SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

melakukan zina


Ikhwan (kalimantan tengah)
5 months ago on Fiqih

yang mau saya tanyakan adalah gimana hukumnya seorang laki-laki dan berempuan beciuman mulut dan mulut (berjumbu), trs sang laki-laki secara tidak sadar memegang payudaranya wanita tapi tidak sampai melakukan hubungan suami istri, setelah itu laki- laki dan perempuan itu sadar bahwa yang dilakukan itu salah, dan bagaimana cara menghilangkan rasa malu terhadap allah dan pada diri sendiri karena mau melakukan aktivitas sehari-hari masih kefikiran terus, dan jika melakukan sholat taubat apakan allah mengampuninya. mohon bantuannya
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Inna lillahi wa Inna Ilaihi rajiuna. Perbuatan yang dilakukan oleh mereka berdua telah jauh melenceng dari ajaran Islam. Nasehatilah mereka berdua supaya bersegera untuk bertaubat kepada Allah azza wa jalla. Sudahilah hubungan "special dan akrab" tersebut dan sampaikan pula kepada keduanya untuk segera bertaubat. Perbuatan mereka termasuk zina (meski derajatnya dibawah zina kemaluan) Rasulullah shallallahu alihi wa sallam bersabda:


كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ.


“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagiannya untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”HR. Muslim no.2657

Dalam riwayat lain disebutkan cara bertaubat dari perbuatan seperti yang mereka lakukan


عَنْ عَلْقَمَةَ، وَالْأَسْوَدِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي عَالَجْتُ امْرَأَةً فِي أَقْصَى الْمَدِينَةِ، وَإِنِّي أَصَبْتُ مِنْهَا مَا دُونَ أَنْ أَمَسَّهَا، فَأَنَا هَذَا، فَاقْضِ فِيَّ مَا شِئْتَ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: لَقَدْ سَتَرَكَ اللهُ، لَوْ سَتَرْتَ نَفْسَكَ، قَالَ: فَلَمْ يَرُدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا، فَقَامَ الرَّجُلُ فَانْطَلَقَ، فَأَتْبَعَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا دَعَاهُ، وَتَلَا عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةَ: {أَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ، إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ} [هود: 114] فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: يَا نَبِيَّ اللهِ هَذَا لَهُ خَاصَّةً؟ قَالَ: «بَلْ لِلنَّاسِ كَافَّةً»


dari ['Alqamah] dan [Al Aswad] dari ['Abdullah] dia berkata; dari Abdullah, dia berkata; "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu dia berkata; 'Ya Rasulullah! Aku telah berdosa, karena aku bermesraan dengan seorang perempuan di pinggir kota Madinah. Aku telah berbuat dosa dengannya selain bersetubuh. Maka hukumlah aku dengan hukuman apa saja yang anda hendaki. Maka Umar bin Khaththab berkata kepadanya; 'Seandainya engkau menutup rahasia dirimu, niscaya Allah telah menutupi kesalahanmu itu.' Kata Abdullah; 'Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak membantah sedikitpun ucapan Umar tersebut.' Maka berdirilah laki-laki itu kemudian pergi. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh seseorang menyusul dan memanggilnya kembali. Kemudian beliau bacakan kepadanya ayat ini: 'Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya segala perbuatan yang baik menghapuskan (dosa) segala perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.' (QS Hud: 114). Maka bertanyalah seseorang dari suatu kaum yang hadir; 'Ya Nabiyullah! Apakah ayat itu ditujukan khusus baginya? ' Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: 'Bahkan untuk seluruh umat manusia.' HR. Muslim no.2763 dan yang lainnya

Secara umum berikut ini syarat diterimanya taubat, yaitu:
1. Ikhlas karena Allah ta'ala
2. Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan
3. Segera meninggalkan perbuatan tersebut.
4. Bertekad untuk tidak kembali ke dosa tersebut
5. Taubat tersebut dilaksanakan pada saat Taubat masih diterima
lih. Asy-Syarh Al-Mumti' 'ala Zad Al-Mustaqni' oleh syaikh Utsaimin 14/380

Ada pertanyaan yang dilontarkan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Reset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi:
Jika seseorang berdosa kemudian dia beristighfar (meminta ampun.pent) kemudian ia berbuat dosa lagi dan dilanjutkan dengan istighfar lagi, dan begitulah, beberapa saat dia tidak berbuat dosa lagi namun setelah beberapa saat dia mengulangi lagi (dosa.pent). Ini bagaimana hukumnya?

Mereka menjawab:
Apabila dia meminta ampun kepada Allah dan bertaubat dengan taubat nasuha serta berlepas diri dari dosa itu maka Allah akan menerima taubatnya serta mengampuninya. Apabila ia kembali berbuat dosa itu kemudian ia meminta ampun kepada Allah, bertaubat dengan taubat nasuha serta berlepas diri dari dosa itu maka Allah akan menerima taubatnya serta mengampuninya. Begitulah seterusnya.
Dosa maksiat yang telah lalu tidak bisa kembali setelah taubat yang sungguh-sungguh dilakukan. Allah ta'ala berfirman (Thaha:82) :


{وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى}


Dan Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
Dan firman Allah ta'ala (an-Najm:32)


{إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ}


Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan Nya. . Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/319 Pertanyaan kedua dari fatwa no.7825

Ada juga pertanyaan lain yang senada, bunyinya:
Saya telah melakukan banyak perbuatan dosa Dan kemungkaran, namun saya telah bertaubat. Meski demikian saya masih mengulangi kemungkaran tersebut.

Mereka menjawab:
Pujilah Allah subhanahu wa ta'ala yang masih memberi anda taufiq untuk introspeksi diri dan bertaubat dari kemungkaran.

Semoga Allah memberkahi anda. Berhati-hatilah jangan sampai setan Dan nafsu and a mengalahkan anda sehingga anda kembali jatuh pada hal yang diharamkan oleh Allah ta'ala. Apabila anda melakukan hal itu maka anda telah melanggar taubat anda. Sebab syarat-syarat taubat yang benar adalah:
1. Segera berlepas diri dosa tersebut.
2. Menyesali perbuatan itu.
3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan itu

Apabila taubat yang dilakukan itu ditujukan untuk perbuatan kedholiman terhadap hamba lain terkait harta, kehormatan agar jiwa maka Ada syarat tambahan (syarat keempat) yaitu: meminta kerelaan dan ridho dari orang yang didholimi atau memberikan apa yang menjadi haknya.

Bila taubatnya benar maka pelaku dosa itu tidak didakwa untuk dosa yang dilakukan sebelum taubat itu, namun ia hanya harus bertaubat atas dosa setelahnya. Dan begitulah seterusnya, setiap terjadi dosa pelakunya wajib bertaubat dengan memenuhi syarat-syarat yang disebutkan sebelumnya.
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/310-311, Pertanyaan pertama Dari fatwa no.16784

Apabila itu ditambah dengan shalat taubat maka ada nilai plus dalam usahanaya bertaubat kepada Allah dan dengan begitu semoga saja Allah ta'ala akan mengampuninya. Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa sallam bersabda terkait shalat tersebut:


مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ الله، إِلَّا غَفَرَ الله لَهُ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: {وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا الله} إِلَى آخِرِ الْآيَة


"Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka'at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya." Kemudian beliau membaca ayat ini (Ali-Imran:135): "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahuinya."HR. Abu Daud no. 1521. Dishahihkan oleh al-Albani

Wallahu ta'ala a'lam

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com