SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Menafkahi Orangtua atau Anak Istri?


Ikhwan (Jakarta)
11 months ago on Keluarga

Assalamualaikum ust. saya mau betanya setiap bulan saya bekerja hanya mampu menafkahi diri saya dan orangtua saya karena orangtua tidak mampu. namun istri bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kami karena gaji istri lebih besar. mana yang harusnya saya utamakan ust? orgtua yg tidak mampu atau saya membiarkan istri menafkahi keluarga kecil kami?
Redaksi salamdakwah.com
11 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila keadaan suami rizkinya lapang dan mampu mencukupi kebutuhan pokok orang tua dan istrinya maka semuanya harus dinafkahi. Apabila uang yang dimiliki suami sangat terbatas maka dia menafkahi dirinya sendiri kemudian istrinya kemudian anaknya kemudian orang tuanya. Apabila istri rela suami menyisihkan sebagian jatah belanja istri untuk orang tua suami maka ini sungguh perbuatan yang mulia lagi berpahala insyaAllah. dalam salah satu hadits disebutkan:


ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا» يَقُولُ: فَبَيْنَ يَدَيْكَ وَعَنْ يَمِينِكَ وَعَنْ شِمَالِكَ


"Manfaatkanlah uang ini untuk dirimu sendiri, bila ada sisanya maka untuk keluargamu, jika masih tersisa, maka untuk kerabatmu, dan jika masih tersisa, maka untuk orang-orang disekitarmu. HR. Muslim no.997

Setelah membawakan hadits di atas, imam Asy-Syaukani berkomentar: Apabila seseorang setelah berinfaq atas dirinya sendiri masih memiliki kelebihan maka ia wajib menginfaqkannya ke istrinya. Termasuk Ijma' ulama': Kewajiban seseorang untuk berinfaq atas istri, kemudian apabila masih berlebih maka ia menginfaqkannya ke kerabatnya. Asy-Syaukani, Nail Al-Awthor, Dar Al-Hadist, Mesir, 1413 H, Juz 6, hal.381

Imam an-Nawawi menerangkan," Apabila seseorang memiliki kewajiban  menafkahi beberapa orang yang membutuhkan maka perlu dilihat, apabila harta dan penghasilannya bisa digunakan untuk menafkahi mereka semua maka dia wajib menafkahi mereka semua, baik itu keluarga dekat maupun keluarga jauh. Apabila setelah ia menafkahi dirinya sendiri hartanya hanya cukup untuk nafkah satu orang maka menafkahi istri lebih didahulukan dibanding menafkahi kerabat. Ini disepakati oleh Ulama' Syafi'i sebab menafkahi istri lebih ditekankan. Menafkahi istri tidak gugur dengan berlalunya masa dan tidak gugur meski dalam keadaan sulit." Raudhatu ath-Thalibin 9/93

Salah seorang  ulama' Hanbali yang bernama Mardawi menerangkan:Ketahuilah bahwa yang benar dalam madzhab Hanbali adalah wajib menafkahi kedua orang tua (kakek nenek dan seterusnya), wajib menafkahi anak (cucu dan seterusnya) sesuai dengan yang makruf...ini bila ada kelebihan setelah menafkahi diri sendiri kemudian istrinya. Al-Inshaf fi Makrifati ar-Rajih min al-Khilaf 9/392

 

Dalam kitab al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu 

إذا تعدد مستحقو النفقة ولم يكن لهم إلا قريب واحد، فإن استطاع أن ينفق عليهم جميعاً وجب عليه الإنفاق، وإن لم يستطع بدأ بنفسه، ثم بولده الصغير أو الأنثى، أو العاجز، ثم بزوجته

Apabila yang berhak menerima nafkah jumlahnya banyak sedangkan mereka hanya memiliki satu kerabat saja maka bila ia mampu maka ia menafkahi mereka semua. Dia wajib memberi nafkah. Apabila ia tidak mampu maka ia mulai menafkahi dirinya sendiri, kemudian anak nya yang masih kecil (baik itu laki-laki atau perempuan), atau yang lemah kemudian menafkahi istrinya.

Oleh karena itu sebenarnya penanya harus memberi nafkah kepada anak dan istri. Apabila istri membantu (secara sukarela )dengan cara bekerja supaya bisa mencukupi diri dan anaknya sehingga penanya tidak perlu menafkahi anak dan istrinya maka itu adalah kebaikan istri. Allah Ta’ala berfirman terkait itsar (mengutamakan orang lain untuk urusan dunia),

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

 “Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri sangat membutuhkan/dalam kesusahan.” (Al-Hasy ;9)

Apabila istri menghitung ini sebagai hutang maka penanya harus mengembalikan uang ke istri sejumlah uang yang telah dikeluarkan oleh istri  

Wallahu ta'ala a'lam

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com