SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

lanjutan pertanyaan "apakah perlu dimaafkan"


Akhwat (Depok)
2 months ago on Aqidah

Assalamualaikum pak ustad, saya mau melanjutkan pertanyaan yang saya tanyakan kemaren http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/7714-apakah-perlu-dimaafkan saya sudah berbicara panjang lebar dengannya (sepupu laki-laki yang pernah berbuat cabul ke saya) melalui wa tadi malam setelah mendapat jawaban dari pak ustad. jadi dia mengatakan bahwa dia memang ingin bertaubat, tapi masih kesulitan untuk sepenuhnya menghindari dosa. tapi dia gak pernah lagi berbuat dosa yang merugikan orang lain, dia juga bilang katanya baru bisa bersungguh-sungguh untuk bertaubat pada dosa yang pernah dia lakukan dengan saya dan adik saya karena takut dengan ancaman hukuman zina. nahh dari sini saya mau tanya: 1. apakah boleh kalau dia cuma bertaubat dari 1 dosa ini saja? tapi ntah kenapa saya yakin kalau dia gak akan lagi mengulang perbuatan yang sama ke saya ataupun ke orang lain karena vn yang dikirimnya sambil menangis nangis. dia juga sudah sholat taubat dan minta ampun dari Allah 2. katanya juga dia belum berani buat minta maaf langsung ke adik saya yang jadi korbannya juga, katanya karena masih terlalu kecil jadi dia gak tega. katanya mungkin beberapa tahun lagi kalau adik saya sudah baligh, nahh gimana yang seharusnya? apa dia harus ngakuin perbuatannya ke adik saya juga atau gak perlu? 3. dia sudah saya kasih tau kalau saya bertanya di web ini, trus dia titip pertanyaan. saya kopy chatnya disini "Pak ustad, saya sudah sangat menyesali perbuatan saya. saya benar-benar tidak pernah lagi melakukannya sejak 2 tahun yang lalu, saya juga tidak pernah lagi terpikir buat melakukan itu. taubat yang saya lakukan ini karena saya tiba2 teringat perbuatan saya ini di masa lalu, saya sudah sholat taubat dan minta ampunan. tapi saya sadar perbuatan saya juga menyangkut hak manusia, makanya saya meminta maaf pada si A**** (maaf sensor,dia nyebut nama saya) tapi saya belum minta maaf pada adiknya karna takut dia memahami sesuatu yang belum waktunya. harus bagaimana yang saya lakukan ustad? saya harus tutup aib ini rapat-rapat atau mengaku ke orang tua mereka berdua? tapi saya tidak melakukan pemerkosaan terhadap mereka pak ustad, saya hanya 'menggesekkan' saja, apa itu termasuk dosa besar juga?" mohon maaf sudah merepotkan dengan permasalahan saya ya pak ustad, tapi saya mohon jawabannya. karna saya sudah maafkan dia tapi saya gak tega kalau permasalahan dia dengan Allah masih belum terselesaikan. terima kasih pak ustad
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Saran kami adalah maafkanlah dia dan semoga apa yang disampaikan (terkait keinginan bertaubat dari "kejahatan seksual" ) sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. Penanya kami sarankan supaya jangan lupa untuk menasehati yang besangkutan supaya bertaubat juga dari dosa lain supaya dia tidak terkena efek dosa di dunia dan di akhirat dan supaya dia bisa mendapatkan karunia besar di dunia dan akhirat.

Ibnu Qayyim –rahimahullah- berkata di dalam Al Jawabu Al Kaafi: 165

“Hikmah Allah sudah menunjukkan keadilan dan keutamaan bahwa: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti halnya tidak ada dosa baginya”.

Allah –subhanahu- telah menjamin orang yang telah bertaubat dari dari syirik, bunuh diri dan zina, maka keburukan-keburukannya akan diganti dengan kebaikan-kebaikannya, ini adalah hukum umum berlaku bagi setiap orang yang bertaubat dari dosa.

Allah –Ta’ala- berfirman:

 قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ 

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar: 53)

Tidak satu pun dosa yang dikecualikan dari keumuman hukum tersebut, akan tetapi ini merupakan hak orang-orang yang bertaubat secara khusus”.

Allah –Ta’ala- telah menjelaskan bahwa “Al Muttaqiin” (orang-orang yang bertakwa) di dalam kitab-Nya, bahwa mereka orang-orang yang telah melakukan dosa besar atau mereka menzholimi diri mereka dengan dosa-dosa kecil, mereka menyebut Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Pengampun, lalu mereka meminta ampun dari dosa-dosa mereka, mereka tidak melakukannya lagi dan tidak mengulang-ngulangi kemaksiatan.

Maka Allah –Jalla fii ‘Ulahu- berfirman:

 وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ * وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ * أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”. (QS. Ali Imron: 133-136)

“Al Mushirr ‘ala Adz Dzunuub” adalah mereka yang melakukan dosa, membiasakan berbuat dosa berkali-kali, tanpa taubat dan istighfar.

 Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com