SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bagaimana Cara Taubat dan Minta Maafnya?


Ikhwan (Purworejo)
5 months ago on Fiqih

Pak ustad, gimana caranya saya bertaubat dari perbuatan mendzolimi orang lain yang orangnya itu tidak mengetahui atau menyadari bahwa saya sudah mendzolimi dia? Apa harus minta maaf langsung pak ustad, karna saya khawatir kalau diberitahu nantinya malah akan jadi masalah besar karna kemarahannya dan juga sekaligus menyakiti hatinya. Tapi kalo tidak minta maaf saya khawatir dia bakal nuntut saya di akhirat nanti. Mohon petunjuknya ustadz harus bagaimana yang baiknya
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Seseorang yang berdosa harus segera bertaubat, baik dosa itu dia lakukan dengan cara mendholimi dirinya sendiri dengan cara meninggalkan kewajiban yang Allah bebankan atau melakukan apa yang Allah larang (tanpa disertai kedholiman kepada yang lain), ataukah dosa itu dia lakukan dengan melakukan kedholiman kepada yang lain.  Apabila seseorang tahu dirinya berdosa namun ia enggan untuk bertaubat maka ia terancam adzab Allah ta'ala. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin bertaubat kepada Allah ta'ala dari dosa-dosanya. Berikut ini syarat-syarat taubat yang disebutkan oleh Ulama':

1. Ikhlas karena Allah ta’ala : maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya  

2. Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya.  

3. Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya  

4. Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut  5. Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380  

Apabila dosa itu berbentuk kedholiman kepada yang lain maka ada syarat lain yang harus dipenuhi yaitu meminta keridhoan dan kehalalan dari orang yang didholimi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ 


“Siapa yang berbuat kedzaliman kepada saudaranya baik dari sisi kehormatan atau sesuatu hal, maka mohonlah dihalalkan darinya sekarang (pada hari ini) sebelum tidak berguna lagi dinar dan dirham. Kalau dia mempunyai amal shaleh, maka akan diambil darinya sesuai dengan kadar kedzalimannya. Kalau tidak mempunyai kebaikan, maka keburukan orang tersebut akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2449)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الظُّلْمُ ثَلَاثَةٌ: فَظُلْمٌ لَا يَتْرُكُهُ اللهُ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ، وَظُلْمٌ لَا يُغْفَرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُغْفَرُ فَالشِّرْكُ لَا يَغْفِرُهُ اللهُ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ فَظُلْمُ الْعَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُتْرَكُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ فَيَقْتَصُّ اللهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ "


“Kedzaliman itu ada tiga; kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan, kedzaliman yang akan dia ampuni, dan kezhaliman yang tidak akan dia ampuni. Adapun kedzaliman yang tidak Allah ampuni adalah syirik, itu tidak akan Allah ampuni. Adapun kedzaliman yang akan diampuni adalah kedhaliman hamba (terhadap dirinya sendiri) dalam perkara yang ada antara dirinya dan Rabb-nya. Adapun kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah kezhaliman sesama hamba hingga Alah akan mengqishah yang satu dengan yang lain.” Hilyatul auliya' wa Tabaqat al-Ashfiya' 6/309 . Hadits ini hasan menurut syaikh al-Albani, lih. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 4/560

Apabila diperhatikan dengan seksama hadits di atas kita akan dapati bahwa kedholiman bisa menyengsarakan pelakunya di akhirat kelak, menyengsarakannya di kehidupan abadi mengingat kedholimannya dibayar dengan pahala yang ia perbuat di dunia atau ia akan menanggung dosa dari orang yang ia dholimi. Sungguh ini merupakan kesengsaraan dan kerugian yang nyata. Dalam hadits yang lain bahkan ada penyebutan balasan dunia untuk perbuatan dholim. Rasulullah ﷺ bersabda;

بابان معجلان عقوبتهما في الدنيا ؛ البغي ، و العقوق 

"Dua masalah yang akan di percepat siksanya di alam dunia , yaitu ;  Dzolim dan Durhaka. HR. al-Hakim

Penanya menyebutkan kedholiman yang bersifat umum sehingga agak susah menjawabnya mengingat bentuk kedholiman bermacam-macam, kedholiman bisa bentuknya dalam bentuk pencurian, perusakan barang, perusakan nama baik dll.

Apabila yang dilakukan oleh penanya adalah pencurian atau pengambilan barang dengan cara menipu maka terjadi kedholiman terhadap pemilik barang dengan cara menghalangi pemilik barang untuk menggunakan barang miliknya yang sah. Cara bertaubat dari dosa ini adalah segera mengembalikan barang tersebut ke pemiliknya, bahkan seandainya pemilik barang tersebut adalah non muslim, barang tersebut juga harus dikembalikan selama ia bukanlah kafir yang diperangi.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:
Ayah saya bekerja di sebuah perusahaan kira-kira sejak tiga puluh tahun lalu, dan sekarang beliau sudah pensiun. Di perusahaan tersebut, ayah saya bekerja di bagian pertukangan dan pernah mengambil sebagian perkakas milik perusahaan tanpa sepengetahuan mereka serta menyimpannya di rumah. Barang-barang seperti palu, gergaji, bermacam jenis paku, dan banyak lagi yang lainnya, masih tersimpan di rumah kami sampai sekarang. Ayah saya menganggap bahwa tindakannya mengambil semua barang itu adalah halal karena mayoritas pekerja yang terkait dengan tempat itu beragama Yahudi yang terikat kontrak dengan perusahaan. Ayah saya yakin sekali bahwa hal itu tidak masalah. Syekh yang terhormat, mohon beri kami penjelasan segera tentang pertanyaan ini agar saya bisa merespon dan meyakinkannya dengan pendapat Anda.

