SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Cara Menebus Dosa Sering Tidak Membayar Angkot


Ikhwan (Kota Bima)
2 months ago on Aqidah

Assalamualaikum ustad. Salam dakwah salam pagi. Dulu waktu sy masih duduk di bangku sekolah (SMP). Sy sering tidak membayar angkot yg sy naiki. Sekarang umur sy sdh 28 tahun. Sy mulai berpikir mungkin yg sy lakukan dulu perlu di tebus agar tdk mendapat dosa. Bagaimanakah sy bisa menbusnya ? Sy sudah tdk ingat lagi angkot yg mana sy naiki, kneknya siapa, dan berapa kali sy tdk bayar. Mohon pencerahannya pak ustad.
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

 

 


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Bismillah washshalatu wassalamu 'ala Rasulillah.
Seseorang yang berdosa harus segera bertaubat, baik dosa itu dia lakukan dengan cara mendholimi dirinya sendiri dengan cara meninggalkan kewajiban yang Allah bebankan atau melakukan apa yang Allah larang (tanpa disertai kedholiman kepada yang lain) ataukah dosa itu dia lakukan dengan melakukan kedholiman kepada yang lain.

Apabila seseorang tahu dirinya berdosa namun ia enggan untuk bertaubat maka ia terancam adzab Allah ta'ala. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin bertaubat kepada Allah ta'ala dari dosa-dosanya. Berikut ini syarat-syarat taubat yang disebutkan oleh Ulama':
1. Ikhlas karena Allah ta’ala : maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya

2. Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya.

3. Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya

4. Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut

5. Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380

Apabila dosa itu berbentuk kedholiman kepada yang lain maka ada syarat lain yang harus dipenuhi yaitu meminta keridhoan dan kehalalan dari orang yang didholimi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ 


“Siapa yang berbuat kedzaliman kepada saudaranya baik dari sisi kehormatan atau sesuatu hal, maka mohonlah dihalalkan darinya sekarang (pada hari ini) sebelum tidak berguna lagi dinar dan dirham. Kalau dia mempunyai amal shaleh, maka akan diambil darinya sesuai dengan kadar kedzalimannya. Kalau tidak mempunyai kebaikan, maka keburukan orang tersebut akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2449)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الظُّلْمُ ثَلَاثَةٌ: فَظُلْمٌ لَا يَتْرُكُهُ اللهُ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ، وَظُلْمٌ لَا يُغْفَرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُغْفَرُ فَالشِّرْكُ لَا يَغْفِرُهُ اللهُ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ فَظُلْمُ الْعَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُتْرَكُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ فَيَقْتَصُّ اللهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ "


“Kedzaliman itu ada tiga; kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan, kedzaliman yang akan dia ampuni, dan kezhaliman yang tidak akan dia ampuni. Adapun kedzaliman yang tidak Allah ampuni adalah syirik, itu tidak akan Allah ampuni. Adapun kedzaliman yang akan diampuni adalah kedhaliman hamba (terhadap dirinya sendiri) dalam perkara yang ada antara dirinya dan Rabb-nya. Adapun kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah kezhaliman sesama hamba hingga Alah akan mengqishah yang satu dengan yang lain.” Hilyatul auliya' wa Tabaqat al-Ashfiya' 6/309 . Hadits ini hasan menurut syaikh al-Albani, lih. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 4/560

Apabila diperhatikan dengan seksama hadits di atas kita akan dapati bahwa kedholiman bisa menyengsarakan pelakunya di akhirat kelak, menyengsarakannya di kehidupan abadi mengingat kedholimannya dibayar dengan pahala yang ia perbuat di dunia atau ia akan menanggung dosa dari orang yang ia dholimi. Sungguh ini merupakan kesengsaraan dan kerugian yang nyata.

Dalam kasus penanya, terjadi kedholiman terhadap orang yang menjual jasa dengan cara menahan pemberi jasa untuk memperoleh haknya. Cara bertaubat dari dosa ini adalah segera mengembalikan uang yang merupakan hak dari penjual jasa tersebut, bahkan seandainya penjual jasa itu adalah non muslim, uang tersebut juga harus dikembalikan selama ia bukanlah kafir yang diperangi. 

Apabila dikatakan bahwa perbuatan yang dilakukan masih bisa ditolelir karena dilakukan oleh anak kecil maka jelas ini adalah pandangan yang salah karena masalah sengketa harta anak kecil tetap terkena konsekwensinya. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya
Sejak kecil saya melihat ayah saya meletakkan sesuatu yang berupa uang atau sesuatu yang bermanfaat saya suka mengambilnya tanpa sepengetahuan beliau. Setelah saya dewasa saya takut kepada Allah dan saya tinggalkan seluruh perbuatan ini. Sekarang apakah boleh saya memberikan pengakuan di hadapan ayah saya tentang hal itu ataukah tidak ?

