SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Ayah Tidak Bekerja, Kakak Hamil Di luar Nikah, Ibu Selingkuh


Akhwat (Kuningan)
1 month ago on Keluarga

Assalamualaikum afwan ustad saya mu nanya tentang bagaimana saya menegur ibu saya. Saya cerita dulu sedikit ya tad,saya sekolah luar kota nah saya udh lama ga pulang ke rumah kan,eh tiba2 saya pulang ke rumah ada berita ternyata kaka saya hamil diluar nikah tad,saya malu tad,dengan kondisi ini juga keluarga saya tidak harmonis semenjak bapak saya keluar dari pekerjaannya(ini udh lama) dan sekarang tidak bekerja ,sedangkan ibu saya ternyata selingkuh saya sakit hati liat nya tad,miris dengan kondisi ini saya ingin banget menegur ibu saya,tapi saya gamau malah berantem sama bapak saya,gpp tad biar saya tau aja dan bisa memperbaiki ini semua insya allah,tapi saya ingin menegur ibu saya dengan baik2,tapi disini posisi ibu saya emng kuat kalo dlm ibadahh,sedekah bagaimana tad? Syukron wasalamualaikum
Redaksi salamdakwah.com
1 month ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

إنا لله وإنا إليه راجعون. الله المستعان

Kami cukup sedih mendengar keterangan penanya. Kami berdo'a semoga Allah ta'ala mengembalikan keluarga penanya ke jalan yang lurus. Berdasarkan keterangan penanya ada beberapa masalah yang perlu dikoreksi di keluarganya. pertama:  ayah yang tidak bekerja (bila beliau masih mampu bekerja)

kedua: kakak yang hamil di luar nikah

ketiga: ibu yang selingkuh

Secara umum penanya perlu mendakwahi dan melakukan amar ma'ruf nahi mungkar kepada mereka semua karena mereka ada kesalahan, diharapkan dengan begitu mereka kembali ke jalan yang lurus. Allah ta'ala berfirman dalam surat an-Nahl ayat 125,


ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ


Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Syaikh Sa'di menerangkan makna ayat tersebut," Berdakwahlah kepada jalan Rabb mu yang lurus yang mencakup ilmu yang bermanfaat dan amal shalih (baik dakwah itu kepada orang muslim atau orang kafir) dengan hikmah yakni menyesuaikan dengan keadaan, pemahaman, ucapan dan ketundukan objek dakwah.

Termasuk hikmah dalam berdakwah adalah:
- dakwah didasari dengan ilmu bukan dengan kebodohan
- memprioritaskan materi dakwah yang paling penting
- Mendahulukan apa yang mudah dicerna di benak dan pemahaman objek dakwah, dan mendahulukan yang mudah diterima dengan sempurna
- dilakukan dengan lembut dan halus

Apabila dakwah yang dilakukan dengan hikmah tidak diterima maka beralih ke cara selanjutnya yakni dengan al- Mauidhoh al-Hasanah yakni perintah dan larangan yang disertai dengan dorongan dan ancaman
- itu bisa dilakukan dengan menyebutkan dan memperinci maslahat dari perintah-perintah agama dan bisa dilakukan dengan menyebutkan dan memperinci mudhorot dari larangan agama.
- atau dengan menyebutkan kemuliaan yang diberikan kepada orang yang melaksanakan aturan agama Allah dan menyebutkan kehinaan yang ditimpakan kepada orang yang tidak melaksanakan aturan agama Allah
- atau menyebutkan pahala yang disegerakan dan pahala yang disiapkan nanti bagi orang-orang yang taat serta menyebutkan balasan yang disegerakan atau yang disiapkan nanti bagi orang-orang yang tidak mau taat

Apabila objek dakwah berpendapat bahwa sikap dia benar atau dia mengajak orang kepada kebatilan maka dia diajak untuk berdiskusi dengan cara yang baik. Itulah metode-metode yang lebih dekat dengan kemungkinan diterimanya dakwah oleh objek dakwah baik itu ditinjau dari sisi logika atau nash. Taisir al-Karim ar-Rahman 452

Sebelum dakwah dilaksanakan seharusnya kita berdoa kepada Allah ta'ala semoga Allah ta'ala memudahkan dakwah kita. Dalam kasus penanya dibolehkan juga baginya untuk bervariasi dalam mendakwahi dan menasehati keluarganya seperti memberikan bacaan ilmiah, memperdengarkan ceramah, meminta bantuan kepada pemuka agama atau keluarga yang disegani untuk menasehatinya atau metode lain yang diperbolehkan. Ada juga e-book tentang mendakwahi keluarga. Silahkan didownload di link berikut: http://www.salamdakwah.com/kitab/21-cara-berdakwah-kepada-karib-kerabat

Disebutkan di atas bahwa orang yang mendakwahi harus punya ilmu tentang apa yang dia dakwahkan. Berikut ini kami bawakan satu persatu dasar dari melakukan maar ma'ruf dan nahi mungkar kepada keluarganya:

Pertama: Ayah yang tidak bekerja.

