SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Antara Taubat, Shalat Taubat Atau Membenarkan shalat?


Akhwat (Yogyakarta)
4 months ago on Fiqih

Si fulan ini mau taubat nasuha karena ada dosa besar diwaktu yang bersamaan si fulan sedang membenarkan cara shalatnya karena dia saat shalat kurang khusyu pertanyaan shalat taubat nasuha dulu atau membenarkan cara shalat agar bisa khusyu?
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Orang yang berbuat dosa harus segera bertaubat kepada Allah ta'ala sebelum datang masa di mana  taubat tidak lagi diterima. Terlebih bila dosa itu termasuk dosa besar mengingat dosa besar sangat membahayakan pelakunya.

Supaya Allah ta'ala menghapus dosa-dosa kita yang telah lalu kita harus bertaubat kepada-Nya dengan taubat nasuha dan memenuhi syarat-syaratnya.

Diantara syarat taubat kepada Allah ta'ala adalah:
1. Ikhlas karena Allah ta'ala
2. Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan
3. Segera meninggalkan perbuatan tersebut.
4. Bertekad untuk tidak kembali ke dosa tersebut
5. Taubat tersebut dilaksanakan pada saat Taubat masih diterima
lih. Asy-Syarh Al-Mumti' 'ala Zad Al-Mustaqni' oleh syaikh Utsaimin 14/380

Ada pertanyaan yang dilontarkan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Reset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi:
Jika seseorang berdosa kemudian dia beristighfar (meminta ampun.pent) kemudian ia berbuat dosa lagi dan dilanjutkan dengan istighfar lagi, dan begitulah, beberapa saat dia tidak berbuat dosa lagi namun setelah beberapa saat dia mengulangi lagi (dosa.pent). Ini bagaimana hukumnya?

Mereka menjawab:
Apabila dia meminta ampun kepada Allah dan bertaubat dengan taubat nasuha serta berlepas diri dari dosa itu maka Allah akan menerima taubatnya serta mengampuninya. Apabila ia kembali berbuat dosa itu kemudian ia meminta ampun kepada Allah, bertaubat dengan taubat nasuha serta berlepas diri dari dosa itu maka Allah akan menerima taubatnya serta mengampuninya. Begitulah seterusnya.
Dosa maksiat yang telah lalu tidak bisa kembali setelah taubat yang sungguh-sungguh dilakukan. Allah ta'ala berfirman (Thaha:82) :


{وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى}


Dan Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
Dan firman Allah ta'ala (an-Najm:32)


{إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ}


Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan Nya. . Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/319 Pertanyaan kedua dari fatwa no.7825

Ada juga pertanyaan lain yang senada, bunyinya:
Saya telah melakukan banyak perbuatan dosa Dan kemungkaran, namun saya telah bertaubat. Meski demikian saya masih mengulangi kemungkaran tersebut.

Mereka menjawab:
Pujilah Allah subhanahu wa ta'ala yang masih memberi anda taufiq untuk introspeksi diri dan bertaubat dari kemungkaran.

Semoga Allah memberkahi anda. Berhati-hatilah jangan sampai setan Dan nafsu and a mengalahkan anda sehingga anda kembali jatuh pada hal yang diharamkan oleh Allah ta'ala. Apabila anda melakukan hal itu maka anda telah melanggar taubat anda. Sebab syarat-syarat taubat yang benar adalah:
1. Segera berlepas diri dosa tersebut.
2. Menyesali perbuatan itu.
3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan itu

Apabila taubat yang dilakukan itu ditujukan untuk perbuatan kedholiman terhadap hamba lain terkait harta, kehormatan agar jiwa maka Ada syarat tambahan (syarat keempat) yaitu: meminta kerelaan dan ridho dari orang yang didholimi atau memberikan apa yang menjadi haknya.

