SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Melihat Lawan Jenis Dibolehkan Karena Kita Boleh Menikah Berdasarkan Fisik?


Ikhwan (Jakarta)
4 months ago on Fiqih

Assalamu’alaikum ustad,saya adalah laki laki yang belum menikah saya ingin bertanya bagaimana hukummnya jika melihat perempuan yang tidak berhijab tetapi saya berniat hanya untuk melihat wajahnya saja tidak untuk melihat auratnya bagaimana hukummnya ustad sedangkat kita boleh menikahi perempuan karena kecantikannya,terima kasih
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه وسلم

 

Perlu difahami bahwa hukum asalnya seorang mukmin atau mukminah tidak menyengaja melihat lawan jenis tanpa ada keperluan syar'i. Dalam kasus penanya seharusnya ia menjaga pandangannya mengingat diantara fitnah yang sering dihadapai oleh seorang pria dalam kehidupan ini adalah fitnah memandang kepada wanita (yang bukan mahromnya) dan fitnah ini bisa ditemui di pasar, di jalan-jalan, di tempat- tempat umum, di majalah dan koran-koran serta tempat-tempat lainnya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Aku tidak meninggalkan suatu fitnah sepeninggalku yang lebih bahaya terhadap lelaki dari fitnah wanita” HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: no: 2740

Allah telah memerintahkan seorang mu’min dan mu'minah untuk selalu menjaga pandangan dan mengharamkan pandangan yang bebas. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖوَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖوَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚوَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 30-31)


Perlu difahami bahwa sengaja memandang lawan jenis yang bukan mahram bisa masuk ke dalam zina mata. 

Rasulullah shallallahu alihi wa sallam bersabda:


كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ


“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagiannya untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” HR Muslim no.2657

Apabila pandangan tidak sengaja jatuh pada lawan jenis yang bukan mahram maka bersegeralah memalingkan pandangan ke yang lain karena melanjutkan pandangan setelah pandangan yang pertama merupakan sesuatu yang terlarang. Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunannya dari Ibnu Buraidah dari bapaknya berkata: Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali, “Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti suatu pandangan dengan pandangan yang lain, sesungguhnya bagimu yang pertama dan bukan bagimu padangan yang selanjutnya” HR. Abu Dawud no: 2149

Adapun maksud penanya: "kita boleh menikahi perempuan karena kecantikannya" nampaknya itu merujuk ke hadits berikut: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


تُنْكَحُ المَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung. HR. Bukhari no.5090 dan Muslim no.1466

Maka ini adalah keadaan khusus dan tidak bertentangan dengan keumuman firman Allah ta'ala di surat an-Nur ayat 30-31 di atas mengingat seseorang memang boleh melihat dan memperhatikan lawan jenis yang memang ada kemungkinan bisa ia nikahi (dan ia memang punya niat kuat untuk menikah). Berikut ini beberapa hadits terkait itu:

1. Hadits Jabir bin Abdillah 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ» ، قَالَ: فَخَطَبْتُ جَارِيَةً فَكُنْتُ أَتَخَبَّأُ لَهَا حَتَّى رَأَيْتُ مِنْهَا مَا دَعَانِي إِلَى نِكَاحِهَا وَتَزَوُّجِهَا فَتَزَوَّجْتُهَا

Dari Jabir bin Abdillah, dia berkata," Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda.“Jika salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, jika bisa melihat apa yang menjadikannya tertarik untuk menikahinya, maka lakukanlah”. Jabir berkata: “Maka saya meminang seorang wanita, sedangkan saya secara sembunyi-sembunyi melihatnya, hingga saya melihat apa yang menjadikan saya tertarik untuk menikahinya”. Dan dalam riwayat yang lain: “Maka wanita dari Bani Salamah berkata: “maka saya secara sembunyi-sembunyi dengan perasaan yang hawatir, hingga saya melihat apa yang menjadikan saya tertarik untuk menikahinya , kemudian saya menikahinya”. HR. Abu Daud no.2082

 

2. Hadits Anas bin Malik 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ أَرَادَ أَنْ يَتَزَوَّجَ امْرَأَةً، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا» ، فَفَعَلَ، فَتَزَوَّجَهَا، فَذَكَرَ مِنْ مُوَافَقَتِهَا

Dari Anas bin Malik sesungguhnya al Mughirah bin Syu’bah berkata: “Saya telah meminang seorang wanita”. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:“Apakah kamu sudah melihatnya ?”, saya menjawab: “belum”, beliau bersabda: “Lihatlah dia, karena akan lebih mendekatkan di antara kalian berdua”. Dan dalam riwayat yang lain: Dia berkata: “Maka dia pun melakukannya, dan jadi menikahinya dan mempelai wanitanya menyetujuinya”. (HR. Ibnu Majah no.1865 dan yang lainnya)

 

3. Hadits Sahl bin Said

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ لِأَهَبَ لَكَ نَفْسِي، فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَعَّدَ النَّظَرَ إِلَيْهَا وَصَوَّبَهُ

Dari Sahl bin Sa’d –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Ada seorang wanita menemui Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya berkata: “Wahai Rasulullah, saya datang ke sini untuk menghibahkan diri saya kepada anda, maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihatnya dengan sungguh-sungguh... HR Bukhari no.5030 dan yang lainnya. 

