SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Meminta Cerai Ke Suami


Akhwat (Bandung)
5 months ago on Keluarga

Assalamualaikum wr wrb Ustadz, saya seorang istri bekerja, sudah menikah hampir 10 tahun dan dikaruniai anak satu. Selama pernikahan kami, suami saya tidak pernah memberikan nafkah kepada saya. Awalnya saya tidak merasa keberatan, karena saat awal pernikahan kondisi keuangan kami masih pas pasan. Namun setelah bertahun tahun hingga kondisi ekonomi kami mulai cukup, suami pun tetap tidak memberikan nafkah. Alasannya karena saya tidak pandai mengatur uang. Gaji dia dipakai untuk kebutuhan lain seperti membeli barang rumah tangga atau beli susu anak. Untuk keperluan saya pribadi saya memang tidak pernah meminta uang pada suami. Namun gaji saya juga habis untuk keperluan makan Kami dan belanja sehari hari. Suatu ketika suami saya jatuh sakit, dan berhenti kerja. Ada usaha sampingan tapi pemasukan tidak seberapa. Dari situ selain tidak mendapatkan nafkah lahir saya juga tidak mendapatkan nafkah batin karena kondisi kesehatannya. Selain itu dari awal suami tidak bisa mencerminkan suami dan ayah yang baik. Tidak pernah shalat, kalau saya ingatkan selalu marah. Dirumah pun kerjanya hanya tiduran atau main game. Sementara saya bekerja dari pagi sampai malam, dan mengurus rumah juga. Sebetulnya saya ikhlas ustadz tidak dinafkahi, tapi karena sikap suami saya yang tidak sadar dan menyepelekan kewajiban sebagai suami saya jadi merasa sakit hati. Saya pernah mengajukan cerai karena tidak sanggup. Tp dia tidak mau menceraikan saya. Dan saya juga kasihan ke anak jadi saya tahan. Kami juga sudah mencoba berunding dengan keluarga, tapi sepertinya tidak ngaruh. Karena memang watak suami saya keras. Saya jadi sering marah2 karena saya stress Ustadz. Saya jadi malas komunikasi dengan suami karena percuma. Dia tidak mendengar kata kata saya. kalau saya marah marah dia selalu marah balik ke saya, bilang istri tidak sopan, tidak menghargai suami, dll. Padahal dia sendiri tidak menghargai saya sebagai istri yang sebagaimana mestinya. Jujur kalau tidak ada anak saya sudah tidak ridho tinggal dengan suami. Apakah saya salah seperti ini ustadz? Apakah saya berdosa sebagai istri?
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apabila yang disampaikan penanya adalah fakta di lapangan maka nasehatilah suami untuk melaksanakan apa yang masih bisa dilaksanakan seperti shalat dan bermuamalah yang baik terhadap istri. Mengingat hukum meninggalkan shalat adalah pelanggaran berat dalam syariat Islam. 

Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta'ala pernah ditanya (terhjemahannya):

Apabila suami tidak melaksanakan shalat sedangkan istrinya melaksanakan shalat ataupun sebaliknya maka bagaimana sikap pihak yang melaksanakan shalat terhadap pihak yang tidak melaksanakan shalat? 

Beliau menjawab:

Apabila suami tidak melaksanakan shalat sama sekali, baik itu di masjid ataupun di rumah maka pendapat yang kuat dari pendapat-pendapat ulama' adalah ia kafir, keluar dari agama Islam, ini didasari dalil dari al-Qur'an, Sunnah dan perkataan sahabat. Dalil dari al-Qur'an adalah firman Allah ta'ala terkait orang musyrik:

فإن تابوا وأقاموا الصلاة وآتوا الزكاة فإخوانكم في الدين

"Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu ) adalah saudara saudara kalian seagama.” ( QS. At Taubah, 11 )

Sedangkan dari sunnah disebutkan

بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة؛

“Perbedaan antara orang (muslim) dengan orang kafir dan musyrik adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Hadis dari Buraidah bin Hashib radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة ، فمن تركها فقد كفر