Bila taubatnya benar maka pelaku dosa itu tidak didakwa untuk dosa yang dilakukan sebelum taubat itu, namun ia hanya harus bertaubat atas dosa setelahnya. Dan begitulah seterusnya, setiap terjadi dosa pelakunya wajib bertaubat dengan memenuhi syarat-syarat yang disebutkan sebelumnya.
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/310-311, Pertanyaan pertama Dari fatwa no.16784

Apabila taubat itu disetai shalat taubat maka itu sangat bagus. Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa sallam bersabda terkait shalat tersebut:


مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ الله، إِلَّا غَفَرَ الله لَهُ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: {وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا الله} إِلَى آخِرِ الْآيَة


"Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka'at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya." Kemudian beliau membaca ayat ini (Ali-Imran:135): "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahuinya."HR. Abu Daud no. 1521. Dishahihkan oleh al-Albani

Apabila dosa itu berbentuk kedholiman kepada yang lain maka ada syarat lain yang harus dipenuhi yaitu meminta keridhoan dan kehalalan dari orang yang didholimi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ 


“Siapa yang berbuat kedzaliman kepada saudaranya baik dari sisi kehormatan atau sesuatu hal, maka mohonlah dihalalkan darinya sekarang (pada hari ini) sebelum tidak berguna lagi dinar dan dirham. Kalau dia mempunyai amal shaleh, maka akan diambil darinya sesuai dengan kadar kedzalimannya. Kalau tidak mempunyai kebaikan, maka keburukan orang tersebut akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2449)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الظُّلْمُ ثَلَاثَةٌ: فَظُلْمٌ لَا يَتْرُكُهُ اللهُ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ، وَظُلْمٌ لَا يُغْفَرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُغْفَرُ فَالشِّرْكُ لَا يَغْفِرُهُ اللهُ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ فَظُلْمُ الْعَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُتْرَكُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ فَيَقْتَصُّ اللهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ "


“Kedzaliman itu ada tiga; kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan, kedzaliman yang akan dia ampuni, dan kezhaliman yang tidak akan dia ampuni. Adapun kedzaliman yang tidak Allah ampuni adalah syirik, itu tidak akan Allah ampuni. Adapun kedzaliman yang akan diampuni adalah kedhaliman hamba (terhadap dirinya sendiri) dalam perkara yang ada antara dirinya dan Rabb-nya. Adapun kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah kezhaliman sesama hamba hingga Alah akan mengqishah yang satu dengan yang lain.” Hilyatul auliya' wa Tabaqat al-Ashfiya' 6/309 . Hadits ini hasan menurut syaikh al-Albani, lih. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 4/560

Apabila diperhatikan dengan seksama hadits di atas kita akan dapati bahwa kedholiman bisa menyengsarakan pelakunya di akhirat kelak, menyengsarakannya di kehidupan abadi mengingat kedholimannya dibayar dengan pahala yang ia perbuat di dunia atau ia akan menanggung dosa dari orang yang ia dholimi. Sungguh ini merupakan kesengsaraan dan kerugian yang nyata.

Sebagai contoh dalam kasus pencurian, terjadi kedholiman terhadap pemilik barang dengan cara menghalangi pemilik barang untuk menggunakan barang miliknya yang sah. Cara bertaubat dari dosa ini adalah segera mengembalikan barang tersebut ke pemiliknya, bahkan seandainya pemilik barang tersebut adalah non muslim, barang tersebut juga harus dikembalikan selama ia bukanlah kafir yang diperangi.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:
Ayah saya bekerja di sebuah perusahaan kira-kira sejak tiga puluh tahun lalu, dan sekarang beliau sudah pensiun. Di perusahaan tersebut, ayah saya bekerja di bagian pertukangan dan pernah mengambil sebagian perkakas milik perusahaan tanpa sepengetahuan mereka serta menyimpannya di rumah. Barang-barang seperti palu, gergaji, bermacam jenis paku, dan banyak lagi yang lainnya, masih tersimpan di rumah kami sampai sekarang. Ayah saya menganggap bahwa tindakannya mengambil semua barang itu adalah halal karena mayoritas pekerja yang terkait dengan tempat itu beragama Yahudi yang terikat kontrak dengan perusahaan. Ayah saya yakin sekali bahwa hal itu tidak masalah. Syekh yang terhormat, mohon beri kami penjelasan segera tentang pertanyaan ini agar saya bisa merespon dan meyakinkannya dengan pendapat Anda.

Mereka menjawab:
Ayah Anda wajib mengembalikan semua alat pertukangan itu ke perusahaan, kecuali jika dia sudah mendapat izin. Pengembalian itu wajib dilakukan sekalipun mereka orang-orang kafir. Sebab, mereka telah meminta perlindungan di negara Islam, sehingga harta mereka pun menjadi terlindungi dengan kontrak keamanan tersebut. Harta mereka tidak boleh diambil dengan cara yang tidak benar.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/36- 37 pertanyaan pertama dari fatwa no. 17681.

