه»

 
Jiwa seorang mukmin akan menggantung karena hutangnya, sampai dilunasi.
 
Hadis ini ditujukan kepada orang yang meninggalkan harta yang dapat dipakai melunasi hutangnya. Sedangkan orang yang tidak punya harta untuk membayarnya, harapannya dia tidak terancam oleh hadis ini; sesuai firman Allah Subhanahu wa Ta`ala,
 

{لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا}

 
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
  

{وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ}

 
dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan
 
Demikian juga hadis ini tidak mencakup orang yang telah berniat baik untuk melunasi hutangnya ketika meminjam, namun dia meninggal dan belum dapat melunasinya; sesuai hadis yang diriwayatkan Bukhari rahimahullah dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda,"
 

«من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدى الله عنه، ومن أخذها يريد إتلافها أتلفه الله»


Barangsiapa meminjam harta orang lain dengan maksud untuk mengembalikannya maka Allah akan melunasinya, barangsiapa yang meminjam dengan niat tidak akan mengembalikannya, maka Allah akan memusnahkan harta tersebut."
 
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota) 
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua Komite) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 8/345 Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor2235
 
- Meskipun dia tidak memiliki peninggalan tetapi kaum muslimin berusaha untuk melunasi hutangnya baik itu dari baitul mal atau dari zakat. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:"Seseorang lelaki meninggal dunia dan mempunyai utang, tapi dia tidak meninggalkan harta sedikit pun. Apakah zakat boleh dikeluarkan untuk melunasi utangnya?
 
Mereka menjawab: Pada dasarnya di dalam syariat Islam, orang Islam yang taat beragama jika meninggal dunia dan mempunyai utang yang digunakannya untuk hal-hal yang dibolehkan dalam agama, dan dia tidak meninggalkan harta untuk melunasi utangnya, maka Baitulmal kaum Muslimin dianjurkan untuk melunasinya. Dalilnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan selain mereka berdua rahimahumullah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda,   "Tiada seorang Mukmin pun kecuali aku lebih berhak padanya di dunia dan akhirat, bacalah firman Allah `Azza wa Jalla (yang artinya),   Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiriMaka Mukmin manapun yang mati dan meninggalkan harta, ahli warisnya yang mewarisi hartanya. Barangsiapa mati meninggalkan utang atau barang yang hilang maka hendaklah dia mendatangiku karena aku adalah tuannya."
Jika utangnya tidak memungkinkan untuk dibayar dari harta Baitulmal, maka dibolehkan membayarnya dari harta zakat jika yang membayar utang itu bukan orang yang menuntut. Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitabnya "Majmu` al-Fatawa" hal 79-80 juz 25, "
 
Adapun utang yang masih ada dalam tanggungan mayat, maka utangnya boleh dilunasi dari harta zakat menurut salah satu pendapat para ulama". Pendapat tersebut adalah salah satu riwayat dari Ahmad. Sebab, Allah Ta`ala berfirman,   Dan orang-orang yang berhutang   
Allah Ta`ala tidak berfirman, "Dan untuk orang-orang yang berutang." Orang yang berutang tidak disyaratkan memiliki harta. Oleh karena itu, utang boleh dibayar oleh orang lain dan kewajiban untuk melunasinya dapat diambil alih oleh ahli waris dan bukan ahli waris. Akan tetapi orang yang memiliki utang tidak boleh diberi untuk melunasi utangnya.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa   
Abdullah bin Qu'ud (Anggota) 
Abdullah bin Ghadyan (Anggota) 
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua Komite) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 10/34 Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor 1788
 
- Apabila seseorang punya niat baik mengembalikan namun belum sempat mengembalikan dan dia meninggal sedangkan dia punya harta peninggalan maka harta peninggalan itu digunakan untuk membayar hutang tersebut. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:Seorang pegawai gajinya tidak cukup menutupi kebutuhannya, lalu dia berhutang dan dia berniat untuk mengembalikannya, namun belum sempat dia melunasi utangnya dia sudah meninggal. Apa yang harus dilakukan?
 
Mereka menjawab: Utang orang yang meninggal dunia dan dia belum membayar utangnya harus dilunasi dari harta warisannya.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
  
Abdullah bin Ghadyan (Anggota) 
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua) 
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/213 Fatwa nomor 11480
 
- Apabila seseorang sudah meninggal dan meninggalkan harta warisan namun ternyata hutang-hutang dia tidak dibayar maka jiwanya akan menggantung hingga dibayar hutangnya. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Sebagaimana Anda ketahui, pemerintah -dengan pertolongan Allah- memberikan pinjaman untuk pembangunan atau renovasi perumahan. Konsekuensinya, hutang pinjaman kepada seseorang ini baru terlunasi setelah 25 tahun lamanya. Kita tahu, jika orang ini meninggal dunia, hutang pinjaman itu terus menjadi tanggung jawabnya. Bagaimana sebenarnya hukum hutang ini, apakah seperti halnya hutang pribadi ataukah berlaku hukum khusus?
 
Mereka menjawab: Hutang pinjaman yang belum dilunasi merupakan hutang yang mesti dibayar menggunakan harta warisan, layaknya hutang-hutang yang lain, sesuai jadwal pembayarannya, berdasarkan sifat umum sabda Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam,  
 

«نفس المؤمن معلقة بدينه حتى يقضى عنه»

 
Jiwa seorang mukmin akan menggantung karena hutangnya, sampai dilunasi.
 
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Ghadyan (Anggota) 
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua Komite) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 8/346 Pertanyaan Keenam dari Fatwa Nomor 6431
 
Jawaban ketiga: 
Apabila sudah direlakan oleh orang yang memberikan hutang maka beban hutang telah tiada.
Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Saudara lelaki saya meninggal dunia sekitar delapan tahun lalu karena kecelakaan mobil. Dia punya utang dan saya telah melunasi hutangnya. Dia berutang kepada seseorang dan saya telah membayarnya namun masih tersisa sedikit, dan almarhum mempunyai tenggang waktu untuk melunasinya, namun saya belum bisa melunasinya hingga sekarang. Apakah saudara saya akan ditimpa azab karena dia terlambat membayar utang? Mohon saya diberi penjelasan. Semoga Allah membalasi Anda dengan kebaikan.

Mereka menjawab: Hak manusia satu sama lain didasarkan kepada pertentangan. Oleh karena itu, Anda wajib segera melunasi sisa hutang saudara Anda, kecuali yang berpiutang bersedia merelakan. Upaya Anda dalam melunasi hutang saudara Anda adalah amal terpuji dan disyukuri, dan amal ini termasuk amal berbuat baik dan menyambung silaturahim. Semoga Allah menyayangi Anda dan menolong Anda untuk melunasi hutang yang tersisa.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Ghadyan (Anggota) 
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/214 Fatwa nomor 12648
 
Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2018 - Www.SalamDakwah.Com