SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

tidak menjawab pertanyaan agama


Akhwat (Yogyakarta)
6 months ago on Fiqih

Assalamualaikum wr br maaf menganggu ustadz saya ingin bertanya 1.Apakah saya berdosa karena tidak menjawab pertanyaan si fulan karena tujuan si fulan adalah berdebat? 2.apakah saya berdosa tidak menjawab pertanyaan karena pertanyaan yang dilontarkan mempunyai inti yang sama?
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Boleh tidak menjawab pertanyaan bila yang ditanya tidak tahu hukumnya atau memang tidak ada maslahat dan manfaat buat penanya bila dijawab. Apabila memang mau diskusi dengan diiringi niat baik maka tidak apa-apa, namun bila bertanya hanya untuk debat yang tujuannya memenangkan pendapat sendiri dan tidak mencari kebenaran maka tidak perlu dijawab.

Syaikh Ibrohim Ar-Ruhaili menerangkan dalam kitab beliau al-Hikmah:

Adapun tingkat perbedaan pertanyaan-pertanyaan dilihat dari sisi keumuman dan kekhususan maka ini perlu  perhatian lebih jauh dari pemberi fatwa. Dengan begitu dia bisa membedakan antara pertanyaan  Umum yang berkaitan dengan keadaan-keadaan umat seperti keadaan keadaan saat berjihad, dan pengingkaran yang umum, dan apa yang berkaitan dengan peraturan-peraturan negara serta sikap politik negara terhadap negara lain, atau hal lain yang ini dikaitkan dengan penguasa, maka tidak baik menjawab orang-perorang pada masalah ini, Mengingat masalah ini tidak penting bagi mereka dan maslahat tidak terwujud dengan cara begini bahkan bisa jadi ini menyeret mereka ke dalam fitnah dan menimbulkan mudhorot untuk mereka dan yang lainnya.

Begitu pula pertanyaan-pertanyaan khusus yang perlu dilihat apakah itu berkaitan dengan masalah khusus untuk orang yang meminta fatwa dalam hal yang ia perlukan dari masalah agama ataukah masalah ini berkaitan dengan orang lain seperti pertanyaan tentang persengketaan antara orang yang minta fatwa dan yang lainnya. Saat itu  Mufti tidak perlu menjawab masalah-masalah yang ada hubungannya dengan yang lain seperti masalah persengketaan-persengketaan, ini karena penanya bisa jadi Kurang dalam menggambarkan keadaan serta tidak bersikap adil terhadap orang yang bersengketa dengannya dilihat dari sisi Menjelaskan keadaan, Jadinya jawaban disesuaikan dengan penggambaran salah satu pihak yang bersengketa tanpa gambaran pihak lain Oleh karena itu ulama yang munshif punya kebiasaan tidak ikut menjawab pertanyaan salah satu pihak yang bersengketa. Mereka mengarahkan orang-orang bersengketa itu untuk merujuk ke pengadilan dalam rangka mencari keputusan dalam perselisihan-perselisihan ini 

Adapun yang berkaitan dengan tingkat kebutuhan terhadap sikap bertanya atau tidak  Maka ini termasuk Sisi penting yang perlu diperhatikan dalam fatwa. Bisa jadi pertanyaan tersebut tidak penting bagi penanya dan tidak ada maslahatnya untuk dia saat pertanyaan itu dijawab,seperti pertanyaan tentang bahasa Penduduk Surga,  atau  tentang melihat jin di  surga , atau tentang ahli kubur yang saling mengunjungi di kuburan mereka.

Kadang-kadang pertanyaan termasuk sesuatu yang hukum asalnya memang tidak boleh ditanyakan seperti pertanyaan tentang terjadinya hari kiamat dan bagaimana sifat Allah ta'ala. Bisa jadi pertanyaan tentang masalah yang pelik yang memang tidak sesuai dengan keadaan penanya seperti pertanyaan tentang rincian masalah wara’, padahal penanya sendiri berasal dari kalangan orang yang lalai dalam masalah yang wajib, masalah masalah seperti ini tidak perlu dijawab, Penanya tersebut diarahkan untuk:

  • Tidak bertanya tentang hal itu atau
  • mufti memberinya jawaban yang bermanfaat baginya dalam masalah agamanya, inilah yang dikenal dengan (Uslub al-Hakim), yakni menjawab penanya dalam hal yang tidak ditanyakan namun bermanfaat untuk dia.

Dalil untuk pernyataan ini yang berasal dari sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam  adalah jawaban Nabi shallallahu alaihi wa sallam terhadap orang yang bertanya kepada beliau tentang hari kiamat, sekali beliau menjawab bahwa beliau tidak mengetahuinya, dan ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jibril ketika JIbril bertanya kepada Nabi Muhammad tentang hari Kiamat, beliau menjawab: Yang ditanya tidaklah lebih tahu dibandingkan yang bertanya.

Di kesempatan lain beliau menjawab dengan informasi tentang kiamat kecil yaitu kiamatnya setiap orang yaitu waktu kematiannya.

Sebagaimana diriwayatkan dalam shaih Bukhari dan Muslim dari hadits Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya ada beberapa lelaki Arab Badui mendatangi Nabi shallalahu alaihi wa sallam mereka bertanya kapankah hari kiamat itu? Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihat orang yang paling muda di antara mereka kemudian Nabi bersabda:

Apabila orang ini hidup,  “Jika hidup pemuda ini dan tidak mendapati kematian, maka mulai saat itulah kiamat kalian datang.” HR. Muslim 

Hisyam bin Urwah (perawi hadits ini)  menceritakan dari ayahnya dari Aisyah yakni “kematian” mereka  

Ini pendapat Ulama’ terkait makna hadits, yakni bahwasanya   yang di dimaksud oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam   adalah meninggalnya orang yang hidup di masa itu,

Dan dan dikali ke-3 nabi menjawab  penanya dengan ungkapan beliau apa yang telah engkau siapkan untuknya, maka Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengalihkannya dari pertanyaan tersebut ke sesuatu yang layak untuk dia perhatikan seperti persiapan menghadapi kiamat dengan amalan dan tidak fokus dengan pertanyaan tentang kejadian kiamat itu.  

Dan ini termasuk Hikmah dalam menjawab, variasi nya Disertai pengalihan penanya dari pertanyaan yang tidak memiliki jalan untuk diketahui ke Sesuatu yang bermanfaat untuknya. 

Adapun yang berkaitan dengan jawaban maka itu bertingkat dan berbeda dilihat dari sisi Mengikuti permintaan penanya atau tidak, Dan dari sisi kejelasan atau tidak, dari sisi perincian atau singkatan, oleh karena itu  orang yang berfatwa selayaknya memperhatikan sisi-sisi ini, bisa jadi jawabannya adalah memalingkan diri untuk menjawab secara utuh yang itu mengandung arahan atau pendisiplinan implisit  untuk penanya dengan cara Berpaling darinya. Kadang  dia respon dengan  tidak menjawab pertanyaan tersebut dikarenakan suatu hal yang berkenaan dengan mufti seperti dia tidak memiliki ilmu dalam hal itu, dia bisa mengatakan kepadanya: saya tidak tahu, saya tidak punya ilmu dalam masalah itu.

Kadang disebabkan suatu hal yang ada pada orang yang meminta fatwa dengan ungkapan bahwasanya itu tidak bermanfaat dan tidak ada maslahat buat anda.

 alhikmah hal 68-72

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com