SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Buyback Emas, Perak, Dinar, atau Dirham


Ikhwan (Jakarta Selatan)
6 months ago on Fiqih

Assalamualaikum, Ustadz, mau tanya. Saya merupakan penggiat investasi emas batangan, guna menjaga tabungan agar tidak tergerus inflasi. Namun, saat melakukan Buyback (menjual kembali emas) untuk di uang-kan maka ada hal yg membuat khawatir. Karena Buyback ini biasa di lakukan di salah satu BUMN Pertambangan atau Pegadaian dengan skema sebagai berikut: Ketika kita melakukan Buyback, kita menyerahkan emas di hari itu, namun kita hanya diberi kwitansi/tanda bukti bahwa uang akan ditransfer maksimal H+2 setelah akad dilakukan. Bagaimana hukum untuk kasus ini Ustadz. Barakallahu fiik.
Redaksi salamdakwah.com
6 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Wallahu ta'ala a'lam, bila memang uang pembayarannya ditunda seperti itu maka ini tidak boleh. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya," Terdapat seorang agen yang menjual emas kepada toko-toko perhiasan melalui sistem catatan. Harga yang ditawarkan adalah yang umum berlaku, baik secara kontan atau dengan catatan kredit. Kami membeli semuanya dari orang tersebut dengan pertimbangan bahwa kami dapat membayar setiap minggu sampai lunas. Terkadang periode pembayarannya berlangsung hingga lebih dari dua bulan, padahal kita tahu bahwa harga emas dunia tidak stabil?

Mereka menjawab,"Jual beli emas dengan perak atau apa yang dihukumi sama dengannya seperti berbagai jenis mata uang tidak diperbolehkan jika tidak diserahterimakan secara langsung. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad `Alaihish Shalatu was Salam,


الذَّهَبُ بِالوَرقِ رِباً إلِاَّ هَاء وَهاَء


"Jual beli emas dengan perak adalah riba, kecuali jika kedua belah pihak mengucapkan 'Anda ambil ini dan saya beri itu' (tunai)." (Muttafaq 'Alaih).

Dan berdasarkan sabda Beliau yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim dari `Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu `anhu,


الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ، وَالفِضَّةُ بِالفِضَّةِ، وَالبُرُّ بِالبُرِّ، وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالمِلْحُ بِالمِلْحِ، مِثْلاً بِمِثْلٍ، سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ، فَبِيْعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ، إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ


“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, jelai dijual dengan jelai, gandum dijual dengan gandum, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan. Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesuka kalian, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” HR. Muslim no.1587

Uang kertas memiliki kedudukan yang setara dengan emas dan perak karena status hukumnya sama sebagai alat pembayaran dan merupakan barang berharga. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 13/470-471 Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor:2730

Wallahu ta'ala a'lam