SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Mencintai Pria Yang Sudah Menikah


Akhwat (Bandung)
8 months ago on Keluarga

Assalamualaikum Sudah beberapa Bulan ini saya dekat dengan seorang pria. Dia sudah beristri, Dan telah memiliki 2 anak. Memang sebelum dekat dengan saya, pria ini sudah ada masalah dengan istrinya. Pria ini merantau tinggal Di Kota saya sekarang untuk mencari nafkah, sedangkan istrinya ini tinggal dikampung halamannya. Si pria sering bercerita, kalau si istrinya ini sulit dihuhungi, setiap dihubungi si istri selalu beralasan sibuk mengurus anak atau Di dapur. Entah karena saya selalu menemaninya saat dia sedang kesal dengan sang istri Karena tidak bisa dihubungi atau bagaimana, si pria ini lalu mengungkapkan perasaannya pada saya. Dia bilang dia menyukai saya, Dan dia akan menikahi saya saat perceraian dengan istrinya itu sudah selesai. Pertanyaan saya, 1. Apa saya menjadi bagian dari penyebab perceraian mereka (?) 2. apakah saya berdosa menikah dengan pria ini (?) Terima kasih
Redaksi salamdakwah.com
8 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Ada kemungkinan kedekatan penanya dengan laki-laki tersebut maksudnya adalah hubungan spesial di luar pernikahan. Bila benar demikian maka yang perlu penanya ketahui adalah bahwasanya hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram sifatnya terbatas, tidak boleh berdua-duaan (khalwat) yang itu bisa mengantarkan kepada  perzinahan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"


"لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ"


Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali jika disertai mahramnya.HR. Bukhari no.5233 dan Muslim no.1341

Bahkan bercampur baur (ikhtilat) antara laki-laki dan perempuan yang tanpa kebutuhan dan yang bisa mengantarkan kepada perzinaan itu juga dilarang. Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin pernah ditanya," Pertanyaan: Bolehkah bagi wanita bekerja di satu tempat yang ikhtilat (bercampur, bergabung) bersama laki-laki. Perlu diketahui bahwa di tempat yang sama juga ada wanita lainnya.

Beliau menjawab: Menurut pendapat saya, tidak boleh ikhtilat di antara laki-laki dan wanita yang bekerja di kantor pemerintah atau non pemerintah, atau sekolah-sekolah pemerintah atau swasta. Sesungguhnya ikhtilat mengakibatkan banyak kerusakan, sekalipun tidak ada padanya selain hilangnya sifat haya bagi wanita dan sirnanya kewibawaan pada laki-laki, karena ikhtilat laki-laki dan wanita menjadikan sirnanya wibawa laki-laki dan hilangnya sifat malu dari wanita terhadap laki-laki. Ini (maksud saya ikhtilat laki-laki dan wanita) bertentangan dengan tujuan syari'at Islam dan menyalahi tuntunan salafus shalih. Bukanlah engkau mengetahui bahwa Nabi Muhammad Salallahu’alaihi wassalam menjadikan tempat khusus untuk wanita apabila pergi ke Mushalla atau masjid, agar tidak ikhtilat dengan laki-laki? Sebagaimana disebutkan dalam hadits: Sesungguhnya ketika selesai khutbah kepada laki-laki, beliau turun dan pergi ke tempat wanita, lalu memberi nasehat dan memperingatkan mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak bisa mendengar khutbah Nabi Muhammad Salallahu’alaihi wassalam dan jika mendengar mereka tidak bisa memahami semua yang disampaikan oleh Rasulullah. Kemudian, apakah engkau tidak mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


((خَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا, وَخَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا ))


"Sebaik-baik shaf wanita adalah yang terakhir dan seburuk-buruknya adalah yang pertama, dan sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan seburuk-buruknya adalah shaf terakhir."

Hal itu tiada lain kecuali dekatnya shaf wanita yang paling depan dengan laki-laki maka ia adalah shaf paling buruk dan jauhnya shaf wanita yang belakang dari laki-laki maka ia adalah sebaik-baik shaf. Apabila hal ini di dalam ibadah yang dilakukan bersama-sama maka bagaimana kalau bukan ibadah? Padahal sudah diketahui bahwa di saat beribadah, manusia sangat jauh dari hal-hal yang terkait dengan urusan sex, bagaimana bila ikhtilat itu bukan dalam ibadah? Syetan mengalir di tubuh manusia seperti aliran darah, maka sangat mungkin akan terjadi fitnah dan keburukan besar dalam ikhtilath ini.

Ajakan saya kepada saudara-saudara saya agar menjauhi ikhtilat dan agar mereka mengetahui bahwa hal itu adalah bahaya yang paling dikhawatirkan terhadap laki-laki: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"


(مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ)


"Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya terhadap laki-laki dari pada wanita."

Al-Hamdulillah, kita kaum muslimin mempunyai keistimewaan yang membedakan kita dengan yang lain. Kita harus memuji Allah Subhanahuwata’alla karena telah memberi karunia kepada kita. Kita wajib mengetahui bahwa kita mengikuti syari'at -Nya Yang Maha Bijaksana, Yang Mengetahui segala sesuatu yang memperbaiki hamba dan negeri. Kita harus mengetahui bahwa orang yang menjauh dari jalan Allah Subhanahuwata’alla dan dari syari'at-Nya, sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan dan perkara mereka menuju kesesatan. Karena inilah, kita mendengar bahwa bangsa-bangsa yang ikhtilat laki-laki dan wanitanya, sekarang mereka ingin berlepas diri dari hal ini, akan tetapi bagaimana mungkin mereka dapat menghindar nya ke tempat yang jauh. Kami memohon kepada Allah Subhanahuwata’alla agar menjaga negara kita dan negara kaum muslimin dari segala keburukan, kejahatan dan fitnah. Fatawa Islamiah 3/93-94

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan," Hukum ikhtilat perempuan dan laki-laki muslim di negeri Islam adalah haram, dan kewajiban para penanggung jawab badan/lembaga yang ada ikhtilat di dalamnya adalah melakukan pemisahan pegawai perempuan dan laki dan memberi mereka tempat masing-masing sebab terdapat kerusakan dalam ikhtilat yang ini bisa diketahui oleh orang yang penalarannya rendah. Fatawa Islamiah. Anda minta dan usul kepada atasan anda untuk menugaskan anda di tempat terpisah. Semoga Allah mudahkan anda melaksanaan syariat Allah dan menjauhi larangan nya. Fatawa Islamiah 3/92-93

Oleh karena itu penanya perlu menyudahi hubungan spesial dengan laki-laki tersebut karena itu terlarang. Yang ada adalah hubungan spesial adanya setelah pernikahan. Di sisi lain bisa jadi hubungan spesial dengan penanya bisa jadi menjadi salah satu faktor rusaknya rumah tangga laki-laki tersebut.

Kalau laki-laki itu ingin hubungan yang legal dengan penanya maka dia tidak perlu menjalin hubungan spesial dengan penanya, dia harusnya datang melamar ke wali penanya kemudian menikahinya bila mendapat ridho walinya. Apabila nanti Allah takdirkan laki-laki itu menjadikan penanya istri kedua maka tidak boleh penanya menyuruh laki-laki itu menceraikan istri pertama hanya didasari keinginan untuk menjadi istri satu-satunya karena ini terlarang dalam Islam. Apabila laki-laki itu sendiri yang ingin menceraikan tanpa disuruh oleh penanya (baik itu secara langsung atau tidak langsung) maka penanya tidak terkena masalah dalam hal itu.  

Wallahu ta'ala a'lam

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com