SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Mengabaikan Kemungkaran dan Penjelasan Ulama'


Akhwat
4 months ago on Aqidah

Assalamu‘alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh Apakah benar bahwasanya jika seorang Muslim melihat kemungkaran dari saudaranya sendiri (org Islam) lalu dia membiarkannya maka dia berdosa, kecuali dengan dia mencegah dengan lisan, perbuatan atau hati. Walaupun (mencegah) dengan hati adalah selemah-lemah Iman? Syukron Jazaakallahu khairan
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

 Seseorang yang mengetahui adanya kemungkaran maka dia harus mengingkarinya sesuai kemampuan dia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ


Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu maka hendaknya dia ubah dengan lisannya. Jika tidak mampu maka hendaknya dia ubah dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah”. HR. Muslim No. 49

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: 

Pertanyaan: Apa makna hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya). Jika tidak sanggup, maka hendaknya dengan lisannya. Jika tidak sanggup, maka hendaknya dengan hatinya dan itu adalah iman yang paling lemah." Apa makna mengubah dengan hati dan apakah orang yang mengubahnya diberi pahala?

Mereka menjawab: Hadis ini menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan mengubah kemungkaran. Mengubah kemungkaran ada tiga tingkatan. Mengubah dengan tangan bagi yang mampu, seperti pemerintah, dan seorang suami terhadap anak dan istrinya. Jika seorang mukalaf tidak mampu mengubah dengan tangan, maka hendaknya dia mengubahnya dengan lisan, seperti ulama. Jika dia tidak bisa mengubahnya dengan lisan, maka hendaknya mengubahnya dengan hati. Mengubah dengan hati adalah dengan membenci perbuatan mungkar dan membenci kemungkaran itu sendiri. Mengubah dengan hati adalah perbuatan hati sementara perbuatan hati jika dilakukan dengan ikhlas dan benar, maka pelakunya akan diberi pahala. Di antara kesempurnaan mengingkari dengan hati adalah meninggalkan tempat dilakukannya suatu kemungkaran.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua Komite)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/334 Pertanyaan Keempat dari Fatwa Nomor:4262

Apabila seseorang mengetahui adanya kemungkaran dan mampu untuk merubah dan mengingkarinya namun dia diam saja maka dia berdosa. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah da Fatwa Arab Saudi pernah ditanya," 

Sebagian besar pekerja merokok dan di depan saya sebagian mereka memandang remeh salat. Saya tidak tahu apakah mereka salat di rumah atau tidak. Apakah saya berdosa karena diam melihat orang yang merokok dan meremehkan salat? Apakah penghasilan yang saya dapatkan dari mereka halal atau haram?


Jawaban: Para pekerja tersebut tidak boleh didiamkan, bahkan majikan mereka wajib mengingkari mereka yang merokok dan meninggalkan salat dan mengancam mereka bahwa jika mereka tidak meninggalkan kemungkaran tersebut, maka dia akan memulangkan mereka jika mereka bekerja di luar negeri, membatalkan kontrak kerja dengan mereka, dan akan membuat perhitungan terhadap pekerjaan mereka yang lalu. Jika tidak melakukan hal ini, berarti dia bersekutu dengan mereka dalam berbuat dosa karena dia menyetujui kemungkaran padahal dia mampu memberantasnya seperti yang telah kami sebutkan.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua Komite)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah (12/342) Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor:2632

Wallahu ta'ala a'lam

© 2018 - Www.SalamDakwah.Com