Anda wajib mengembalikan apa yang anda curi dari ayah anda yang berupa uang dan yang lainnya kecuali bila apa yang anda curi nilainya kecil digunakan untuk memberi nafkah maka kala itu tidak apa-apa.

Abdullah bin Ghadyan selaku anggota
Abdurazzaq Afifi selaku wakil ketua
Abdul Aziz bin Abdullah bin baz selaku ketua
Fatawa al-lajnah ad-Daimah 12/352-353 fatwa no.13605

Ada pertanyaan lain juga yang ditujukan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan fatwa Arab Saudi: Saat masih kecil, bertahun-tahun silam, kami dalam kondisi labil, bodoh, dan kelaparan, hingga akhirnya kami mencuri beberapa binatang ternak. Sekarang saya bertobat dan ingin melunasi kewajiban saya kepada orang lain. Saya perlu menanyakan beberapa hal berikut ini:
1. Saya pernah mencuri kapulaga senilai 120 riyal empat puluh tahun yang lalu dan ingin saya bayar sekarang. Apakah pembayarannya disesuaikan dengan harga sekarang, atau harga jual pada waktu itu?
2. Saya pernah mencuri beberapa ekor kambing, dan dari kambing tersebut ada hasil harta lain dan berkembang. Apakah saya cukup membayar beberapa ekor kambing (sesuai jumlah yang dicuri) atau saya harus menyerahkan kambing-kambing itu beserta seluruh hasilnya yang telah berkembang?
3. Apabila saya mencuri bersama rekan lainnya, apakah saya cukup membayar kewajiban saya saja, atau bagaimana?
Semoga Allah menjaga Anda semua.

Mereka menjawab:
Kapulaga yang Anda curi harus dikembalikan kepada pemiliknya dengan nilai yang sama saat Anda curi, jika pemiliknya masih hidup. Atau, dapat Anda berikan kepada ahli warisnya (jika pemiliknya sudah meninggal dunia). Apabila itu semua tidak memungkinkan, maka Anda harus menyedekahkannya kepada kaum fakir dengan niat sedekah atas nama pemilik harta tersebut.
Apabila setelah Anda bersedekah ternyata pemiliknya datang, atau Anda mengetahui tempat tinggal ahli warisnya, maka Anda harus menyerahkannya senilai harta itu. Insya Allah, Anda akan mendapatkan pahala bersedekah. Mengenai kambing yang Anda curi, Anda harus mengembalikannya kepada pemiliknya, beserta seluruh hasil yang telah berkembang, jika pemiliknya masih hidup. Atau boleh kepada ahli warisnya jika mereka ada. Jika mereka tidak ada atau tidak diketahui, maka Anda dapat memperkirakan nilai kambing itu ketika dicuri sekaligus nilai harta yang telah berkembang, kemudian Anda sedekahkan atas nama pemiliknya.

Apabila pemiliknya datang, atau Anda mengetahui keberadaannya atau ahli warisnya di mana pun mereka berada, maka Anda harus menyerahkan kambing tersebut beserta harta yang telah berkembangbiak, atau yang senilai dengan itu, sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Insya Allah, Anda akan mendapatkan pahala bersedekah. Jika Anda melakukan pencurian tersebut bersama rekan, maka Anda dapat membebaskan sejumlah tanggungan Anda dengan mengembalikan apa yang Anda curi kepada pemilik, atau bersedekah sesuai nilai harta curian atas nama pemiliknya (Ini jika Anda tidak menemukan pemilik atau ahli warisnya, sama seperti sebelumnya). Selain itu, Anda harus bertobat dengan sebenar-benarnya dan tidak mengulangi tindakan buruk seperti itu. Anda harus menasihati rekan yang terlibat dalam pencurian supaya mereka membebaskan tanggungan kewajiban mereka atas perbuatan yang mereka lakukan, sambil memperingati mereka akan beratnya siksaan Allah. Mengambil harta orang lain adalah tindakan kezaliman atas mereka. Itu semua tidak dapat gugur kecuali dengan mengembalikan hak-hak mereka, atau hingga pemiliknya mau memaafkan dan merelakan haknya.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Bakr Abu Zaid selaku  Anggota    
Shalih al-Fawzan selaku Anggota    
Abdullah bin Ghadyan  selaku Anggota    
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua    
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa 11/208-210 Fatwa Nomor:20777

 

Perbuatan itu berbahaya bagi dunia dan akhirat dia.  Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka berkata, “Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku pada hari kiamat itu adalah orang yang datang membawa pahala shalat, membawa pahala puasa, dan membawa pahala zakat, namun di sisi lain ia pernah mencaci-maki orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, mengucurkan darah orang Ini, dan memukul orang ini; lalu diberikanlah kebaikan-kebaikannya kepada orang ini dan ini (yang didzalimi tersebut). Apabila kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum melunasi hutang-hutang kedzaliman itu, maka akan diambillah dosa-dosa mereka (orang yang didzalimi itu) dan ditanggungkan kepada dia, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam api neraka.”” (H.R. Muslim no.2581;At-Tirmidzi no.2418; Ahmad 13/399 dan yang lainnya. Lafadz dia atas adalah lafadz Muslim)

Apabila pemilik hak  itu telah tiada maka uang jasa tersebut harus diberikan kepada ahli warisnya. Bila tidak diketahui keberadaan pemilik dan ahli warisnya maka harta itu disedekahkan dengan mengatasnamakan pemilik sahnya.

