SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Istri Sebut Basmalah dan Kata Cerai Di Atas Mushaf, Istri Menentang Hijrah Suami


Ikhwan (Bogor)
2 weeks ago on Keluarga

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Ustadz.. Saya sudah menjalani bahtera rumah tangga bersama istri saya selama hampir 15 tahun. Saya telah membuat kesalahan fatal di rumah tangga saya dengan pernah menyatakan perasaan terhadap perempuan lain hingga saya dipukuli oleh suaminya di depan istri saya, kemudian setelah kejadian itu, saya berjanji dan bersumpah kepada diri sendiri, istri dan juga Allah SWT untuk bertobat dan tidak akan mengulanginya lagi. Kejadian tersebut telah merubah cara berpikir saya, sehingga saya sangat ingin berhijrah untuk lebih memperdalam ilmu agama, akan tetapi semakin saya memperdalam agama, ujian semakin bertubi-tubi antara lain istri yang masih selalu mengungkit-ungkit kesalahan saya hingga berbulan-bulan dan sepertinya istri saya belum puas kalau dendamnya belum tersampaikan dan dia tidak mengijinkan saya berhijrah dalam waktu dekat. Hingga puncaknya pada malam hari kami bertengkar dengan disaksikan oleh anak-anak dan dia mengucapkan basmalah dan kata cerai di atas mushaf lalu menyalami saya. Bagaimanakah hukumnya Ustadz, saya mohon penjelasannya, karena saya masih sayang istri saya akan tetapi saya selalu diinjak-injak, tidak ada lagi harga diri saya karena kesalahan saya itu.. Saat ini tekad saya untuk hijrah di jalan Allah lebih besar dari rasa sayang dan cinta saya kepada istri saya
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Semoga Allah ta'ala memudahkan penanya untuk menempuh jalan kebaikan dan istiqomah di dalamnya. Idealnya penanya menyebutkan apa sebab istrinya tidak menyukai dia berhijrah. Secara umum kami sampaikan bahwa hijrah dengan lebih mendalami agama dan melaksanakannya merupakan hal yang baik.

Apabila istri tidak menyukai itu disebabkan ia merasa terbebani dan tidak nyaman dengan aturan-aturan agama maka tentu saja suami tidak boleh mengikuti keinginan istrinya untuk meninggalkan hijrah. Oleh karena itu penanya perlu mendakwahi istrinya dengan bijak dan menndoakannya selalu semoga Allah memberinya hidayah.

Yang istri penanya lakukan dalam bentuk mengucapkan basmalah dan kata cerai di atas mushaf kemudian menyalami maka itu tidak berefek jatuhnya talak karena talak dan cerai berada di tangan suami. Istri hanya berhak mengajukan khulu' bila memang ingin bercerai, dan itu sah bila suami mengikuti keinginannya atau hakim yang menerima permohonan itu.

Allah –ta’ala- telah menjadikan talak sebagai hak suami, dia bisa menjatuhkan talak kepada istrinya jika dibutuhkan, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menentukan masalah ini dalam sabdanya:

إنّما الطّلاق لمن أخذ بالسّاق  

“Sesungguhnya talak itu bagi siapa yang mengambil betisnya (bahasa kiasan tentang jimak)”. (HR. Ibnu Majah: 2072 dan dihasankan oleh Albani dalam Sunan Ibnu Majah)

Al Mawardi –rahimahullah- berkata dalam Syarah Hadits: “Maka Dia menjadikan talak itu menjadi hak suami bukan yang lain”. (Al Hawi al Kabiir: 10/356)

Disebutkan dalam Al Bayan fii Madzhabil Imam Syafi’i (10/318): “Suamilah yang mengambil betis istrinya (kiasan dari jimak)”.

Umar –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Sesungguhnya talak itu berada ditangan orang yang dihalalkan menjimaknya”. (al Mughni / Ibnu Qudamah: 7/355)

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- berkata dalam Asy Syarhul Mumti’ (12/490): “Alloh –ta’ala- telah menyandarkan nikah dan talak kepada suami sendiri, sebagaimana dalam firman-Nya:

( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ )

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka…”. (QS. Al Ahzab: 49) 

Seraya Alloh menyandarkan talak kepada laki-laki yang menikahinya, maka talak itu berada di tangan sang suami”. (islamqa.info)

Terkait sikap terhadap istri yang menentang hijrah penanya, berikut ini kami nukilkan salah satu contoh dalam tanya jawab bila istri tidak komitmen terhadap sebagian syariat. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa:
Di sebagian negara hijab wanita muslimah jarang ditemui. Seorang laki-laki menikah dengan wanita muslimah namun ia tidak rela untuk mengenakan hijab, ketika itu apakah laki-laki itu mentalaknya atau apa yang harus ia lakukan? Ada juga laki-laki muslim yang lain yang menikah dengan wanita ahli kitab, dan ia pun tidak mau mengenakan hijab, bagaimanakah hukumnya?

Mereka menjawab:
Seorang wanita yang tidak mau menutup auratnya dari laki-laki yang bukan mahram dianggap wanita yang bermaksiat terhadap suaminya dan menyelisihi syariat Allah ta'ala. Suaminya wajib untuk menasehatinya untuk mengenakan hijab yang syar'i, apabila wanita itu tidak terima maka ia boleh mentalaknya, baik wanita itu muslimah atau ahli kitab, ini sebagai bentuk menjauhi kemungkaran, menjaga keluarga dari sumber keburukan. Wabillahi at-Taufiq. Wa shallallahu ala Nabiyina Muhammad wa alihi wa sahbihi wa sallam. Al-Lajnah ad-Daimah 17/108-109 pertanyaan ke tiga dari fatwa no.5089

Oleh karena itu selayaknya si suami menasehati istrinya yang menolak menolak hijrah suami dengan nasehat secara langsung dan tidak langsung. Nasehat secara langsung bisa dilakukan dengan mencari waktu, situasi dan kondisi yang tepat untuk bisa memberi masukan yang baik, khususnya tentang hijrah.

Nasehat secara tidak langsung bisa dilakukan dengan memberinya audio atau video ceramah, meminta orang yang ia dengar omongannya untuk menasehatinya, mengajaknya untuk mendatangi majlis-majlis ilmu dan memasukkannya ke komunitas wanita-wanita sholehah serta cara-cara lainnya. Dengan tidak melupakan do'a kepada Allah ta'ala secara rutin (khususnya pada waktu dan tempat yang mustajab) semoga Allah ta'ala memberinya hidayah dan menyelamatkannya dari api neraka serta menjadikan Anda terus istiqomah dalam kebaikan.

Semoga Allah ta'ala memberi hidayah istri penanya secara khusus dan istri-istri kaum muslimin secara umum sehingga rumah tangga kaum muslimin dipenuhi keberkahan, ketenangan dari Allah ta'ala dan dipenuhi juga dengan cinta kasih.

Wallahu ta'ala a'lam.

  

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com