“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Siapa saja yang meninggalkannya maka dia kafir.” (H.r. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Abdullah bin Syaqiq Al ‘Uqaili mengatakan:

لم يكن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يرون شيئا من الأعمال تركه كفر غير الصلاة

“Dahulu para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak memandang ada amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali shalat” (HR. At Tirmidzi no. 2622, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Berdasarkan hal ini maka wajib dipisahkan antara suami yang tidak shalat dengan istri yang melaksanakan shalat

فَاِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوْهُنَّ اِلَى الْكُفَّارِ ۗ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّ

jika kalian telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. https://www.youtube.com/watch?v=5BdjsDv0e-k


Apabila ia dalam sehari masih melaksanakan satu shalat wajib atau dua shalat wajib dan meninggalkan selainnya maka ia belum bisa digolongkan ke golongan orang kafir yang disebutkan di hadits, sebab, redaksi hadits tidak menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja meski cuma sekali. ini adalah pendapat syaikh Ibnu Taimiyah yang diikuti oleh syaikh Utsaimin, lih Asy-Syarh Al-Mumti' ala Zad Al-Mustaqni' 2/27

Meski orang yang meninggalkan sebagian sholat tidak kafir, tapi ia adalah orang yang paling fasiq. Ini pendapat syaikh Utsaimin, lih. Majmu' Fatawa wa rasil Al-Utsaimin 12/154

Jika suami meninggalkan shalat secara total maka istri harus memperingatkannya, dan bila ia bertaubat kemudian melaksanakan shalat maka Alhamdulillah, apabila ia tetap tidak mau shalat maka istri segera menjauh darinya dan tidak berkholwat dengannya (apalagi berjima'). Apabila setelah suami dijauhi dan ditinggalkan ia bertaubat dan mau shalat maka wanita tersebut statusnya masih menjadi istrinya, ini jika taubatnya masih dalam waktu iddah.

Apabila suami tidak mau bertaubat dan ruju' sampai iddah istri habis maka telah jelas terurainya ikatan pernikahan sejak murtadnya suami tersebut. Sebagian ulama' berpendapat bahwa mantan suami tersebut boleh ruju' apabila sudah taubat meski iddahnya habis, dengan catatan mantan istri belum menikah lagi. Ini adalah keterangan syaikh Utsaimin yang dinukil oleh salah satu situs tanya-jawab Islam. Lih. http://islamqa.info/ar/ref/112026

Berikut ini petikan jawaban syaikh Ibnu Baz untuk pertanyaan seorang wanita yang suaminya meninggalkan shalat subuh dan berdalih bahwa ia akan mengqodho'nya saat matahari terbit, Suami tersebut juga kadang tidak melaksanakan shalat Jum'at:

فأنت شددي عليه، ولا يقربك حتى يستقيم وإلا فاعتزليه بالكلية، واذهبي إلى أهلك أو في بيت وحدك أنت وأولادك، وأنت أحق بأولادك منه؛ لأن مثلهم يربيهم على الشر، فأنت أولى بأولادك، وعليك أن تستمري في النصيحة لهذا الزوج مع منع نفسك منه؛ حتى يتوب إلى الله، وحتى يرجع إلى الحق، وحتى يحافظ على الصلوات كلها، نسأل الله له الهداية، وأن يمن عليه بالتوبة، ونسأل الله لك المزيد من التوفيق وعظيم الأجر، وأن ينفع بجهودك ودعوتك ونصيحتك، وأن يجعلك مباركة أينما كنت، وأن يهديه لقبول نصيحتك، والهداية بما يعينه على الخير، وبما يعينه على ترك الشر. نعم

 

