SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hubungan Tak Direstui Keluarga


Akhwat (Jakarta)
1 year ago on Keluarga

Assalamu'alaikum ustadz, saya ingin bertanya.. Saya sebelumnya sudah dilamar dengan seorang laki2, dan kita sudah menentukan hari pernikahan. Namun pada saat setelah lamaran saya dan calon tersebut dihadapi masalah. Dikarenakan emosi masing2 akhirnya laki2 tersebut meminta acara nya dibatalkan saja. Namun beberapa hari setelahnya saya dan calon kembali berbaikan tetapi tiba2 hati saya menjadi ragu juga beberapa sifatnya yg belum berubah. Setiap membahas pernikahan kita kembali ribut. Sampai akhirnya saya memilih untuk dibatalkan saja. Ibunya dan ibu saya berusaha untuk mempertahankan namun saya masih dalam keadaan emosi dan masih menolak untuk melanjutkan. Akhirnya pernikahan tersebut dibatalkan ustadz. Setelah beberapa bulan, saya menyesali keputusan tersebut dikarenakan saya mengambil keputusan itu dlm keadaan emosi. Kemudian lelaki ini menghubungi saya kembali dan menyampaikan niatnya bahwa ia ingin untuk menikah saya tetapi terkendala dengan ibunya. Karena ibunya tersinggung dengan sikap saya pd saat itu. Saat ini lelaki tersebut ingin mengusahakannya terlebih dahulu. Saya bingung harus bagaimana? Karna saya juga ingin lelaki tersebut menjadi suami saya kelak.
Redaksi salamdakwah.com
1 year ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Berdaarkan masalah yang disampaikan oleh penanya maka kami sarankan kepada penanya untuk menyepakati komitmen-komitmen tertentu serta menyatukan visi dan misi pernikahan sebelum pernikahan sehingga perselisihan hebat yang terjadi sebelum pernikahan tidak terjadi lagi atau paling tidak bisa diminamilisir ketika ikatan pernikahan sudah terjalin. Misal dari komitmen bersama yang perlu disepakati adalah tidak mengambil keputusan saat kondisi emosi yang tidak terkendali. Apabila itu sudah disepakati maka itu akan cukup membantu jalannya bahtera rumah tangga.

Yang penanya perlu lakukan adalah melakukan hal-hal yang diperlukan untuk perbaikan hubungan dengan keluarga calon suami misalnya meminta maaf atau mendamaikan antar orang tua dll. Apabila penanya diliputi keraguan tentang kelanjutan proses ini maka ia bisa melaksanakan shalat istikharah. 

Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika mengajarkan istikhoroh kepada Jabir



عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَالسُّورَةِ مِنَ القُرْآنِ: " إِذَا هَمَّ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ،وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاقْدُرْهُ لِي، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ، وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ


dari Jabir radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengajarkan istikharah kepada kami untuk setiap perkara, sebagaimana mengajarkan surat dari Al Qur'an. (Beliau bersabda): "Jika salah seorang menginginkan sesuatu maka hendaknya ia mengerjakan dua raka'at lalu ia mengucapkan: ALLAHUMMA INNI ASTAKHIRUKA BI 'ILMIKA WA ASTAQDIRUKA BI QUDRATIKA WA AS'ALUKA MIN FADLIKAL ADZIMI FAINNAKA TAQDIRU WALA AQDIRU WA TA'LAMU WALA A'LAMU WA ANTA A'LLAMUL GHUYUB, ALLAHUMMA IN KUNTA TA'LAMU ANNA HADZAL AMRA KHAIRAN LII FII DIENIE WA MA'AASYII WA 'AQIBATI AMRI -atau berkata; FII 'AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FAQDURHU LI WA IN KUNTA TA'LAMU ANNA HAADZAL AMRA SYARRAN LI FI DIINII WA MA'AASYII WA 'AAQIBATI AMRII -atau berkata; FII 'AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FASHRIFHU 'ANNI WASHRIFNI 'ANHU WAQDURLIIL KHAIRA HAITSU KAANA TSUMMA RADDLINI BIHI kemudian ia menyebutkan hajat yang ia inginkan. (Ya Allah saya memohon pilihan kepada Engkau dengan ilmu-Mu, saya memohon penetapan dengan kekuasaan-Mu dan saya memohon karunia-Mu yang besar, karena Engkaulah yang berkuasa sedangkan saya tidak berkuasa, Engkaulah yang Maha mengetahui sedangkan saya tidak mengetahui apa-apa, dan Engkau Maha mengetahui dengan segala yang ghaib. Ya Allah jikalau Engkau mengetahui urusanku ini adalah baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku -atau berkata; baik di dunia atau di akhirat- maka takdirkanlah untukku, sebaliknya jikalau Engkau mengetahui bahwa urusanku ini buruk untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, -atau berkata; baik di dunia ataupun di akhirat- maka jauhkanlah aku daripadanya, serta takdirkanlah untukku yang baik baik saja, kemudian jadikanlah aku ridla dengannya.) " Lalu ia menyebutkan hajatnya. HR. Bukhari, Kitab Ad-Da'awat, Bab Ad-Du'a' 'inda Al-Istikhoroh no.6382. Imam Bukhari juga menyebutkannya di tempat lain di nomer 7390
 

Diantara tanda istikharah adalah  sebagaimana yang diterangkan oleh Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi,"
pertanda setelah shalat istikharah untuk melanjutkan urusan yang diistikharahkan atau tidak melanjutkannya yaitu seseorang yang melaksanakan istikharah mendapati bahwa hatinya bisa menerima dengan lapang dada urusan ini (yang disebutkan dalam istikharahnya) dan menganggapnya baik. apabila dia dapati dadanya sempit dan terhalangi dari urusan tersebut maka ini tanda bahwasanya ada keburukan, kala itu dia meninggalkannya dan mengalihkan ke yang lain". Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/57 pertanyaan kedua dari fatwa 13610

Hasil istikhoroh juga bisa terlihat dari kemudahan proses atau sulitnya proses menuju pernikahan sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam di atas.

Wallahu ta'ala a'lam

 

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com