Terkait batasan nadhor ini ada beberapa pendapat, diantaranya pendapat imam asy-Syafi'i rahimahullahu ta'ala," 

Imam al-Mawardi menukil keterangan imam asy-Syafi'i dalam kitab beliau al-Hawi al-Kabir terkait batasan melihat ini. Imam Syafi’i –rahimahullah- berkata: “Jika seseorang mau menikahi seorang wanita maka tidak boleh melihatnya tanpa busana, namun dia hanya boleh melihat wajah dan kedua telapak tangannya, yang lainnya dalam keadaan tertutup, baik dengan seizinnya atau tanpa seizinnya. Allah Ta’ala berfirman:

(وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا )

“… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya”. (QS. An Nuur: 31)

Maksudnya adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Al Hawi al Kabir: 9/33) 

Imam Nawawi berkata. “Jika dia (lk) ingin menikahinya disunnahkan untuk melihatnya agar tidak menyesal kemudian, dan menurut pendapat yang lain: tidak disunnahkan, namun hukumnya mubah saja, dan pendapat yang benar adalah yang pertama berdasarkan beberapa hadits. Proses melihat boleh diulangi dengan seizinnya atau tidak, namun jika kesulitan untuk melihatnya, dia bisa mengutus wanita tertentu agar menjelaskan nantinya tentang sifat-sifatnya. Seorang wanita juga hendaknya melihat laki-laki yang mau menikahinya, karenanya dia akan merasa tertarik dengannya dan begitu juga sebaliknya. Kemudian yang dilihat adalah wajah dan kedua telapak tangan baik yang bagian luar maupun yang bagian dalam, tidak dilihat pada selainnya. Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftiin: 7/19-20:

Ketika proses nadhor terjadi tidak boleh keduanya berkhalwat mengingat mereka masih belum resmi menikah. Ibnu Qudamah berkata: “Tidak boleh baginya untuk berkholwat (berduaan) dengannya; karena dia statusnya masih bukan mahram, syari’at tidak membolehkan kecuali hanya melihat, maka masih haram untuk disentuh, karena dengan kholwat juga rawan terjadi hal-hal yang dilarang, karena Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

«لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ»

“Tidaklah seorang laki-laki berkholwat dengan wanita, maka yang ketiganya adalah syetan”.

Al-Mughni 7/96 

Boleh melihat calon pasangan hidupnya tanpa sepengetahuan dari calonnya tersebut. Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad bin Hanbal disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"

  إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً، فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا إِذَا كَانَ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا لِخِطْبَةٍ  وَإِنْ كَانَتْ لَا تَعْلَمُ

Jika salah seorang kalian meminang seorang wanita maka tidak apa-apa dia melihat kepada wanita tersebut bila melihat itu tujuannya hanya untuk meminang, meskipun wanita itu tidak mengetahui (bahwa dia dilihat.pent) HR. Ahmad 39/15. Sebagian tulisan ini disarikan dari situs islamqa.info.

Syaikh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang berbicara dengan wanita yang dilamar, Beliau Menjawab:
Wanita yang dilamar statusnya adalah wanita asing bagi pelamar, tidak beda antara ia dan wanita lain yang belum dilamar, sampai laki-laki itu sudah menjalin akad dengan wanita tersebut. Atas dasar ini, seorang pelamar tidak diperbolehkan berbincang atau berhubungan dengan wanita yang dilamar, kecuali dalam dalam porsi yang dibolehkan oleh Syariat.

Yang dibolehkan oleh Syariat adalah bila seorang laki-laki sudah bertekad untuk melamar seorang wanita maka ia melihatnya, melihat wajahnya, melihat telapak tangan, kaki dan kepalanya, akan tetapi tanpa berbincang-bincang dengannya kecuali sangat diperlukan, seperti bila saat ia melihat wanita tersebut (dalam keadaan disertai walinya) ia berbicara dengannya (misalnya) dalam porsi yang sangat diperlukan contohnya ia berkata apakah engkau mensyaratkan begini atau mensyaratkan begini dan yang semisalnya.

Adapun berbicara dengannya via telpon, sampai-sampai sebagian mereka berbincang dengannya dengan durasi satu atau dua jam, maka ini diharamkan dan tidak dihalalkan. Sebagian pelamar berkata: Saya berbincang-bincang dengannya dengan maksud saya mengetahui keadaannya dan saya memberitahunya tentang keadaan saya. Maka ini dijawab: Selama engkau berani melamarnya berarti engkau sudah mengetahui banyak hal tentang keadaannya, dan wanita itu tidak menerima kecuali ia sudah mengetahui banyak tentang keadaan Anda, dengan demikian maka tidak perlu berbincang-bincang via telpon. Biasanya perbincangan dengan wanita yang dilamar via telpon tidak bisa terhindar dari syahwat atau menikmati syahwat, yakni syahwat sex, atau terhindar dari bersenang-senang dengan cara berbicara dengannya padahal ia tidak dihalalkan baginya sekarang...http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_7073.shtml

Jadi tidak ada pertentangan antara satu nash dengan yang lain dalam kasus yang disinggung oleh penanya. Wallahu ta'ala a'lam

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com