SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Mandi junub bagi perempuan yang tidak bisa menyiram kepala setiap hari


Ikhwan (Kota Bima)
4 months ago on Fiqih

Assalamualaikum ustad. Maaf sebelumnnya karena yg akan saya tanyakan bersifat pribadi. Sy dan istri saya setiap hari berhubungan intim 2x sehari. Waktu yg sering kami lakukan itu adalah setelah shalat subuh dan shalat dzuhur. Istri sy takut mandi junub 2x sehari. Karena takut rambutnya rusak. Karena gak mandi junub maka istri sy tdk shalat. Bolehkah mandi junub tanpa menyiram kepala (rambut) ?
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Berikut terjemahan bebas dari fatwa syaikh Utsaimin
Mandi besar ada dua bentuk dan cara:
pertama:
Bentuk yang wajib: yaitu dengan menyiramkan air ke semua badan, termasuk melakukan Madz-madzhah (kumur-kumur.pent) dan Istinsyaq (memasukkan air ke hidung.pent), jika air sudah mengenai semua badannya (dengan berbagai cara)maka hadats besar telah hilang darinya dan telah selesai bersucinya.

kedua:
Bentuk yang sempurna: yaitu mandi sebagaimana Rasul shallallahu alaihi wa sallam mandi, pertama dengan mencuci kedua telapak tangan, kemudian mencuci kemaluannya dan menghilangkan kotoran-kotoran yang disekitarnya, kemudian berwudhu dengan sempurna, kemudian mencuci kepalanya dengan menyiramkan air sebanyak tiga kali, kemudian menyiramkan air ke sisa badan. Fatawa Arkanil Islam hal. 247-248

Berikut ini salah satu hadits yang menerangkan mandi junub Rasul shallallahu alaihi wa sallam:


عن عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ


Dari 'Aisyah, istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya." HR. Bukhari no.272

Oleh karena itu membasahi rambut dengan air termasuk sesuatu yang harus dilakukan saat mandi junub. Dan hukum asalnya tidak sah mandi junub bila rambut tidak dibasahi. Dengan demikian istri penanya perlu mendatangi para ahli yang mengerti tentang kesehatan rambut. Mungkin ada hal-hal yang bisa dilakukan sehingga mandi besar tidak membuat rambut rontok. 

Shalat hukumnya wajib dan melayani suami juga wajib. Dua kewajiban ini tidak harus berbenturan yang berefek meninggalkan salah satu kewajiban. Jutaan atau bahkan miliaran wanita muslimah seak dahulu tidak terkenal di kalangan mereka masalah mandi besar yang merusak rambut.

Terkait waktu jimak yang disebutkan oleh penanya, apabila itu dilakukan di bulan Ramadhan ini maka jima' itu terlarang. Berikut ini riwayat shahih terkait kaffarah mendatangi istri pada siang hari bulan Ramadhan:


أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ. قَالَ: «مَا لَكَ؟» قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟» قَالَ: لاَ، قَالَ: «فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ» ، قَالَ: لاَ، فَقَالَ: «فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا» . قَالَ: لاَ، قَالَ: فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ - وَالعَرَقُ المِكْتَلُ - قَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ؟» فَقَالَ: أَنَا، قَالَ: «خُذْهَا، فَتَصَدَّقْ بِهِ» فَقَالَ الرَّجُلُ: أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا - يُرِيدُ الحَرَّتَيْنِ - أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: «أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ»


Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata: "Ketika kami sedang duduk bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba-tiba datang seorang laki-laki lalu berkata: "Wahai Rasulullah, binasalah aku". Beliau bertanya: "Ada apa denganmu?". Orang itu menjawab: "Aku telah berhubungan dengan isteriku sedangkan aku sedang berpuasa". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Apakah kamu memiliki budak untuk dibebaskan?". Orang itu menjawab: "Tidak". Lalu Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu sanggup bila harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut?". Orang itu menjawab: "Tidak". Lalu Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu memiliki makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin?". Orang itu menjawab: "Tidak". Sejenak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdiam. Ketika kami masih dalam keadaan tadi, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberikan satu keranjang berisi kurma, lalu Beliau bertanya: "Mana orang yang bertanya tadi?". Orang itu menjawab: "Aku". Maka Beliau berkata: "Ambillah kurma ini lalu bershadaqahlah dengannya". Orang itu berkata: "Apakah ini diberikan kepada orang yang lebih fakir dariku wahai Rasulullah. Demi Allah? tidak ada keluarga yang tinggal diantara dua perbatasan, yang dia maksud adalah dua gurun pasir, yang lebih faqir daripada keluargaku". Mendengar itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjadi tertawa hingga tampak gigi seri Beliau. Kemudian Beliau berkata: "Kalau begitu berilah makan keluargamu dengan kurma ini. HR. Bukhari no.1936 dan Muslim no.1111

Silahkan melakukan jimak di malam hari.

