SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Sah Kah Ibadah Saya


Ikhwan (Tasikmalaya)
2 months ago on Ibadah

Assalamualaikum Ustadz, saya tidur diwaktu adzan subuh karena saya merasa tidak enak badan lalu bangun pukul setengah delapan pagi lalu ketika bngun saya bergegas mengerjakan shalat. Saya tidak ada niat untuk meninggalkan shalat. Tapi, apakah shalat saya sah? Dan kala itu saya sedang puasa ramadhan, Apakah saya dianggap meninggalkan shalat dengan sengan sengaja dan keluar dari Islam? Apakah Puasa saya pun batal? Itu pertanyaan saya Ustadz saya mohon sekali jawabannya Terima Kasih sebelumnya Ustadz. Wassalamualaikum.
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Sebenarnya hukum ini ada keterkaitan dengan niat dan keadaan penanya ketika tidur saat adzan. Apabila memang saat adzan fisiknya lemah dan mengantuk sekali sehingga ingin tidur sebentar supaya shalatnya dilaksanakan dalam keadaan sadar, di sisi lain dia sudah menset alarm untuk bangun saat waktu shalat fajar masih ada atau sudah menyuruh orang untuk membangunkan shalat namun ternyata alarm tidak berfungsi atau orang yang membangunkan lupa maka tidak ada masalah untuk mengqodho'nya ketika bangun dan waktu shalat telah habis karena udzur dia syar'i. Dalam salah satu riwayat shahih disebutkan, Dari Anas radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

( إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاةِ فَلْيَنَمْ حَتَّى يَعْلَمَ مَا يَقْرَأُ ) 

“Ketika salah seorang diantara kamu mengantuk dalam shalat, maka tidurlah agar dia mengetahui apa yang dibacanya.” HR. Bukhori, (Wudhu/206).

Rasul shallallahu alaihi wa sallam menerangkan:

مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Barangsiapa yang ketiduran atau lupa sehingga tidak melaksanakan shalat pada waktunya maka dia laksanakan ketika ingat. Muttafaq Alaihi

Apabila anda sengaja berniat untuk melaksanakan shalat setelah anda keluar waktu shalat atau anda sudah berniat ketika akan tidur pokoknya saya tidur dulu baik itu bangunnya setelah waktu shalat habis ataukah belum dan saya akan laksanakan shalat saat bangun maka anda telah melaksanakan kesalahan sangat besar mengingat itu seperti meninggalkan shalat dengan sengaja karena sengaja melaksanakan shalat tidak pada waktu yang telah ditentukan oleh Allah ta'ala tanpa alasan syar'i. Allah ta'ala berfirman

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلىَ المُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوْتًا 

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” QS. An-Nisaa’: 103

  

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ta'ala menerangkan,“Kalau seseorang yang sengaja mengakhirkan shalatnya sampai setelah waktunya atau mengatur waktu (menset alarm jamnya) sampai setelah waktu (shalat) agar tidak menunaikan pada waktunya. Ini termasuk sengaja menginggalkan shalat. Dan dia mendatangkan kemungkaran yang besar menurut semua para ulama’. Akan tetapi apakah dikafirkan atau tidak?

Maka di dalamnya ada perbedaan diantara para ulama. Kalau tidak mengingkari kewajibannya, maka menurut jumhur hal itu tidak menjadikan kafir akbar. Sementara sekelompok ahli ilmu berpendapat hal itu menjadikan kafir akbar yang dapat mengeluarkan dari agama. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

" بين الرجل وبين الشرك و الكفر ترك الصلاة " 

“Antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” HR. Imam Muslim di shohehnya, 82.

Dan sabda beliau sallallahu alaihi wa sallam:

" العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر "

“Perjanjian diantara kami dan mereka adalah shalat, siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir. HR. Imam Shalat Ahmad dan Ahlus sunan empat dengan sanad shoheh.

Begitu juga dalil-dalil lainnya yang dinukil dari para shahabat radhillahunahum ajmain. Dan perkataan tabiin yang mulia Abdullah bin Syaqiq Al-Uqaili:

 لم يكن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يرون شيئا تركه كفر غير الصلاة  

“Tidak ada dikalangan para shahabat Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam yang berpendapat meninggalkan sesuatu menjadi kafir melainkan shalat.” Majmu' Fatawa Ibnu Baz 10/375

 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak menerangkan:

Barang siapa yang menunda pelaksanaan shalat pada waktunya dengan sengaja (meskipun selama waktu sholat dia dalam keadaan tertidur) selama dia memang bertekad untuk tidak bangun kecuali waktu shalat habis maka siapa yang melakukan demikian dia telah melakukan dosa besar sesuai dengan kesepakatan kaum muslimin
Diantara Ulama' ada yang berpandangan bahwa dia telah kafir ini berdasarkan hadits shohih, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa meninggalkan shalat maka dia telah kafir"...

Diantara Ulama' ada yang berpandangan bahwa dia tidak kafir disebabkan perbuatannya itu. Ulama' yang berpandangan bahwa dia kafir tidak mengarahkannya untuk mengqadha' namun dia wajib bertaubat kepada Allah dan dia tidak wajib mandi serta tidak wajib shalat dua rakaat

Ulama' yang berpandangan dia belum kafir mereka mengatakan bahwa dia wajib mengqodho' (meski itu dilakukan dengan sengaja). Siapa yang menunda pelaksanaannya pada waktunya padahal dia masih mengimani bahwa itu wajib maka dia wajib mengqadha'nya. https://ar.islamway.net/fatwa/36921/%D8%AA%D8%A3%D8%AE%D9%8A%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9-%D8%B9%D9%86-%D9%88%D9%82%D8%AA%D9%87%D8%A7-%D8%B9%D9%85%D8%AF%D8%A7

 Apabila yang dilakukan penanya ini adalah dikarenakan ketidaktahuannya atau dikarenakan syubhat yang menutupi dari kebenaran maka harapan kami perbuatan penanya ini tidak sampai mengantarkan kepada kekafiran dan puasanya tetap sah. Namun dia telah melakukan kesalahan yang amat sangat besar. Oleh karena itu bertaubatlah dengan taubat nasuha, semoga Allah ta'ala mengampuni anda. Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta'ala menerangkan:

 فمذهب الإمام أحمد المشهور عند أصحابه أنَّه لا يمكن أن يُحْكَمَ بكفر أحد تركَ الصَّلاةَ إذا لم يَدْعُهُ الإمامُ؛ لأننا لم نتحقَّق أنه تركها كسلاً؛ إذ قد يكون معذوراً، بما يعتقده عذراً وليس بعذرٍ، لكن إذا دعاه الإمام وأصرَّ علمنا أنه ليس معذوراً.

Madzhab Imam Ahmad yang terkenal di kalangan para murid beliau adalah tidak mungkin seseorang dihukumi kafir dengan meninggalkan shalat bila pemimpin belum memanggil dia mengingat kita belum bisa memastikan dia meninggalkan shalat diakrenakan malas, bisa jadi dia memiliki udzur, dia meyakini bahwa dia punya udzur padahal tidak, namun bila pemimpin telah memanggil dia dan dia tetap keukeuh maka kita tahu dia tidak memiliki udzur. Asy-Syarh al-Mumti' Ala Zad al-Mustaqni' 2/26

Ketidaktahuan dalam masalah ini juga menjadi tanda betapa seseorang meremehkan masalah agama padahal kebaikan agama seseorang merupakan kunci bagi dia untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Ketidak tahuan ini sangatlah tercela 

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2018 - Www.SalamDakwah.Com