Mereka menjawab:
Ayah Anda wajib mengembalikan semua alat pertukangan itu ke perusahaan, kecuali jika dia sudah mendapat izin. Pengembalian itu wajib dilakukan sekalipun mereka orang-orang kafir. Sebab, mereka telah meminta perlindungan di negara Islam, sehingga harta mereka pun menjadi terlindungi dengan kontrak keamanan tersebut. Harta mereka tidak boleh diambil dengan cara yang tidak benar.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/36- 37 pertanyaan pertama dari fatwa no. 17681 .

Apabila tidak dimungkinkan mengembalikan barang tersebut ke pemilik, misalnya karena pemilik telah meninggal dunia maka dikirim ke ahli warisnya.  

Bila barang yang dicuri sudah hilang maka mantan pencuri itu bisa menggantikannya dalam bentuk uang dengan nilai yang sesuai dengan masa pengembalian. Dalam salah satu riwayat shahih disebutkan

 وَكَانَ المُغِيرَةُ صَحِبَ قَوْمًا فِي الجَاهِلِيَّةِ فَقَتَلَهُمْ، وَأَخَذَ أَمْوَالَهُمْ، ثُمَّ جَاءَ فَأَسْلَمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَّا الإِسْلاَمَ فَأَقْبَلُ، وَأَمَّا المَالَ فَلَسْتُ مِنْهُ فِي شَيْءٍ

 “Dahulu Al Mughirah di masa jahiliyah pernah menemani suatu kaum, lalu dia membunuh dan mengambil harta mereka. Kemudian dia datang dan masuk Islam. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda saat itu: "Adapun keIslaman maka aku terima. Sedangkan mengenai harta, aku tidak ada sangkut pautnya sedikitpun" (HR Bukhari No : 2731 dan yang lainnya)

Apabila ada kesulitan dalam proses pengembalian barang itu maka pencuri itu harus rela menerimanya selama masih memungkinkan proses itu ditempuh mengingat ini adalah resiko dari perbuatan dosa yang dilakukan sebelumnya. Apabila khawatir masalah berat ketika minta maaf maka bisa mengirimkan harta yang dicuri disertai dengan permintaan maaf serta tidak memunculkan identitas pengirim. 

Syaikh Utsaimin menerangkan:

إذا أخذ من أخيه حقاً، ولعله أراد إذا أخذ من أخيه شيئاً، إذا أخذ من أخيه شيئاً ثم منّ الله عليه فتاب فإن الواجب عليه أن يرده إليه بأي وسيلة، وليسلك الوسيلة التي ليس فيها ضرر، مثال ذلك: لو سرق منه مائة درهم مثلاً، ثم تاب وأراد أن يردها إليه، من المعلوم أنه لو قال: إني سرقت منك هذه الدراهم، وأنا تبت إلى الله، وأردها عليك ربما يحصل في هذا شر، وربما يقول المسروق منه: إنك سرقت أكثر من ذلك فيحصل خصوم ونزاع، وحينئذٍ يمكن أن يجعلها في ظرف، ويرسلها مع صديقٍ مأمون ويقول لهذا الصديق: أعطها فلاناً، وقل له: إن هذه من شخص كان أخذها منك سابقاً، ومن الله عليه فتاب، وهذه هي، وحينئذٍ لو قال له صاحب المال: أخبرني من هذا الشخص، فإنه لا يلزمه أن يخبره به

Jika seseorang mengambil hak saudaranya, atau ia mengambil sesuatu dari saudaranya, kemudian  Allah memberinya karunia hidayah sehingga dia bertobat, maka ia harus mengembalikan apa yang ia ambil kepada pemiliknya dengan cara apa pun. Selayaknya ia menempuh jalan jalan yang tidak membahayakan, misalnya: jika dia mencuri seratus dirham, Kemudian ia bertobat dan ingin mengembalikannya kepada si pemilik. Sudah dimaklumi bila ia berkata: Aku mencuri dirham ini darimu, dan aku bertobat kepada Allah, dan aku ingin mengembalikannya kepadamu, mungkin ini akan menimbulkan keburukan.  Orang yang menjadi korban pencurian mungkin berkata: Kamu mencuri lebih dari itu. Akhirnya muncullah permusuhan dan konflik. 

Kala itu dia bisa memasukkan uang yang ingin ia kembalikan dalam sebuah amplop, kemudian ia mengirimkan amplop itu melalui teman yang bisa dipercaya diiringi dengan pesan: Berikan ini kepada fulan, dan katakan padanya: Ini dari seseorang yang telah mengambilnya darimu sebelumnya, kemudian ia diberi petunjuk oleh Allah sehingga dia bertobat," 

Apabila korban pencurian bertanya kepada kawan yang menjadi kurir tadi: beritahukan kepada saya tentang identitas orang itu?

Saat itu kurir tadi tidak wajib memberitahukan identitas mantan pencuri itu... http://binothaimeen.net/content/10861

Apabila kedholiman yang dilakukan dalam bentuk perusakan nama dan penanya khawatir ada masalah besar bila ia menyebutkan secara spesifik kesalahannya maka penanya bisa meminta maaf kepada orang yang ia dholimi dengan permintaan maaf secara umum tanpa memperinci kesalahannya dan ia harus berusaha mengembalikan nama baik orang yang ia dholimi. 

Wallahu ta'ala a'lam

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com