SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Membaca Al Quran Kala Sedih dan Gundah


Akhwat (Depok)
4 months ago on Ibadah

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatu Bagaimana hukum syari nya membaca alquran sebagai penghilang kesedihan dan kegundahan? Terima kasih Wasalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Secara umum al-Qur'an bisa menjadi obat untuk badan dan hati. Kesedihan dalam hati insyaAllah bisa hilang dengan membaca al-Qur'an biidznillah, terlebih dengan mentadabburi maknanya, karena di dalam al-Qur'an ada kisah-kisah kesabaran para Nabi dan orang-orang sholeh yang bila dibandingkan cobaannya dengan orang yang bersedih pada masaa sekarang tentu cobaan mereka lebih besar namun mereka tetap bersabar dan tegar serta tidak tenggelam dalam kesedihan mendalam yang bisa merusak penghambaan diri kepada Allah ta'ala.

 Allah Azza Wajalla berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (QS. Al-Isra: 82)

Al-Allamah Muhammad AL-Amin As-Syinqity rahimahullah berkata:
“Hal ini mencakup penyembuhan penyakit hati, seperti ragu-ragu, nifaq dan selain itu. Juga merupakan  obat untuk badan kalau diruqyah dengannya. Sebagaiamana kisah seseorang yang terkena bisa dan diruqyah dengan Al-Fatihah. Kisah ini terdapat dalam kitab shaheh terkenal.’ (Tafsir Adhwaul bayan, 3/253)

Allah –Ta’ala- juga berfirman:


( قل هو للذين آمنوا هدى وشفاء )


“Katakanlah: "Al Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar ". (QS. Fushilat: 44)

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata tentang surat al-Fatihah, “Fatihatul kitab, Ummul Qur’an, As-Sab’ul Matsani, kesembuhan total, obat yang bermanfaat, ruqyah sempurna, kunci kekayaan dan kemenangan, penjaga kekuatan, menghilangkan sedih, gundah, ketakutan, kesedihan,  bagi orang yang mengetahui kemuliaannya dan memberikan haknya serta menempatkan dengan tepat dalam mengobati suatu penyakit, mengetahui bagaimana cara kesembuhan dan mengetahui rahasia yang terkandung di dalamnya.

Maka ketika sebagian shahabat mendapatkan kenyataan tersebut, mereka menjadikannya  sebagai ruqyah dengannya dan langsung sembuh. Maka Nabi sallallahu’alaihi wa sallam mengatakan kepadanya, “Dari mana kalian tahu bahwa itu adalah ruqyah.”

Seseorang yang mendapatkan taufiq dengan cahaya pengetahuan, hingga mendapatkan rahasia surat ini dan kandungan di dalamnya berupa tauhid, mengenal Dzat, nama, sifat dan perbuatan Allah, lalu meyakini syariat agama, takdir dan kebangkitan. Juga mengkhususkan tauhid Rububiyah dan Uluhiyyah, bertawakkal secara sempurna dan berserah diri secara penuh kepada Yang mempunyai semua urusan dan mempunyai semua pujian. Meyakini bahwa di tangan-Nya semua kebaikan, dan semua urusan dikembalian kepada-Nya. Dirinya merasa kekurangan kepada-Nya untuk meminta hidayah yang menjadi pokok kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan mengetahui keterkaitan maknanya dalam mendapatkan kebaikan dan menolak keburukan dan bahwa kesudahan secara mutlak dan kenikmatan secara sempurna terkait dengan merealisasikannya, maka dengannya sudah cukup obat dan ruqyah serta tidak membutuhkan lainnya.  Padanya terbuka pintu kebaikan, dan tertolak sebab-sebab keburukan." (Zadul Ma’ad, 4/318)

Dalam salah satu hadits disebutkan betapa beratnya cobaan para Nabi,


عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ  بَلَاءً؟ قَالَ: «الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ» : «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ» وَفِي البَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَأُخْتِ حُذَيْفَةَ بْنِ اليَمَانِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ»



Dari Mus’ab dari Sa’ad dari bapaknya berkata, aku berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Kata beliau: “Para Nabi, kemudian yang semisal mereka dan yang semisal mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila diennya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau diennya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar diennya. Dan seseorang akan senantiasa ditimpa ujian demi ujian hingga dia dilepaskan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” [HR. At-Tirmidzi no.2398]

Apabila bersedih jangan lupa untuk berdoa dengan doa yang diamalkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kekhawatiran (terhadap kemungkinan terjadi seusatu di masa depan) dan sedih (untuk perkara yang sudah terjadi). (Aku berlindung kepada Engkau) dari lemah dan malas. (Aku berlindung kepada Engkau) dari sifat pengecut dan kikir. (Dan aku berlindung kepada Engkau) dari beratnya hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” (HR. Bukhari no. 6369 dan yang lainnya)

Semoga Allah ta'ala memberikan jalan keluar untuk semua urusan kita dan mengganti kesedihan kita dengan kegembiraan.

Wallahu ta'ala a'lam

© 2018 - Www.SalamDakwah.Com