Bersikap tegaslah anda kepada suami anda (dalam masalah shalat ini.pent). Janganlah ia mendekati anda hingga ia istiqomah di jalan yang lurus, bila ia tidak istiqomah maka hindarilah ia secara total, pergilah anda ke rumah keluarga anda atau pergilah ke satu rumah yang anda dan anak anda bisa tinggal tanpa ada suami di situ. Anda lebih berhak mengasuh anak anda dibanding dia mengingat orang seperti dia (suami.pent) akan mendidik mereka dalam keburukan. Anda lebih berhak mengasuh anak-anak anda. Anda wajib terus menasehatinya dengan tetap tidak membiarkan dia menjamah anda sampai dia bertaubat kepada Allah ta'ala, sampai dia kembali kepada kebenaran, sampai dia menjaga shalat lima waktu. Kita berdoa kepada Allah semoga Allah ta'ala memberinya hidayah, semoga Allah memberinya karunia dalam bentuk dia bertaubat. Kami doakan semoga Allah ta'ala memberikan tambahan taufik dan pahala yang besar kepada anda, semoga Allah memberikan manfaat melalui usaha anda dalam mendakwahi dan memberikan nasehat, semoga Allah ta'ala memberikan anda keberkahan dimanapun anda berada, semoga Allah memberi suami anda hidayah dalam bentuk menerima nasehat anda, hidayah yang membantunya untuk melakukan kebaikan dan hidayah yang menjadikannya meninggalkan keburukan.

https://binbaz.org.sa/fatwas/15414/واجب-المراة-تجاه-زوجها-المتساهل-بالصلاة 

Terkait nafkah batin, bila yang dimaksud oleh penanya adalah jimak maka memang Termasuk hak istri yang sangat ditekankan dan sangat besar adalah mendapatkan nafkah batin yang berupa jima'. Seorang suami wajib melakukan jima' dengan istrinya demi menjaga kehormatan diri dan istrinya. Ibnu Taimiyyah menerangkan:
Seorang laki-laki wajib untuk mensetubuhi istrinya dengan baik. Jimak termasuk hak istri yang paling ditekankan atas suami. Ini lebih besar dari kewajiban memberinya makan. Terkait jimak yang wajib, ada yang mengatakan bahwa jimak wajib dilakukan sekali pada setiap empat bulan. Ada yang mengatakan sesuai dengan kebutuhan istri dan sesuai dengan kemampuan suami sebagaimana suami memberi makan istri sesuai kebutuhannya dan sesuai dengan kemampuan suami. Dan inilah pendapat yang lebih tepat. Wallahu a'lam. Majmu' al-Fatawa 32/271

Terkait nafkah lahir, Seorang kepala rumah tangga wajib untuk memberi nafkah lahir dan batin kepada istrinya, ia wajib untuk berusaha mencari rizki yang halal untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Allah ta’ala berfirman:


لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ... (٧


Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.. Ath-Tholaq:7
 
Apabila seseorang lalai dalam mencukupi kebutuhan orang yang berada di bawah tanggungannya maka ia telah berdosa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ


Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa orang-orang yang menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya. HR. Muslim no.996
 
Termasuk perbuatan dosa berdasarkan hadits di atas adalah seorang suami yang tidak memberikan nafkah sama sekali (Sehingga keluarga tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya) dan menyimpan uangnya dengan argumen untuk kebaikan masa depan keluarga.

Dengan demikian, ketika suami sehat ada pelanggaran suami dalam masalah shalat, masalah nafkah lahir dan muamalah yang tidak baik ke istri. Ketika suami sakit ada beberapa hal yang memang tidak mampu beliau lakukan karena terhalang sakit namun ada dua yang masih bisa beliau lakukan namun belum beliau lakukan yaitu melaksanakan shalat dan bermuamalah dengan baik kepada istri. Oleh karena itu penanya perlu menasehati suami dengan tegas, apabila memang tetap tidak mau shalat dan tidak mau bermuamalah dengan baik kepada penanya maka silahkan penanya mengajukan cerai ke pengadilan agama mengingat suami tidak mau menceraikan. 

