SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Zakat Mal atau Hutang Riba


Ikhwan (Padang)
1 year ago on Riba

Assalamualaikum ustadz., Saya mau tanya, 3 tahun lalu saya membeli rumah di bank konvensional dengan bunga dalam jangka waktu yang masih cukup lama., Alhamdulillah saya mendapat rezeki yang cukup untuk melunasi hutang tersebut tanpa harus menunggu jatuh tempo., Karna saya takut terjerat riba ini lebih lama., Saya berencana melunasi hutang riba saya ini, lalu bagai mana dengan penghitungan zakat mal saya nanti nya pak ustadz? Yang mana kah yang harus saya dulukan pak ustadz, bayar zakat mal atau bayar hutang saya.,? Jika saya membayar hutang, untuk wajib zakat yang masih kurang dari rezeki yang saya dapatkan karna sisa uang nya tidak sebanyak wajib zakat saya., Kalau saya bayar zakat, kemungkinan saya akan menunggu sekitar 5 bulan lagi untuk melunasinya, dan masih terjerat 5 bulan lagi dengan riba., Mohon pencerahannya pak ustadz
Redaksi salamdakwah.com
1 year ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila jelas bahwa bank meminjami uang untuk membeli rumah di dveloper kemudian piha nasabah membayar ke bank secara kredit dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan yang dia berikan kepada nasabah sebagai hutang maka ini jelas riba. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Semua pinjaman yang disyaratkan adanya tambahan di dalamnya maka dia haram tanpa ada perbedaan pendapat.”

Ibnu Munzir berkata, “Mereka sepakat bahwa jika pihak pemberi hutang menetapkan syarat adanya tambahan atau hadiah, lalu dia memberikan pinjaman berdasarkan hal itu, maka tambahan itu merupakan riba. Diriwayatkan dari Ubay bin Kaab  dan Ibnu Abbas serta Ibnu Mas’ud, bahwa mereka dilarang dari simpan pinjam yang mendatangkan manfaat.” (Al-Mughni, 6/436)

Telah disebutkan dalam ketetapan Majma Buhuts Islami di Al-Azhar, tahun 1385 H – 1965 M yang mengumpulkan berbagai utusan dari 35 negeri Islam, “Keuntungan dari berbagai peminjaman seluruhnya  adalah riba yang diharamkan, tidak ada bedanya, apakah dinamakan peminjaman konsumtif ataukah peminjaman produktif, karena nash-nash dalam Al-Quran dan Sunah  secara keseluruhan secara jelas mengharamkan kedua macam riba tersebut. Seluruh transaksi peminjaman yang mendatangkan manfaat, maka dia termasuk transaksi riba yang diharamkan.”

Begitu juga bila nasabah berakad dengan bank dengan murobahah yang tidak sesuai dengan faktanya maka ini juga bermasalah dan masuk riba. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya tentang model muamalah tertentu," Gambarannya. Pedaga‎ng datang ke bank ketika dia tidak punya uang kas yang siap cair dalam waktu singkat. Bank berkata kepadanya," kami tidak meminjami anda mengingat kami adalah bank Islami, namun kami ingin bertanya kepada Anda. Tentang barang dagangan dan jenisnya kemudian kami membelinya serta menjualnya kepada anda dengan syarat anda menjamin seluruh biayanya, dari biaya pengangkutan, asuransi serta kewajiban lain yang merupakan efek dari pemindahan barang dagangan ini. Kemudian anda membayar ke kami 10 persen darinya. Beginilah gambaran muamalah bank Islami terhadap pedagang yang meruju' kepadanya demi memperoleh kas yang siap cair."

Mereka menjawab," gambaran transaksi yang disebutkan antara pedagang dan bank (yang disebut dengan murobahah) tidaklah diperbolehkan sebab pembelian bank dari pihak pedagang hanyalah pembelian fiktif, bukan pembelian hakiki. Bank tidak ada keperluan untuk membelinya, tujuannya hanya keuntungan 10 persen. Kami telah memperingatkan lebih dari sekali bagi orang yang bertanya tentang hal itu," Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 13/311 fatwa 8265.

