SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apakah Suami Istri non-Muslim Yang Masuk Islam Harus Mengulangi Pernikahan?


Akhwat
4 months ago on Keluarga

Assalamu‘amereka wa Rahmatullahi wa Barakatuh Apakah jika seseorang non-Muslim yang dulunya pernah menikah dengan seorang non-Muslim, lalu ketika keduanya memutuskan untuk masuk Islam, apakah harus mengulangi pernikahan mereka? Dan benarkah bahwa pernikahan mereka dahulunya tidak sah sehingga jika mereka memiliki anak pada waktu mereka menikah (sebelum Islam) berarti apakah anak tersebut adalah anak luar nikah? Syukron Jazaakallahu khairan
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

Waalaikumussalam warahmatullahi wabaraaktuh

 

Suami istri yang masuk Islam tidak perlu menikah lagi karena pernikahan mereka (sebelum masuk Islam) diakui oleh Islam. Ada pertanyaan yang diajukan kepada Ulama' yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi: Seorang pria Kristen memeluk agama Islam dan dia melaksanakan ajarannya dengan baik. Isterinya ikut memeluk agama Islam dan dia belajar hukum Islam, belajar membaca al-Quran hingga bagus bacaannya. Ketika orang-orang melihat kesungguhannya dalam beragama Islam, mereka menjadikan pria ini sebagai imam, hanya saja mereka masih sangsi dengan kelayakannya sebagai imam. Alasannya hanya karena dia belum memperbarui akad nikahnya setelah masuk Islam. Mereka berpendapat bahwa dia harus memperbarui akad nikahnya setelah masuk Islam. Pria ini menikahi istrinya dengan akad agama Nasrani atau saat masih Jahiliyah. Apakah agama Islam mengakui akad nikah Jahiliyah atau menganggapnya tidak sah?

Jawaban: Seorang pria kafir ketika memeluk agama Islam bersama istrinya, maka mereka tidak diminta untuk memperbarui akad nikahnya, baik sebelumnya mereka beragama Nasrani maupun agama lainnya.
Akad nikah mereka saat Jahiliyah itu diakui oleh agama Islam. Hal itu berdasarkan fakta bahwa dulu orang kafir yang memeluk Islam bersama isteri-isteri mereka di zaman Nabi shallallahu `alaihi wa sallam tidak diminta untuk memperbarui akad nikahnya. Dan jika keislamannya sudah bagus, maka tidak mengapa salat sebagai makmum di belakangnya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Bakar Abu Zaid ( Anggota)
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh (Anggota)
Shalih al-Fawzan (Anggota)
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawaba Al-Lajnah ad Daimah ( 19/ 29) Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor16654

 Terkait status anak dari hasil pernikahan sebelum masuk islam, bila memang pernikahan mereka sesuai aturan agama dia maka itu sah,

Ulama' yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa menerangkana: Apabila suami masuk Islam, kemudian istrinya juga masuk Islam, maka keduanya tetap dalam ikatan pernikahan yang lama dan tidak perlu mempernbarui akad nikah mereka. Ketiga, apabila istri tidak mau masuk Islam, maka suami boleh terus mempertahankan pernikahan dengannya, karena secara hukum asal seorang muslim boleh menikah dengan perempuan Kitabiyah (Nasrani atau Yahudi) yang menjaga kehormatannya. Keempat, adapun anak-anak, maka mereka harus mengikuti orang tua mereka yang agamanya lebih baik (Islam). Artinya, apabila salah satu dari suami istri masuk Islam, maka status seluruh anak mereka yang belum baligh adalah muslim, karena anak kecil mengikuti orang tua yang agamanya lebih baik. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Bakar Abu Zaid (Anggota)
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh (Anggota)
Shalih al-Fawzan ( Anggota)
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)

 Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 19/27 Fatwa Nomor:17009

 

© 2018 - Www.SalamDakwah.Com