SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tidak Bisa Mencintai Pasangan Hidup Lagi


Ikhwan (Bekasi)
5 months ago on Keluarga

Assalamualaikum...wr.wb Bagaimana hukumnya seorang suami tidak bisa memberi nafkah batin kepada istri karena sudah gak mencintai lagi dan gak ada hasrat? Wassalam
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Termasuk hak istri yang sangat ditekankan dan sangat besar adalah mendapatkan nafkah batin yang berupa jima'. Seorang suami wajib melakukan jima' dengan istrinya demi menjaga kehormatan diri dan istrinya. Ibnu Taimiyyah menerangkan:
Seorang laki-laki wajib untuk mensetubuhi istrinya dengan baik. Jimak termasuk hak istri yang paling ditekankan atas suami. Ini lebih besar dari kewajiban memberinya makan. Terkait jimak yang wajib, ada yang mengatakan bahwa jimak wajib dilakukan sekali pada setiap empat bulan. Ada yang mengatakan sesuai dengan kebutuhan istri dan sesuai dengan kemampuan suami sebagaimana suami memberi makan istri sesuai kebutuhannya dan sesuai dengan kemampuan suami. Dan inilah pendapat yang lebih tepat. Wallahu a'lam. Majmu' al-Fatawa 32/271

Apabila seorang suami dengan sengaja tidak melakukan kewajibannya tanpa didasari udzur yang syar'i maka ia dianggap telah melakukan penyelisihan syariat.Tidak mencintai istri bukanlah alasan syar'i meninggalkan kewajiban memenuhi hak istri. nasehat kami kepada suami tersebut (dari lubuk hati yang paling dalam) cobalah memperbaiki hubungan dan mencari titik-titik temu dan mencari persamaan persamaan dan menghidupkan kembali suasana-suasana indah yang dulu menjadi pemicu munculnya benih cinta yang mengantarkan ke pernikahan itu. Apabila ada yang salah pada diri istri maka selayaknya untuk diluruskan sehingga kesalahan-kesalahan itu hilang dan istri kembali menjadi istri idaman yang berhak mendapatkan cinta kembali.

Apabila usaha-usaha mengembalikan cinta kepada istri tidak berhasil dikarenakan istri tidak mau memperbaiki diri maka suami boleh menceraikannya.  Namun perlu difahami bahwa cinta bukanlah syarat yang harus ada dalam suatu pernikahan, suami tetap bisa menjadi seorang suami dari seorang wanita demi maslahat besar yang ingin diraih meski hatinya sudah tidak lagi bisa mencintai istrinya. Bila ternyata usaha untuk tetap bersama tanpa cinta juga tidak berhasil maka bila dikhawatirkan diteruskannya pernikahan akan memberikan mudhorot ke istri maka suami boleh menceraikannya. 

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:
Saya menikah dengan seorang putri paman saya. Saya menikah dengannya namun sebenarnya saya membenci pernikahan tersebut, saya sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menikah dengannya. Akan tetapi ayah saya bersikeras agar saya menikah dengannya, dia berkata kepada saya, "Jika nanti dia tidak cocok untukmu, ceraikan saja dia". Saat ini saya telah menetap di Kerajaan Arab Saudi selama tiga tahun dan saya belum pernah pulang ke Mesir. Sekarang saya ingin pulang ke Mesir dan saya ingin menceraikan istri saya, karena saya tidak menunaikan hak-haknya mengingat saya tidak menyukainya sama sekali dan mengabaikan haknya sebagai seorang istri. Jika saya menceraikannya apakah saya telah menzaliminya? Dan apakah dia mempunyai hak atas saya? Mohon kami diberi penjelasan, semoga Allah memberi Anda pahala.

Mereka menjawab:
Jika kondisinya seperti yang Anda sebutkan di dalam pertanyaan, maka disyariatkan bagi Anda untuk berusaha memperbaiki kondisi kehidupan keluarga Anda, dengan harapan Anda dapat menemukan kecocokan dengan baik. Namun jika Anda tidak mampu merealisasikannya dan tetap ingin menceraikannya, maka seyogyanya hal itu dilakukan dengan cara baik-baik, yaitu menjatuhkan satu talak padanya dan Anda harus memberinya nafkah, pakaian dan tempat tinggal selama masa idah. Anda juga harus mengganti nafkah yang telah dikeluarkan sebelum masa idah tersebut jika Anda tidak pernah memberinya nafkah, kecuali jika dia merelakannya. Apabila Anda ingin merujuknya kembali, maka Anda boleh melakukannya selama dia masih dalam masa iddah, dan selama Anda belum pernah menjatuhkan dua talak setelah talak pertama sebelumnya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 20\6-7; Fatwa no. 17380

Wallahu ta'ala a'lam

© 2018 - Www.SalamDakwah.Com