Apabila di dalam transaksi itu juga ada keterlambatan bila terlambat bayar cicilan ini juga tidak boleh dan masuk ke dalam riba. Sesungguhnya Majma Fikih Islami yang dilaksanakan pada Daurah Muktamar Keenam di Jedah Pemerintahan Saudi Arabia tanggal 17-23 Sya’ban 1410 H bertepatan tanggal 14-20 Maret 1990 M. setelah meneliti terkait pembahasan yang ada dalam Majma khusus pembahasan menjual dengan kredit, dengan mendengarkan dialog yang ada seputar itu, maka ditetapkan sebagai berikut:

Pertama: Dibolehkan menambah harga kredit dari harga cash, sebagaimana dibolehkan menyebutkan harga barang antara harga cash dan harga kredit untuk waktu tertentu. Tidak sah penjualan kecuali jika ditetapkan salah satu dari dua akad, baik dengan cash atau kredit. Kalau terjadi penjualan disertai keraguan antara cash dan kredit, yaitu belum terjadi kesepakatan tetap untuk satu harga tertentu, maka hal itu tidak dibolehkan agama.

Kedua: Tidak dibolehkan agama dalam penjualan kredit, penyebutkan langsung dalam akad untuk keuntungan kredit, terpisah dari harga cash, yaitu yang terkait dengan waktu penundaan. Baik telah sepakat dua akad dengan prosentasi keuntungan atau tekait dengan keuntungan yang berlaku sekarang.

Ketiga: Kalau pembeli yang berhutang terlambat membayar kredit dari waktu yang ditentukan, maka tidak dibolehkan memaksa tambahan hutang dengan syarat terdahulu atau tanpa syarat. Karena hal itu termasuk riba yang diharamkan.

Keempat: Diharamkan orang yang berhutang menunda-nunda pembayaran ketika telah jatuh tempo kredit, meskipun begitu, tidak dibolehkan dalam agama mensyaratkan pengganti dalam kondisi terlambat dalam pembayaran.

Kelima: Dibolehkan dalam agama, penjual kredit mensyaratkan pembayaran kredit sebelum jatuh tempo, ketika orang yang berhutang terlambat dalam pembayaran sebagiannya. Selagi orang yang berhutang telah rela dengan syarat ini waktu akad (pembelian).

Keenam: penjual tidak berhak menyimpan kepemilikan barang yang dijual setelah terjual. Akan tetapi penjual dibolehkan mensyaratkan kepada pembeli menggadaikan barang yang dijual (disimpan) pada dirinya untuk jaminan haknya dalam pemenuhan kredit di akhir.” (Majalah Mujama, edisi.6 Juz 1 hal. 453)

Apabila sudah diyakini bahwa pembelian rumah oleh penanya didasari sistem riba maka dia harus segera bertaubat kepada Allah ta'ala karena ia termasuk pihak yang terkena dosa besar riba. asulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


عن جابر، لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ» ، وَقَالَ: «هُمْ سَوَاءٌ»


Dari Jabir; dia berkata, 'Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, nasabah riba, juru catat, dan dua saksi transaksi riba. Rasulullah bersabda, 'Mereka semua itu sama.'' (Hr. Muslim, no. 1598)

Jika sudah terlanjur membeli barang dari Bank dengan sistem ribawi maka seharusnya nasabah harus segera berlepas diri dari riba Bank itu, kalau bisa menghalangi pihak bank mendapatkan uang tambahan ribanya maka itu bagus namun nampaknya ini sangat sulit, kalau tidak mungkin melakukan itu (menghalangi bank mendapatkan tambahan ribanya) maka bersegeralah berhutang dari teman atau saudara untuk melunasi hutang dari bank tersebut. Lihat fatwa syaikh Utsaimin dalam bentuk audio yang telah dirubah dalam bentuk tulisan di http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=112033

Sebagian fatwa di atas diambil dari situs: islamqa.info

Dengan demikian, apabila penanya memperoleh rizki dalam bentuk uang yang besar secara tiba-tiba maka prioritaskan melunasi hutang riba supaya tidak terus menerus di pusaran riba. Apabila nanti setelah dilunasi hutangnya tidak ada sisanya maka tidak ada yang harus dizakati. Wallahu ta'ala a'lam 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com