Membenarkan shalat yang salah perlu dilakukan baik seseorang itu dalam keadaan bertaubat secara khusus ataupun tidak. Imam Tirmidzi (413) telah meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ . ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ 

“Sungguh yang pertama kali dihisab dari amalan seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya, jika shalatnya baik maka dia akan beruntung dan sukses, namun jika shalatnya rusak maka dia telah merugi, dan jika shalat fardhunya ada sesuatu yang kurang, maka Allah –‘Azza wa Jalla- berfirman: “Lihatlah, apakah hamba-Ku ini mempunyai shalat-shalat sunnah, maka itulah yang akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan dari shalat fardhunya, kemudian seluruh amalnya juga akan berlaku seperti itu”. (Dishahihkan oleh Albani dalam Shahih Tirmidzi)

Berikut ini keterangan syaikh Utsaimin yang kami terjemahkan terkait khusyu':
Khusyu' adalah hadirnya hati dan tenangnya anggota badan, maksudnya: Hatimu dalam keadaan sadar, berusaha sadar dengan apa yang diucapkan dan dilaksanakan dalam sholat, ia juga berusaha menghadirkan perasaan bahwa ia sedang di depan Allah azza wa jalla dan ia sedang bermunajat kepada rabnya. Asy-Sayarh al-Mumti' 'ala Zad al-Mustaqni' 3/334

Terkait cara mencapai khusyu' perlu diketahui bahwa salah satu sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang bernama Utsman bin Abi al-Ash pernah mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan berkata: “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan mengacaukan bacaanku, Beliau bersabda:
“Itulah setan yang disebut dengan ‘Khanzab’, jika engkau merasakan kehadirannya maka bacalah ta’awudz (a’udzu billahi minas syaithanir rajim) dan meludah ringanlah ke arah kiri tiga kali.”
Utsman melanjutkan: “Akupun melaksanakan wejangan Nabi tersebut dan Allah mengusir gangguan tersebut dariku.” HR. Muslim no. 2203 dan diriwayatkan oleh yang lainnya juga.

Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta'ala ketika ditanya tentang hal-hal yang membantu seseorang mencapai kekhusyu'an Beliau mengisyaratkan cara yang disebutkan pada hadits Utsman bin Abi al-Ash yang telah lalu. Beliau mengatakan bahwa itu adalah obat yang paling bermanfaat, selanjutnya Beliau menerangkan:
Hendaknya seseorang yang shalat menghadirkan rasa pengagungan terhadap dzat yang ia berdiri di hadapan-Nya, yaitu Allah ta'ala. Hendaknya ia juga dalam shalatnya merenungi dan menghayati apa yang ia baca dari firman Allah ta'ala, dari dzikir yang ia baca, dari amalan dan gerakan yang ia lakukan sampai jelas baginya keagungan shalat. Ketika itu akan hilang darinya bisikan-bisikan itu. Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 14/91

Meludah ringan yang disebutkan dalam hadits maksudnya adalah dengan cara meniupkan udara yang mengandung sedikit air ludah. Perlu diperhatikan bahwa ini disyaratkan tidak mengganggu orang yang berada di sebelah kirinya dan tidak mengotori masjid.

Sebelum shalat hendaknya seorang muslim membereskan urusannya yang mendesak, yang kemungkinan besar akan menggangu konsentrasinya ketika shalat. Di samping itu juga seharusnya ia mengenyangkan perutnya bila ia lapar atau haus. Dia juga seharusnya buang air bila merasa ingin kencing atau ingin buang air besar sebelum shalat.

Tidak lupa kami sampaikan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
 


إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّع..
 


Kalau Engkau mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia) HR. Ibnu Majah no.4171. Dihasankan oleh al-Albani. Lih. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 1/758

Apabila seseorang sebelum shalat merasa akan meninggal niscaya ia akan berusaha sebisa mungkin untuk memperbanyak dan memperbagus amalan baiknya (termasuk shalat) sehingga ia bisa mendapatkan ampunan dan karunia Allah ta'ala setelah ia meninggalkan dunia.


والله تعالى أعلم بالحق والصواب


 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com