SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Membaca Novel Dewasa dan Efek Maksiat Terhadap Puasa


Akhwat (Bogor)
2 months ago on Ibadah

Assalamu'alaikum. Apakah batal puasa seseorang apabila membaca fiksi (novel) dewasa?
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Kami tidak begitu memahami maksud dewasa di sini, apabila maksudnya adalah novel yang isinya cerita tentang hubungan tidak syar'i antar lawan jenis seperti pacaran maka ini tidak boleh karena ini sengaja mengarahkan diri kepada perbuatan maksiat yang muaranya bisa menjadikan diri mencontoh apa yang ada di novel itu. Apabila novel itu diselingi dengan gambar-gambar yang tidak senonoh maka melihatnya dengan sengaja termasuk maksiat mata dan ini berbahaya untuk diri seseorang.

Seseorang yang bermaksiat di bulan Ramadhan dikhawatirkan kejelekannya akan dilipat gandakan. Dalam kitab Matholib Ulin Nuha, 2/385 dikatakan: “Kebaikan dan kejelekan dilipatgandakan terkait tempat yang mulia seperti Mekkah, Madinah dan Baitul Maqdis serta masjid-masjid, begitu juga dengan waktu yang agung, seperti hari Jum’at, bulan-bulan haram (suci) dan Ramadan. Tidak ada perbedaan pendapat berkaitan dengan pelipatgandaan kebaikan. Adapun masalah keburukan, sebagian kelompok berpendapat demikian pula halnya (keburukan dilipatgandakan), mereka mengikuti (pendapat) Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Sebagian ahli tahqiq (ulama) mengatakan: “Mengenai pendapat Ibnu Abbas  dan Ibnu Mas’ud dalam hal dilipatgandakannya keburukan, yang mereka maksud adalah melipatgandakan kualitas, bukan kuantitas.” 

Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya: “Apakah berpuasanya seorang muslim mendapatkan tebusan dosa-dosa kecil dan besar? Dan apakah dosa kemaksiatan dilipatgandakan di bulan Ramadan?”

(Beliau) menjawab: “Seorang muslim dianjurkan, baik pada bulan Ramadan dan selain (Ramadan) untuk menekan nafsu buruknya, agar jiwanya lebih tenang dan senang dengan kebaikan. Seharusnya dia melawan musuh Allah Iblis agar selamat dari keburukan dan ajakannya. Seorang muslim di dunia ini senantiasa (melakukan) perlawanan besar terhadap jiwa, hawa nafsu dan setan. Maka hendaknya memperbanyak taubat dan memohon ampun setiap waktu.

Akan tetapi waktu satu sama lain berbeda. Bulan Ramadan adalah bulan terbaik dalam setahun, yaitu bulan pengampunan, rahmat dan pembebasan dari siksa neraka. Maka pada bulan dan tempat yang baik, kebaikan dilipatgandakan, dan dosa keburukan juga lebih berat. Keburukan di bulan  Ramadan lebih besar dosanya dibandingkan selain (Ramadan). Sebagaimana ketaatan di bulan Ramadan pahalanya lebih banyak di sisi Allah dibandingkan selain Ramadan. Jika kedudukan Ramadan seperti ini dengan kedudukan nan agung, maka ketaatan di dalamnya memiliki keutaaman yang agung (pula) dan dilipatgandakan yang banyak. Begitu juga dosa kemaksiatan di dalamnya juga lebih berat dan lebih besar dibandingkan selain Ramadan. 

Seorang muslim hendaklah menggunakan kesempatan di bulan yang barakah ini dengan ketaatan dan amal shaleh serta meninggalkan berbagai keburukan. Semoga Allah menerima amalnya dan memberi taufiq untuk tetap istiqamah dalam kebenaran. Akan tetapi keburukan tetap (dibalas) semisalnya,  tidak dilipatgandakan dalam bilangan,  baik di bulan Ramadan maupun selain Ramadan. Sementara kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali sampai berlipat-lipat. Berdasarkan firman Allah di surat Al-An’am:160

( مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ )

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-An’am: 160)

Ayat-ayat semacam ini banyak sekali. Begitu pula halnya (berkaitan dengan) tempat yang mulia seperti di dua tanah haram yang mulia (Mekkah dan Madinah), maka di kedua tempat tersebut (balasan bagi kebaikan) dilipatgandakan, baik kualitas maupun kuantitas. Akan tetapi keburukan tidak dilipatgandakan kuantitasnya, yang dilipatgandakan hanyalah kualitasnya pada waktu dan tempat yang mulia. Sebagaimana tadi telah dijelaskan. Wallahu waliyyut taufiq. Majmu Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah, 15/446.

