SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Ketika Pasangan Hidup Selingkuh


Ikhwan (bangka)
5 months ago on Keluarga

Assalamualikum Ustad, saya seorang suami yang telah di karuniai 4 orang anak,saya punya masalah dengan istri saya sejak lama sebelum anak ke 3 lahir ,istri saya pernah ketahuan selingkuh dan hampir saja saya menceraikannya,tapi saya waktu itu nggak tega melihat 2 anak saya yang masih kecil.sebenarnya istri saya juga mau saya pilangin ke orang tuanya akhirnya denga berat hati saya memaafkan nya dengan pertimbanagan nggak mau liat anak2 kehilangan kebahagiannya, biarkanlah saya yang berkorban.tapi terus terang saja keluarga saya tidak seharmonis dulu lagi istri seperti nggak mau atau malas melayani saya padahal saya sudah berusaha melupakan kejadian dulu meski kadang2 teringat2.kadang2 saya menganggap tidak mempunyai istri lagi dia hanya ibu buat anak2 saya meski semua kebutuhan saya tetap penuhi seperti biasa sampai saya nggak pernah memikirkan kebutuhan saya sendiri.kadang dalam sholat saya menangis dan bertanya dalam hati apakah kehidupan seperti ini kan saya teruskan atau saua akhiri,tapi kalau meliat anak2 saya tak tega mereka akan kehilangan karena perpisahan orangtuanya. bagaimna saya harus bersikap bertindak ustad?apakah di hukum islam di perbolehkan seperti ini mempunyai istri tapi seperti gak punya istri..mohon pencerahannya Ustad Wassalammualaikum
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Semoga Allah ta'ala memberi hidayah kepada istri Anda sehingga bisa menjadi istri yang sholehah dan mentaati arahan suami yang tidak menyelisihi syariat. Mintalah dia bertaubat dengan taubat nasuha dan mintalah dia untuk berkomitmen dengan sungguh-sungguh. Anda juga perlu melakukan introspeksi diri serta menjauhi hal-hal yang tidak disukai oleh istri (selama keinginannya tidak menyelisihi syariat). Jagalah istri anda jangan sampai dia terjatuh kembali ke dosa tersebut. Apabila anda tidak mampu menjaga dia maka anda seharusnya mentalak dia. Dalam salah satu riwayat disebutkan,"


جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ امْرَأَتِي لَا تَمْنَعُ يَدَ لَامِسٍ قَالَ: «غَرِّبْهَا» قَالَ: أَخَافُ أَنْ تَتْبَعَهَا نَفْسِي، قَالَ: «فَاسْتَمْتِعْ بِهَا


Seorang laki-laki datang menghadap Nabi dan berkata: Istri saya tidak menolak menolak sentuhan tangan lelaki lain. Nabi menjawab: asingkanlah dia (ceraikan.pent). Laki-laki itu berkata: Saya khawatir diri saya masih sayang. Nabi berkata: Kalau begitu, bersenang-senanglah dengannya (pertahankan). Hadits riwayat (HR) Abu Daud no.2049; an-Nasai no.3229 dan yang lainnya

Dalam riwayat Syafi'i disebutkan,"


أَتَى رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله، إِنَّ لِيَ امْرَأَةٌ لَا تُرَدُّ يَدَ لَامِسٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَطَلِّقْهَا» . قَالَ: إِنِّي أُحِبُّهَا، قَالَ: «فَأَمْسِكْهَا إِذًا»


Seorang laki-laki datang menghadap Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan berkata: Istri saya tidak menolak sentuhan tangan lelaki lain. Nabi menjawab: ceraikan dia. Laki-laki itu berkata: Tapi saya mencintainya. Nabi berkata: Kalau begitu, pertahankan.

Syaikh Ali al-Qari menerangkan perihal riwayat tersebut,"
(Istri saya tidak menolak sentuhan tangan lelaki lain) Dia tidak menjaga dirinya dari orang yang ingin berbuat kekejian dengannya 
(Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata," talaklah dia" Dia berkata," saya mencintainya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"kalau begitu pertahankan") maksudnya jagalah dia supaya dia tidak berbuat kekejian. Hadits ini menunjukkan bahwa mentalak perempuan semacam ini lebih utama sebab Nabi shallallahu alaihi wa allam mendahulukan opsi mentalak dari mempertahankan. Bila susah untuk mentalaknya misalnya karena mencintainya atau memperoleh anak darinya yang susah terpisah dari ibunya, atau si suami punya hutang kepada istri tersebut dan belum mampu melunasinya, bila demikian boleh baginya untuk tidak mentalaknya namun dengan syarat dia bisa menjaga istrinya dari perbuatan keji, bila dia tidak mampu menjaganya dari perbuatan keji maka dia telah berbuat maksiat dengan tidak mentalaknya. Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih 5/2171

Terkait kehidupan rumah tangga yang tidak lagi harmonis, anda bisa menarik kembali benih-benih cintanya dengan memberikan semua yang dia sukai selama itu tidak melanggar syariat, jadikanlah anak-anak sebagai wasilah mempererat hubungan dengannya. Apabila istri tetap tidak mau memberikan hak anda maka anda boleh untuk poligami supaya kebutuhan anda terpenuhi dan rumah tangga anda tetap utuh. Namun jangan sampai poligami yang anda lakukan malah memperkeruh suasana dan hubungan antara anda dan istri. Kami doakan semoga Allah ta'ala mengembalikan rasa cinta istri anda kepada anda dan mengembalikan keharmonisan dalam rumah tangga anda.

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

PERTANYAAN TERKAIT

© 2018 - Www.SalamDakwah.Com