SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Meninggalkan Shalat Bertahun-Tahun


Ikhwan (Bekasi kota)
4 months ago on Ibadah

Assalamualaikum ustadz, mohon izinkan saya untuk bertanya. Jadi begini ustadz, saya pernah meninggalkan sholat selama bertahun tahun dan tak terhitung berapa banyak jumlahnya, tapi saya sudah perkirakan jumlahnya selama sekian tahun dan sekarang ini saya sudah bertaubat. Nahh begini ustadz, dari informasi yang saya dapat kita diharuskan untuk mengqodho seluruh sholat wajib yang pernah kita tinggalkan dengan cara mencicil setiap harinya. Apakah itu benar ustadz? Tetapi kemudian saya memilih untuk menuruti dan mulai mencicil qodho sholat yang pernah saya tinggalkan, nah tetapi terkadang saya merasa malas ustadz, kadang ada hari saat saya mencicilnya tapi terkadang juga tidak. Tetapi untuk sholat wajib yang memang harus saya lakukan setiap hari (bukan sholat untuk mengqodho) selalu saya jalankan setiap harinya pak ustadz, tetapi terkadang saya malas sehingga tidak setiap hari saya mencicil qodho sholat yang dulu pernah saya tinggalkan. Apakah berdosa pak ustadz? Haruskah saya selalu berusaha mencicilnya setiap hari?
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Ada perbedaan pendapat di kalangan Ulama' terkait cara taubat orang yang sebelumnya meninggalkan shalat (namun ia tidak mengingkari bahwa hukum shalat adalah wajib). Mayoritas Ulama' mengatakan ia harus mengqadha', sebagian Ulama' mengatakan dia tidak perlu mengqadha' karena orang yang meninggalkan shalat hukumnya kafir oleh karena itu dia wajib bertaubat dan masuk Islam lagi serta memperbanyak amal shaleh. Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya:

Apa yang Syaikh katakan mengenai orang yang sengaja meninggalkan shalat dan puasa, namun setelah Allah beri dia hidayah dan kembali kepada Allah dia menangisi kelalaian dirinya. Dia kembali melaksanakan shalat, puasa dan mengerjakan semua ibadah-ibadah. Apakah dia diperintahkan untuk meng-qadha (mengganti) shalat dan puasa yang pernah ditinggalkannya ataukah cukup dengan kembali dan taubat?

Beliau menjawab :

Barang siapa yang meninggalkan shalat dan puasa kemudian bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, tidak diharuskan mengganti apa yang telah ditinggalkan. Karena meninggalkan shalat adalah kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari millah (agama Islam) sekalipun dia tidak mengingkari wajibnya. 

shalat, menurut satu dari dua pendapat ulama yang paling sahih. Allah -subhânahu wata'âla- telah berfirman,

 

قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوا إِن يَنتَهُوا يُغْفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَ

 

 

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, jika mereka berhenti (dari kekafirannya) niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu...” (QS. al- Anfal :38)

Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,

 

الإسلام يهدم ما كان قبله والتوبة تجب ما قبلها 

 
 

“Islam itu menghapus apa yang telah lalu (dari dosa kekafiran) dan taubat itu menutup apa yang sebelumnya (dari dosa kemungkaran).”

Dalil-dalil mengenai hal ini banyak, di antaranya firman Allah -subhânahu wata'âla- ,

 

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ 

 

 

“Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertaubat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.” (QS. Thaha :82)

Firman-Nya –subhânahu wata’ala-,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ  

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah- mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan- kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga- surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai...” (QS.at-Tahrim : 8)

Dan di antaranya pula sabda Nabi -shalallahu alaihi wasallam- ,

 

التائب من الذنب كمن لا ذنب له

 

“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR.Ibnu Majah) 

Disyariatkan bagi orang yang bertaubat untuk memperbanyak amalan-amalan kebajikan dan memperbanyak meminta kepada Allah –subhânah- agar ditetapkan berada dalam kebenaran dan husnulkhatimah (baik penutupan akhir hidupnya). Allah-lah pelindung dan pemberi taufik.

[Majmu Fatwa wa Maqôlat Mutanawi'ah juz XXVIII]

 

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com