SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Shalat Idul Fithri Saat Pandemi


Akhwat (Bandung)
5 days ago on Ibadah

Bismillah.. Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatu. Ustadz ijin bertanya.. Jika dalam kondisi pandemi seperti saat ini masjid di lingkungan rumah mengadakan shalat ied berjamaah, tapi ana dan keluarga memutuskan untuk tetap shalat ied di rumah karena khawatir dan ingin memutus rantai penyebaran virus, bagaimana hukumnya ya? Kemudian mana yang lebih baik? Shalat ied berjamaah di rumah atau shalat ied berjamaah dengan imam dan masyarakat lainnya di masjid? Karena biasanya setelah selesai shalat ied ana melakukan silaturahmi dengan tetangga sekitar (bersalam-salaman). Jazakallahu khayran
Redaksi salamdakwah.com
4 days ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apabila daerah penanya berada di zona merah maka saran kami shalatlah ied di rumah. Berikut ini kami terjemahkan keterangan Ulama ' Saudi yang ditulis di salah satu media besar di Arab Saudi yaitu Saudi Gazette  ,"
Mufti Besar Arab Saudi, dan kepala Dewan Cendekiawan Senior serta Departemen Riset Ilmiah dan Ifta Sheikh Abdul Aziz Al Asheikh memutuskan bahwa diperbolehkan untuk melakukan sholat Idul Fitri di rumah dalam keadaan luar biasa mirip dengan situasi pandemi saat ini. Shalat tersebut terdiri dari dua rakaat dengan melafalkan lebih banyak takbir dan tanpa khotbah.

Berbicara kepada Okaz / Saudi Gazette, beliau mengatakan bahwa Zakat Al-Fitr dapat didistribusikan melalui lembaga amal masyarakat jika mereka dapat diandalkan, dengan ketentuan bahwa itu harus didistribusikan sebelum hari Idul Fitri. Mufti Besar mendesak orang tua untuk menjadikan anak dan keluarga mereka senang dan berbahagia dengan melakukan pembelanjaan lebih besar untuk mereka.

Sementara itu, Sheikh Abdul Salam Abdullah Al-Sulaiman, anggota Dewan Ulama Senior dan Komite Tetap Fatwa, mengatakan bahwa shalat Idul Fitri dapat dilakukan secara individu atau berjamaah.

Berbicara kepada Okaz / Saudi Gazette, dia mengatakan bahwa jamaah perlu membaca takbir untuk memulai shalat dan kemudian mengikutinya dengan enam takbir di rakat pertama sebelum membaca Fatiha dengan keras dan kemudian (idealnya) membaca Surah Al-Qaf.

Pada rakat kedua, ada lima takbir (setelah takbir perpindahan rakat) kemudian membaca Surah Fatiha, dilanjutkan dengan Surah Al-Qamar, ini dalam rangka mecontoh Nabi (shallallahu alaihi wa sallam). Idealnya juga membaca Surah Al-A'la dan Al-Ghashiya sebagai ganti membaca surat Al-Qaf dan Al-Qamar di masing-masing rakat.

Syekh Al-Sulaiman juga mengutip contoh perbuatan Anas Bin Malik, seorang sahabat terkemuka Nabi (shallallahu alaihi wa sallam). Ketika Anas (semoga Allah meridhoinya)berada di rumahnya di Zawiya (suatu tempat dekat Basra) ia pernah tidak mendapati jamaah shalat Idul Fitri, oleh karena itu ia melaksanakan shalat Idul Fitri bersama dengan anggota keluarganya dan pembantunya Abdullah Bin Abi Otba.

Cendekiawan itu juga mengatakan bahwa waktu sholat Idul Fitri dimulai setelah matahari terbit dan waktu terbaik adalah setelah matahari terbit dengan ketinggian satu atau dua tombak seperti yang disepakati oleh sebagian besar ulama. Ini berarti 15 atau 30 menit setelah matahari terbit. Dan waktu kebolehannya berlanjut sampai akhir waktu sholat Dhuha, yaitu sebelum shalat Zuhur dimulai.

Shalat ini tidak boleh dilaksanakan pada saat matahari terbit. Mayoritas ahli hukum Islam, termasuk madzhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali menolak pelaksanaan shalat yang dilakukan pada waktu matahari terbit. Mereka memilih pendapat yang menyatakan bahwa shalat boleh dilaksanakan setelah matahari terbit di langit setinggi satu atau dua tombak.

Mengenai pembacaan takbir pada kesempatan Idul Fitri, Sheikh Al-Suleiman mengatakan bahwa itu seharusnya dimulai pada malam Idul Fitri dan berlanjut sampai sholat Idul Fitri dimulai. https://saudigazette.com.sa/article/593264/SAUDI-ARABIA/Grand-mufti-urges-faithful-to-perform-Eid-prayer-at-home

Apabila daerah penanya berada di zona hijau dan pelaksanaan shalat Ied diizinkan oleh pemerintah setempat (setelah melakukan perundingan dengan MUI setempat) maka tidak apa melaksanakan shalat Idul Fithri dengan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatyan covid-19. Apabila penanya di zona hijau namun khawatir dengan potensi penularan covid-19 (berdasarkan fakta dan data) bila ikut shalat Idul Fithri di masjid atau di lapangan setempat maka boleh baginya melaksanakan shalat Idul Fithri di rumah. Untuk keterangan lebih lanjut tentang shalat Idul Fithri di zona hijau  bisa meruju' ke situs yang menukil keterangan Sekretaris Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia di link berikut: https://www.eramuslim.com/berita/nasional/resmi-mui-tak-larang-sholat-idul-fitri-berjamaah-di-masjid-dan-lapangan.htm#.XsYKT89R0dU

Wallahu ta'ala a'lam    

 

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com