Berikut ini fatwa-fatwa terkait masalah ini:
1. Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa:
Saya memiliki sejumlah harta di salah satu perusahaan asing yang beroperasi di Arab Saudi. Jumlahnya adalah empat ribu lima ratus riyal (4500 SAR) …... Saya telah datang beberapa kali untuk mengambil uang tersebut, namun mereka meminta maaf karena tidak dapat menyerahkannya lantaran insinyur penerima proyek tidak ada. Mereka mengatakan bahwa insinyur tersebut dipindahkan ke perusahaan lain. Untuk meminta supaya insinyur itu datang, saya pun menghadap direktur perusahaan. Dia memberikan penjelasan sambil berkata, "Sebaiknya Anda minta dua puluh ribu riyal. Anda hanya perlu menyerahkan kepada kami berkas-berkas yang diperlukan untuk meminta uang tersebut. Anda juga boleh memberi saya komisi dari uang itu, atau Anda boleh ambil semua karena perusahaan ini telah berbuat zalim." Dia menjelaskan berkas-berkas yang harus dipersiapkan. Dia menugaskan karyawannya untuk menyerahkan uang secara penuh, dan saya terima utuh sejumlah dua puluh ribu riyal (20.000 SAR).

Pertanyaannya: Apakah uang yang melebihi hak saya itu halal atau tidak? Jika memang saya tidak punya hak pada harta yang lebih itu, apakah saya boleh menyumbangkannya untuk amal kebaikan atau kepada orang yang membutuhkan? Mohon beri kami penjelasan. Semoga Allah membalas Anda semua dengan kebaikan.

Mereka menjawab:
Perbuatan tersebut tidak boleh dilakukan. Sebab, itu adalah kebohongan dan penipuan untuk mengambil harta secara tidak sah. Orang yang meminta fatwa di atas hanya boleh mengambil harta yang menjadi haknya kepada perusahaan. Allah Ta`ala berfirman,



{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ}


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil. Anda wajib mengembalikan uang yang melebihi hak Anda itu kepada perusahaan yang bersangkutan.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. fatawa al-Lajnah ad-Daimah 11/207-208 Fatwa Nomor:20631

2. Ada pertanyaan lain yang ditujukan kepada mereka:
Dahulu dia menjadi penanggung jawab di sebuah kantor pemerintah. Ketika itu dia sering mendapatkan pemasukan dari cara yang tidak dibenarkan syariat. Setelah beberapa waktu berlalu, Allah memberinya petunjuk. Apa yang harus dia lakukan terhadap harta yang dia dapatkan dengan cara tidak benar tersebut yang telah dia gunakan sedangkan jumlahnya tidak dapat dihitung? Misalnya dia mendapatkan beberapa dirham, tetapi dia tidak tahu jumlahnya. Bagaimana cara dia berlepas diri dari hal ini? Semoga Allah memberikan keberkahan kepada Anda dan menganugerahi Anda usia yang panjang disertai dengan amal saleh dan husnul khatimah. Wassalam.

Mereka menjawab:
Dia wajib mengembalikan sesuatu yang dia ambil secara tidak benar jika dapat menemukan si pemilik atau ahli warisnya. Apabila dia tidak mampu menemukannnya atau ahli warisnya, maka dia harus menyedekahkan uang tersebut dengan niat untuk pemiliknya.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 14/24-25 fatwa no.12371

3. Syaikh Ibnu Baz menerangkan:
Terkait orang yang ia kenal (yang ia ambil haknya dengan cara yang batil.pent), ia wajib mengembalikan hak mereka sesuai dengan usaha dia (usaha memperkirakan.pent) dan sesuai perkiraannya yang kuat. Atau ia meminta maaf dan meminta kerelaan hati ke mereka atas apa yang telah lalu dan apa yang telah terjadi. Adapun orang yang tidak dikenal dan tidak diketahui statusnya apakah ia meninggal atau masih hidup dan ahli warisnya pun tidak diketahui keadaannya maka ketika itu orang tersebut seharusnya mensedekahkan harta yang ia ambil dengan mengatasnamakan pemilik harta tersebut. Ini harus disertai taubat dari orang yang mengambil barang secara dholim dan kesungguhan dalam taubat ini. Dengan begini ia akan terlepas dari tanggungan insya Allah. http://www.binbaz.org.sa/mat/9338

wallahu ta'ala a'lam

  

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com