SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Orang Tua Pilih Kasih


Ikhwan (Yogyakarta)
1 year ago on Keluarga

Assalamualaikum Ustadz, saya adalah anak kedua dan terakhir di keluarga saya. Saya punya satu kakak laki-laki. Sejak kecil, dia diperlakukan istimewa, yang saya benci adalah ketika ia melakukan kesalahan, ia selalu mendapat pembelaan dan pembenaran dari orang tua saya, segala permintaannya pun segera dikabulkan oleh orang tua saya, hal itu masih terbawa hingga ia berumur 27 tahun sekarang, ia tumbuh menjadi laki-laki yang malas dan sewenang-wenang. Perlakuan orang tua saya terhadap saya pun sangat berbeda, 180 derajat dengan perlakuan pada kakak saya. Saya sudah sering sekali bersabar Ustadz, namun suatu hari kakak saya mengklaim barang saya sebagai miliknya, padahal itu adalah hasil keringat saya sendiri, saya sudah tidak tahan lagi Ustadz, saya diam-diam dongkol, saya rusak barang saya itu agar tidak ada rebutan, dan hal itu membuat orang tua saya marah dan membela kakak saya. Saya ingin sekali pergi dari rumah karena saya tidak pernah diberi kesempatan untuk didengarkan, apakah saya berdosa jika saya punya niat untuk hidup sendiri dan melupakan keluarga saya?
Redaksi salamdakwah.com
1 year ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Bila yang disampaikan oleh penanya adalah fakta maka apa yang dilakukan oleh orang penanya bukanlah cerminan dari Islam mengingat dalam Islam orang tua perlu untuk berlaku adil kepada anak-anaknya. Dalam salah satu riwayat disebutkan:


عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، أَنَّ أَبَاهُ أَتَى بِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي نَحَلْتُ ابْنِي هَذَا غُلاَمًا، فَقَالَ: «أَكُلَّ وَلَدِكَ نَحَلْتَ مِثْلَهُ» ، قَالَ: لاَ، قَالَ : «فَارْجِعْهُ»


Dari al-Nu'man Ibn Basyir radhiyallahu anhu. bahwa ayahnya datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. dengan membawanya juga yakni membawa al-Nu'man, lalu ayahnya itu berkata: Sesungguhnya aku memberikan seseorang hamba sahaya kepada anakku ini. Hamba sahaya itu adalah milik aku. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. lalu bersabda:
Apakah semua anakmu juga engkau beri hal yang sama sebagaimana engkau berikan kepada anak ini?
Ia menjawab: Tidak. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Kalau begitu tariklah kembali. HR. Bukhari no.2586 dan Muslim no.1623. Lafadz di atas adalah lafadz Bukhari

Terkait perlakuan yang berbeda dalam menangani kesalahan penanya dan saudaranya itu juga tidak bisa disandarkan ke Islam mengingat perintah amar ma'ruf dan nahi mungkar bersifat umum dan tidak mengenal tingkatan anak

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ.أخرجه مسلم كتاب الإيمان,بَابُ بَيَانِ كَوْنِ النَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ مِنَ الْإِيمَانِ، وَأَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ، وَأَنَّ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاجِبَان, رقم 49


Barang siapa melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.

Di sisi lain mendidik anak yang salah juga tidak dibedakan, maksudnya kalau yang salah adalah anak laki-laki yang lebih besar maka dibiarkan dan bila yang salah adalah anak yang lebih kecil diperlakukan dengan keras. Tindakan ini tidaklah selaras dengan keumuman arahan mendidik anak. Allah Ta'ala berfirman di surat  At-Tahrim ayat 6:

 

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ  

 

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." 

Dalam kaitannya dengan hal ini Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

  كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ .... وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا 

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan ditanya tentang orang-orang yang kalian pimpin. Seorang laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan dia akan ditanya tentang orang-orang yang dia pimpin. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang orang-orang yang dipimpinnya." (HR. Bukhari, no. 893, Muslim, no. 1829)

Kami ingin ingatkan kepada penanya untuk tetap berpikir logis dan tidak hanya mengandalkan perasaan dalam menghukumi sesuatu. Dalam kasus ini kami sarankan untuk tidak menuduh semua yang dilakukan orang tua hanyalah untuk kakak penanya sedangkan penanya tidak disayang sama sekali. Apabila hanya mengandalkan perasaan dan tidak didasari bukti ataupun saksi khawatirnya itu termasuk berburuk sangka. Allah ta'ala berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (الحجرات :12


Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.  

Apabila yang diceritakan oleh penanya disertai bukti atau saksi maka selayaknya penanya bersabar dan tetap berusaha menasehati orang tua penanya yang telah melakukan penyimpangan terhadap aturan syariat, bila perlu mintalah bantuan kepada orang yang disegani oleh orang tuanya untuk mengingatkan mereka akan kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat, dengan tidak melupakan do'a kepada Allah ta'ala supaya Dia memberi mereka hidayah serta petunjuk. Semoga dengan begini dia bisa sadar akan kesalah-kesalahannya.

Apabila memang perlakuan berbeda terus terjadi setelah usaha di atas dilakukan maka boleh bagi penanya untuk tinggal di tempat berbeda (untuk menghindari kedholiman) dengan tetap menyambung tali silaturrahim dengan keluarga serta tidak memutusnya. Semoga Allah ta'ala memberikan petunjuk kepada pihak yang salah sehingga mereka bisa rujuk kepada kebenaran. Wallahu ta'ala a'lam

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com