SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tidak Mendapat Restu Dari Ibu


Akhwat (Jawa Timur)
1 month ago on Keluarga

Saya seorang perempuan saya ingin menikah dengan lelaki yang saya inginkan. Ayah saya telah menyetujui dan memberi restu tetapi ibu saya tidak ingin saya menikah dahulu ingin saya kuliah dan kerja terlebih dahulu. Padahal calon suami saya akan mendukung keinginan ibu saya tetapi sang ibu tetap egois bahwa saya tidak boleh menikah dengannya sebelum hidup saya mapan sudah mendapat pekerjaan. Apakah saya berdosa bila tidak mendengarkan pendapat ibu? Bila saya tetap menikah apakah pernikahan saya tidak berkah?
Redaksi salamdakwah.com
1 month ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila laki-laki itu bagus agamanya, bagus akhlaqnya, bertakwa kepada Allah dan cerdas maka tidak masalah sama sekali untuk terus maju menyelenggarakan pernikahan itu meski ibu penanya tidak setuju.. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya," Saya seorang perempuan bercadar. Dua orang laki-laki datang meminang saya. Peminang pertama adalah laki-laki berjenggot yang sedang menempuh studi di tingkat dua semester genap fakultas ekonomi, sementara saya telah lulus sebagai sarjana ekonomi. Meskipun begitu, usianya lebih tua tiga tahun dari saya. Dia hanya memiliki satu orang saudara perempuan yang akan menikah di daerah yang jauh. 
Peminang kedua adalah seorang insinyur pertanian yang memiliki flat pribadi. Dia memenuhi kriteria yang saya cari dalam hal keagamaan, seperti tidak berjabat tangan dan ikhtilath (bergaul bebas) dengan lawan jenis, dan lain-lain. Dia sangat komitmen terhadap agamanya dan akhlaknya amat mulia. Namun dia tidak berjenggot. Keluarga saya di rumah menyerahkan semuanya kepada saya. Pilihan ini membuat saya bingung. Oleh karena itu, saya mohon Anda dapat menjelaskan pandangan Islam mengenai hal ini, dengan mempertimbangkan bahwa kedua laki-laki tersebut berkecukupan dari sisi finansial.

Mereka menjawab," Suami yang dipilih haruslah laki-laki yang saleh dalam agamanya, bertakwa kepada Allah dalam segala urusannya, paling bagus akhlaknya, dan paling sempurna kecerdasannya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/47-48. Fatwa NO.13656

Syaikh Ibnu Baz menerangkan bahwa sekolah tidak bertentangan secara langsung dengan pernikahan. Berikut ini kami terjemahkan keterangan syaikh Ibnu Baz:
Yang wajib adalah bersegera menikah, tidak selayaknya seorang pemuda mengakhirkan pernikahan dengan alasan study, begitu pula seorang gadis, tidak selayaknya ia mengakhirkan pernikahan demi study, pernikahan tidak menghalangi itu sedikitpun, seorang pemuda bisa menikah (dengan begitu ia menjaga agama, akhlaq dan menundukkan pandangannya), bersamaan dengan itu ia tetap melanjutkan studynya, begitu pula seorang gadis jika Allah memberinya kecukupan.
Selayaknya bersegera menikah meski sedang belajar di tingkat sekolah menengah atas atau sekolah tinggi, itu semua tidak menghalangi.

Yang wajib adalah segera dan setuju menikah jika ada laki-laki sepadan yang melamar, dan study tidak menghalangi pernikahan. Seandainya sebagian study terputus (karena pernikahan.pent) maka itu tidak apa, yang penting ia (wanita.pent) belajar apa yang bisa mengantarnya ke pengetahuan ilmu agamanya, adapun ilmu lainnya hanya sebagai faedah biasa.

Pernikahan memiliki maslahat yang banyak, khususnya pada zaman sekarang, dan pernikahan yang ditinggalkan akan menimbulkan bahaya untuk pemuda dan gadis
Majmu' Fatawa Ibnu Baz 20/421-422

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com