 

Syekh Ibnu Utsaimin rahiamhullah berkata dalam kitab Syarhu Al-Mumti, 7/262: “Kebaikan dan keburukan dilipatgandakan di tempat dan waktu yang mulia. Namun kebaikan dilipatgandakan dari sisi kuantitas dan kualitas, sedangkan keburukan dilipatgandakan dari sisi kualitas saja, bukan kuantitas. Karena Allah ta’ala berfirman di surat Al-An’am, dan ayat ini turun sebelum hijrah (Makkiyah):

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-An’am: 160)

Begitu juga firman-Nya dalam ayat lain: “Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25).

(Dalam ayat tersebut) tidak dikatakan “Kami lipatgandakan (kejelekan itu)" akan tetapi yang dikatakan “Niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih”. Maka melipatgandakan keburukan di Mekkah dan Madinah adalah kualitasnya. Artinya lebih pedih dan lebih menyakitkan berdasarkan firman Allah “Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25)."

 

Perbuatan maksiat saat puasa juga bisa berpengaruh terhadap puasa seseorang. Kemaksiatan akan mengurangi pahala puasa. Setiap  kemaksiatannya semakin banyak dan lebih besar, maka akan terus mengurangi pahala puasanya dan bisa jadi pahala puasanya akan hilang semuanya. Boleh jadi dia telah menahan diri dari makan, minum dan seluruh pembatal puasa, namun pahalanya hilang akibatnya kemaksiatannya kepada Allah.

Oleh karena itu Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلا الْجُوعُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلا السَّهَرُ  

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan dari puasanya selain lapar, dan betapa banyak orang menunaikan shalat malam, tidak mendapatkan dari shalat malamnya selain begadang (semata).”  (HR. Ibnu Majah, no. 1690 dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah)

As-Subki rahmahullah berkata dalam kitab Fatawa-nya, 1/221-226: “Apakah berkurang atau tidak (pahala) puasa orang yang melakukan kemaksiatan di dalamnya? Pendapat yang kami pilih adalah bahwa hal itu mengurangi pahala. Dan saya kira tidak ada perbedaan pendapat dalam hal itu."

Terkait apakah puasanya batal dengan melakukan kemaksiatan, maka puasanya tidak rusak karena itu, bahkan sah dan menggugurkan kewajiban berpuasa. Dia tidak diperintahkan mengqadhanya. ini bila yang dilakukan hanya membaca novel dewasa dan tidak melakukan pembatal puasa,  Aka tetapi pahala puasanya berkurang dengan melakukan kemaksiatan,  dan terkadang bisa hilang semua pahalanya sebagaimana (penjelasan) tadi.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Majmu’, 6/398: “Selayaknya orang yang berpuasa mensucikan puasanya dari mengguncing dan menghardik.” Artinya bagi orang yang berpuasa,  lebih ditekankan membersihkan hal itu dibandingkan orang lain berdasarkan hadits, karena, selain orang  yang berpuasa juga diperintahkan menjauhi hal itu dalam berbagai kondisi. Mensucikan artinya menjauhi (sifat itu). Kalau dia mengguncing dalam puasanya, (dia telah berbuat) kemaksiatan, namun tidak membatalkan puasanya menurut pendapat kami. (Pendapat ini juga) dikatakan oleh Malik, Abu Hanifah, Ahmad dan seluruh para ulama, kecuali Al-Auza’i, (beliau mengatakan): Puasanya batal dan diharuskan untuk mengqadha.”

Wallahu ta'ala a'lam

© 2018 - Www.SalamDakwah.Com