SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Zakat Fitrah Dalam Bentuk Bingkisan Mie Dll


Ikhwan (Cikarang)
5 months ago on Fiqih

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, afwan ustadz mau tanya mengenai zakat fithr. Apakah boleh zakat fithr diberikan dalam bentuk sembako selain beras seperti mie, telor, sarden dan minyak goreng. Di wilayah ana ada kegiatan untuk membantu orang yg terdampak wabah covid secara ekonomi. Kami punya rencana untuk memberikan sembako yg terdiri dari beras, mie, telor, sarden dan minyak. Sepengetahuan saya, zakat fithr itu adalah makanan pokok dan kalau di indonesia berupa beras. Ketika para muslimin yg menunaikan zakat fithr dengan cara memberikan uang, yg biasanya dibelikan beras. Tapi untuk sekarang uang tadi untuk dibelikan pelengkap paket selain beras yang nanti paket sembako ini akan dibagikan ke fakir miskin termasuk yg terkenda dampak wabah ini secara ekonomis. Mohon penjelasannya. Syukron. Jazakallahu khairan katsiron. Wassalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Andy
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Wallahu ta'ala a'lam kami condong ke pendapat yang menyatakan bahwa zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk makanan pokok suatu daerah, dan di tempat kita makanan pokok adalah beras, oleh karena itu kami belum sepakat bila zakat fitrah disalurkan dalam bentuk mie instan atau selainnya yang bukan makanan pokok. Apabila orang miskin sudah menerima beras kemudian dia ingin menjual berasnya supaya mendapatkan uang maka itu hak dia, atau bila dia mau menukar berasnya ke bentuk mie instan itu juga haknya.

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan fatwa Arab Saudi pernah ditanya," Apakah hadis "(Pahala) puasa Ramadhan tidak diangkat hingga zakat fitrah diberikan)" itu sahih? Jika seorang Muslim yang berpuasa itu seorang yang membutuhkan dan tidak punya harta yang mencapai nisab zakat, apakah ia wajib mengeluarkan zakat fitrah karena kesahihan hadis tadi ataukah karena ada dalil syar`i lain yang sahih dari Sunah?


Mereka menjawab: Zakat fitrah diwajibkan atas setiap Muslim yang biasanya mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, zakat itu wajib ketika ia memiliki sisa makanan dari makanan pokok untuk diri dan keluarganya untuk siang dan malam hari raya.;zakat itu ukurannya sebesar satu sha`. Landasan zakat fitrah ini adalah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu `anhuma, ia berkata,

 

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ، عَلىَ العَبْدِ وَالحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالكَبِيْرِ مِنَ المُسْلِمِيْنَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلىَ الصَّلاَةِ

 


Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha` kurma atau satu sha` jawawut, atas diri budak maupun orang merdeka, pria maupun wanita, dan anak kecil maupun orang dewasa dari kalangan kaum muslim. Beliau memerintahkan agar zakat fitrah ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk salat (Idulfitri)".Muttafaq `Alaih dan lafazh hadis menurut riwayat Bukhari


Begitu pula hadis yang diriwayatkan Abu Sa`id al-Khudri radhiyallahu `anhu, ia berkata "

 

 

«كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الفِطْرِ إِذْ كاَنَ فِيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أو صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ أو صَاعًا مِنْ زَبِيْبٍ أو صاعًا مِنْ أَقِط»

 

 


Dulu saat Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam masih ada di tengah-tengah kami, kami mengeluarkan zakat fitrah sebanyak satu sha` makanan, satu sha` kurma, satu sha` jawawut, satu sha` kismis, atau satu sha` keju." (Muttafaq `Alaih).


Zakat fitrah ini boleh dibayar dengan satu sha` makanan pokok setempat, seperti beras dan lainnya. Maksud sha` di sini adalah sha` Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu sebanyak empat cakupan dua tangan lelaki yang berperawakan sedang. Jika seseorang tidak mengeluarkan zakat fitrah maka ia berdosa dan wajib mengqadhanya. Adapun hadis yang Anda sebutkan, kami tidak mengetahui kesahihannya. Kami berdoa semoga Allah memberi taufik kepada Anda, dan semoga Dia memperbaiki perkataan dan perbuatan kami dan Anda. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

_______________________________________________________________________
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa. Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdullah bin Qu'ud selaku Anggota,
Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota,
Abdurrazzaq `Afifi selaku Wakil Ketua Komite,
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua,
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 9/364-365 Pertanyaan Kelima dari Fatwa Nomor 5733.

Wallahu a'lam

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com