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menerangkan,"

ولكن لو تضررت المرأة ببقائها مع الزوج لبغضها له أو سوء عشرته أو أسباب أخرى فقد جعل الله لها فرجا بالمخالعة

Namun bila seorang wanita terkena mudhorot ketika dia bersama suami disebabkan karena bencinya wanita itu kepada suami atau karena perlakuan yang buruk dari suami atau sebab lain maka Allah telah memberikan jalan keluar berupa khulu'. Majmu' Fatawa Ibnu Baz  21/292

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah menerangkan,"

امرأة كرهت عشرة زوجها، إما لسوء منظره، أو لكونه سيئ الخلق، أو لكونه ضعيف الدين، أو لكونه فاتراً دائماً، المهم أنه لسبب تنقص به العشرة، فلها أن تطلب الخلع

Seorang wanita benci perlakuan suami terhadapnya bisa jadi karena dhohirnya yang buruk atau karena suaminya buruk akhlaqnya atau karena agamanya lemah atau karena suaminya selalu lemah, yang penting dikarenakan sebab yang mengurangi kualitas pergaulan, maka kala itu istri boleh meminta khulu'. Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 12/451 


Muhammad bin Ibrohim at-Tuwaijiri menerangkan diantara sebab yang dengannya seorang wanita boleh meminta talak dari suaminya:

1. Apabila suami lalai dalam memberi nafkah

2. Jika suami menimbulkan mudhorot untuk istri yang karenanya menjadikan hubungan suami istri tidak bisa berlangsung seperti selalu mencelanya, memukulnya, menyakitinya dan istri tidak mampu menahannya atau memaksanya berbuat mungkar atau semacamnya.

3. Bila istri terkena mudharat karena tidak hadirnya suami dan ia pun khawatir terkena fitnah karena itu.

4. Jika suaminya ditahan untuk waktu yang lama dan istri merasa terkena mudharat karena terpisah dengannya

5. Bila wanita mendapati ada aib yang berat seperti mandul, tidak mampu untuk melakukan penetrasi, berbau tidak sedap atau sakit dalam jangka waktu lama yang menyebabkan dia tidak mampu melakukan hubungan suami istri dan bersenang-senang dengan pasangan, atau suaminya memiliki penyakit berbahaya dan menular atau sejenisnya.

6. Apabila suaminya tidak melaksanakan apa yang Allah wajibkan,  atau dia biasa saja  ketika melakukan dosa besar  dan hal yang haram seperti laki-laki yang kadang-kadang tidak melaksanakan shalat, atau dia meminum khamr, atau dia berzina, atau memakai narkoba dan yang semacamnya. Maushu'ah al-Fiqhi al-Islami 4/191

Dalam salah satu riwayat disebutkan:


أَنَّ الرُّبَيِّعَ بِنْتَ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ، أَخْبَرَتْهُ: أَنَّ ثَابِتَ بْنَ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ ضَرَبَ امْرَأَتَهُ فَكَسَرَ يَدَهَا، وَهِيَ جَمِيلَةُ بِنْتُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ، فَأَتَى أَخُوهَا يَشْتَكِيهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَابِتٍ فَقَالَ لَهُ: «خُذِ الَّذِي لَهَا عَلَيْكَ وَخَلِّ سَبِيلَهَا»، قَالَ: نَعَمْ، فَأَمَرَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَتَرَبَّصَ حَيْضَةً وَاحِدَةً، فَتَلْحَقَ بِأَهْلِهَا


Bahwa Ar Rubayyi' binti Mu'awwidz bin 'Afra telah mengabarkan kepadanya, bahwa Tsabit bin Qais bin Syammas memukul isterinya hingga mematahkan tangannya, yaitu Jamilah binti Abdullah bin Ubay. Saudaranya (Jamilah) lalu datang mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seseorang kepada Tsabit dan berkata kepadanya: "Ambillah apa yang menjadi haknya atas dirimu dan lepaskan dia!" Tsabit lalu berkata, Ya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lantas menyuruh Jamilah untuk menunggu (Iddaah) dalam durasi satu kali haid sebelum kembali kepada keluarganya. HR. An-Nas'i no.3497 Dishahihkan oleh Al-Albani

Wallahu ta'ala a'lam

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com