SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Istri Tetap Tinggal di Rumah Mertua


Ikhwan (Surabaya)
1 year ago on Keluarga

Assalamu'alaikum Saya bekerja di luar kota yang menyebabkan saya meninggalkan istri dan anak saya di rumah orang tua saya. Saya pulang bertemu istri, anak, dan orang tua saya setiap 3 bulan sekali. Alasan saya menitipkan istri dan anak di rumah orang tua, karena tempat saya kerja jauh dan belum ada fasilitas yang bagus untuk pendidikan dan kesehatan anak serta saya berharap istri saya dapat menemani orang tua saya yang mulai lanjut usia dan tinggal berdua saja di rumah karena adik saya juga merantau ikut suaminya. Permasalahan muncul ketika istri saya dan orang tua saya sering tidak sinkron tentang keseharian mereka, tentang makanan, kebersihan rumah dan perlakuan ke anak saya, karena istri dan orang tua saya sama-sama memiliki sifat (maaf) keras kepala. Sekarang istri saya sering mengeluh ke saya untuk keluar dari rumah orang tua saya dan dibelikan rumah sendiri. Mohon pencerahannya Ustadz, apa yang harus saya perbuat? menuruti istri tetapi saya masih ingin istri dan anak saya tinggal bersama menemani orang tua saya?
Redaksi salamdakwah.com
1 year ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Perlu difahami bahwa seorang istri berhak untuk mendapatkan tempat tinggal terpisah dan tersendiri, lebih-lebih bila ia merasa terganggu dan tidak nyaman terhadap perlakuan mertuanya bila ia tinggal serumah dengannya. Dalam Ensiklopedi Fiqih Kuwait disebutkan:
Mengumpulkan kedua orang tua (begitu pula kerabat lainnya) dan istri di satu tempat tinggal tidaklah diperbolehkan. Istri juga diperbolehkan untuk menolak bila akan ditempatkan bersama dengan salah satu dari keduanya, sebab berada di tempat tinggal pribadi yang menjadikan seorang istri merasa aman terhadap diri dan hartanya adalah hak dari istri tersebut. Dan tidak ada seorang pun yang boleh memaksanya untuk itu (tinggal bersama keluarga suami.pent). Inilah madzhab mayoritas Ahli Fiqih dari kalangan Ulama' Hanafi, Syafi'i dan Hanbali. Al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah 25/109.

Oleh karena itu, bila istri penanya tidak nyaman tinggal dengan orang tua penanya dan ia ingin hidup terpisah maka itu adalah hak istri yang perlu ditunaikan oleh penanya. Bila penanya belum mampu membelikan rumah yang bisa ditinggali oleh istri dan anaknya maka ia bisa menyewa rumah untuk mereka. Apabila penanya ingin istrinya membantu orang tuanya bila ada sesuatu yang mendesak maka suami bisa membelikan rumah atau menyewa rumah untuk istri dan anaknya di tempat yang tidak jauh dari rumah orang tua penanya. 

Wallahu ta'ala a'lam

 

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com