SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Sendawa Disengaja Apakah Hukumnya Seperti Muntah?


Akhwat (Surabaya)
4 months ago on Fiqih

Assalamu'alaikum Saya saat puasa kadang sengaja bersendawa, karena sendawanya tertahan di kerongkongan dan harus dipaksa keluar. Jika tidak dipaksa keluar akan menimbulkan rasa tidak nyaman/sakit. Akan tetapi kadang sendawa ini disertai air/sisa makanan yang ikut keluar. Apakah sendawa ini dihukumi sama seperti muntah yang disengaja? Apakah puasa-puasa terdahulu harus diqadha karena ini? Wassalamu'alaikum
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apabila memang sendawa itu menyakitkan jika tidak dikeluarkan maka tidak apa-apa dikeluarkan. Terkait makanan yang kadang menyertai maka kalau sudah naik dan bisa dikeluarkan maka makanan itu dibuang keluar kemudian mulutnya dicuci. Jangan sampai makan itu ditelan lagi. Ulama' yang bernama ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj 3/171 menerangkan:

 

أَكَلَ أَوْ شَرِبَ لَيْلا كَثِيرًا وَعُلِمَ مِنْ عَادَتِهِ أَنَّهُ إذَا أَصْبَحَ حَصَلَ لَهُ جُشَاءٌ يَخْرُجُ بِسَبَبِهِ مَا فِي جَوْفِهِ هَلْ يَمْتَنِعُ عَلَيْهِ كَثْرَةُ مَا ذُكِرَ أَوْ لا , وَهَلْ إذَا خَالَفَ وَخَرَجَ مِنْهُ يُفْطِرُ أَمْ لا ؟

فِيهِ نَظَرٌ , وَالْجَوَابُ عَنْهُ بِأَنَّهُ لا يُمْنَعُ مِنْ كَثْرَةِ ذَلِكَ لَيْلا , وَإِذَا أَصْبَحَ وَحَصَلَ لَهُ الْجُشَاءُ الْمَذْكُورُ يَلْفِظُهُ وَيَغْسِلُ فَمَه وَلا يُفْطِرُ وَإِنْ تَكَرَّرَ مِنْهُ ذَلِكَ مِرَارًا كَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ اهـ .

 

Seseorang makan dan minum banyak di malam hari, dia tahu berdasarkan pengalaman bahwa ketika pagi tiba dia akan bersendawa yang akhirnya apa yang ada di perutnya akan keluar. Haruskah dia diberitahu untuk tidak makan dan minum terlalu banyak, dan jika ia menyelisihi itu kemudian  sesuatu keluar darinya apakah itu menjadikan puasanya batal atau tidak?

 

Ada pertimbangan tertentu. dan jawabannya ialah bahwa ia tidak dilarang untuk memperbanyak makan dan minum malam hari, jika ia bersendawa di pagi harinya maka ia perlu meludahkannya dan mencuci mulutnya dengan begitu puasanya tidak batal meskipun ini terjadinya berulang, ini seperti muntah yang tidak disengaja.

Ada kemungkinan bahwa banyak bersendawa itu disebabkan makan dan minum terburu-buru atau makan dan minum yang berlebihan. Bila faktanya demikian maka seharusnya penanya mengatur jadwal sahurnya atau/dan makan dan minum tidak berlebihan, apabila penanya khawatir lemas bila makan tidak banyak maka pilihlah bahan makanan (untuk sahur) yang bergizi tinggi sehingga itu insya Allah akan cukup membantu fisik saat berpuasa meski itu dikonsumsi tidak banyak. Allah ta'ala berfirman tentang perlunya kita tidak berlebihan dalam makan dan minum:

 

( وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ) 

 

"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

 

مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَات يُقِمْنَ صُلْبَهُ ، فَإِنْ كَانَ لا مَحَالَةَ ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِا

 

“Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak  ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya." (HR. Tirmizi, no. 2380, Ibnu Majah, no. 3349, dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab shahih Tirmizi, no. 1939)

 

Wallahu ta'ala a'lam

 

 

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com