Syaikh Ibnu Baz menerangkan," Seandainya seseorang mimpi basah setelah shalat Fajar kemudian dia menunda mandi besarnya hingga tiba waktu Dhuhur maka itu dibolehkan. Begitu pula bila dia melakukan hubungan suami-istri pada malam hari kemudian dia menunda mandinya hingga terbit Fajar maka hal ini tidak mengapa. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah junub karena hubungan suami-istri (yang dilakukan sebelum terbit fajar.pent) ketika pagi tiba kemudian beliau mandi besar dan melaksanakan puasa pada hari itu. Begitu pula wanita haidh dan nifas, apabila mereka suci dari haidh dan nifas pada malam hari kemudian mereka mandi besar setelah terbit fajar maka itu tidak apa-apa dan puasa keduanya sah. Meski demikian kedua wanita itu dan laki-laki yang junub tidak boleh menunda mandi besar atau shalat hingga terbitmya matahari. Semua harus bersegera  mandi sebelum terbitnya matahari supaya mereka bisa melaksanakan shalat pada waktunya.

Laki-Laki wajib segera melaksanakan mandi junub sebelum shalat Fajar supaya dia bisa melaksanakan sholat Fajar secara Berjama’ah. Wanita haid Dan nifas bila melihat tanda suci pada tengah malam maka hendaknya dia bersegera untuk mandi supaya dia bisa melaksanakan shalat Maghrib dan Isya' di malam itu, ini sebagaimana difatwakan oleh sekelompok sahabat Nabi radhiyallahu anhum

begitu pula bila keduanya suci dari haidh atau nifas di waktu ashar maka keduanya wajib untuk bersegera mandi supaya bisa melaksanakan shalat Dhuhur dan Ashar sebelum matahari terbenam

Begitu pula bila mereka suci ketika Ashar maka mereka wajib bersegera mandi supaya bisa melaksanakan shalat Dhuhur dan Ashar sebelum matahari terbenam. Wallahu waliyu at-Taufiq. Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 15/277-278.

Meskipun onani yang dilakukan di malam hari tidak menghalangi keansahan puasa di esok harinya namun harusnya seseorang yang melakukan itu perlu manyadari bahwa apakah ada jaminan ia akan hidup setelah ia melakukan onani. Kalau dia tidak mau taubat (dari onani) kepada Allah kemudian Allah menutup akhir hidupnya dengan perbuatan dosa itu maka sungguh meruginya dia.

Hukum onani dengan tangan sendiri pada dasarnya diharamkan. Komite Tetap Fatwa dan Riset Ilmiah Arab Saudi menerangkan:
Onani pada bulan Ramadhan dan selainnya diharamkan berdasarkan firman Allah ta’ala dalam surat Ma’arij:


وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (٢٩)إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (٣٠)فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (٣١)


29. dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,
30. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
31. Barangsiapa mencari(jalan keluar syahwat.pent) yang di balik itu(yang selain itu.pent) , Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah juz.10 hal.256 no.2192

Ada cabang pembahasan lain tentang onani, berikut ini nukilan dari status FB ust. Abi Ubaidah as-Sidawi: Kesimpulan Hukum Onani:

Pertama: Apabila dilakukan dengan tangan istrinya maka boleh dengan kesepatan ulama.

Kedua: Apabila dengan tangan wanita asing maka haram dengan kesepakatan ulama.

Ketiga: Apabila dengan tangan seorang lelaki sebagai ganti istrinya maka haram.

Keempat: Apabila untuk meredam syahwatnya maka haram menurut pendapat yang kuat. Adapun apabila untuk membendung homoseks dan zina maka boleh setelah dia berusaha puasa dan bertaqwa semampunya.

(Lihat Ta'liq Syaikh Masyhur bin Hasan terhadap risalah Bulughul Muna fii Hukmil Istimna hlm. 7 oleh asy-Syaukani).

Wallahu ta'ala a'lam

 


 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com