Seorang kepala rumah tangga wajib untuk memberi nafkah lahir dan batin kepada istrinya, ia wajib untuk berusaha mencari rizki yang halal untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Allah ta’ala berfirman:


لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ... (٧


Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.. Ath-Tholaq:7
 
Apabila seseorang lalai dalam mencukupi kebutuhan orang yang berada di bawah tanggungannya maka ia telah berdosa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ


Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa orang-orang yang menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya. HR. Muslim no.996
 
Termasuk perbuatan dosa berdasarkan hadits di atas adalah seorang suami yang tidak memberikan nafkah sama sekali (Sehingga keluarga tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya) dan menyimpan uangnya dengan argumen untuk kebaikan masa depan keluarga.
 
Apabila suami, memberikan sebagian pendapatannya ke istri perbulan- misalnya- dan juga membelikan istri apa yang diminta dengan uangnya sendiri (suami) sehingga kebutuhan istri dan keluarganya terpenuhi maka suami tidak berdosa. Perlu diketahui pula bahwa kebutuhan yang wajib dipenuhi oleh suami adalah kebutuhan standar istri dan anak-anak sesuai dengan adat yang ada di masyarakat di mana mereka  tinggal dan sesuai dengan strata istri.
Apabila suami sudah berusaha mencari rizqi yang halal untuk menunaikan tugasnya sebagai kepala rumah tangga tapi penghasilan yang diperoleh masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga maka istri boleh memberi nafkah dan ini termasuk perbuatan mulia serta berpahala. Dalam salah satu riwayat disebutkan:


عَنْ زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ - بِمِثْلِهِ سَوَاءً - قَالَتْ: كُنْتُ فِي المَسْجِدِ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِّكُنَّ» وَكَانَتْ زَيْنَبُ تُنْفِقُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ، وَأَيْتَامٍ فِي حَجْرِهَا، قَالَ: فَقَالَتْ لِعَبْدِ اللَّهِ: سَلْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَيْكَ وَعَلَى أَيْتَامٍ فِي حَجْرِي مِنَ الصَّدَقَةِ؟ فَقَالَ: سَلِي أَنْتِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَانْطَلَقْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَجَدْتُ امْرَأَةً مِنَ الأَنْصَارِ عَلَى البَابِ، حَاجَتُهَا مِثْلُ حَاجَتِي، فَمَرَّ عَلَيْنَا بِلاَلٌ، فَقُلْنَا: سَلِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَى زَوْجِي، وَأَيْتَامٍ لِي فِي حَجْرِي؟ وَقُلْنَا: لاَ تُخْبِرْ بِنَا، فَدَخَلَ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: «مَنْ هُمَا؟» قَالَ: زَيْنَبُ، قَالَ: «أَيُّ الزَّيَانِبِ؟» قَالَ: امْرَأَةُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: «نَعَمْ، لَهَا أَجْرَانِ، أَجْرُ القَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ


Dari Zainab isteri 'Abdullah radliallahu 'anhua sama seperti ini, berkata,: "Aku pernah berada di masjid lalu aku melihat Nabi Shallallahu'alaihiwasallam. Kemudian Beliau bersabda: "Bershadaqahlah kalian walau dari perhiasan kalian". Pada saat itu Zainab berinfaq untuk 'Abdullah dan anak-anak yatim di rumahnya. Dia ('Amru bin Al Harits) berkata,:; Zainab berkata, kepada 'Abdullah: "Tanyakanlah kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam apakah aku akan mendapat pahala bila aku menginfaqkan shadaqah (zakat) ku kepadamu dan kepada anak-anak yatim dalam rumahku". Maka 'Abdullah berkata,: "Tanyakanlah sendiri kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam ". Maka aku berangkat untuk menemui Nabi Shallallahu'alaihiwasallam dan aku mendapatkan seorang wanita Anshar di depan pintu yang sedang menyampaikan keperluannya seperti keperluanku. Kemudian Bilal lewat di hadapan kami maka kami berkata: "Tolong tanyakan kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, apakah aku akan mendapat pahala bila aku mengingfaqkan shadaqah (zakat) ku kepada suamiku dan kepada anak-anak yatim yang aku tanggung dalam rumahku?". Dan kami tambahkan agar dia (Bilal) tidak menceritakan siapa kami. Maka Bilal masuk lalu bertanya kepada Beliau. Lalu Beliau bertanya: "Siapa kedua wanita itu?". Bilal berkata,: "Zainab". Beliau bertanya lagi: "Zainab yang mana?". Dikatakan: "Zainab isteri 'Abdullah". Maka Beliau bersabda: "Ya benar, baginya dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala zakatnya". HR. Bukhari no. 1466 dan Muslim no. 1000

Kedua: kakak yang hamil di luar nikah  

Hubungan khusus antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram di luar pernikahan adalah hubungan yang terlarang. Hubungan itu kadang diwujudkan hanya dalam obrolan, khalwat (berdua-duaan) , bersentuhan atau ada yang sampai kepada perzinaan wal'iyadzu billah.  Hubungan khusus (baca:pacaran) di atas adalah perbuatan yang mendekatkan pasangan kepada perzinaan atau bahkan menjadikan keduanya berzina (sebagaimana terjadi pada kakak penanya yang diceritakan di atas).  

Syariat Islam dengan tegas melarang perzinaan dan perkara-perkara yang mendekatkan seseorang kepada perzinaan. Diantara dalil yang menunjukkan keharaman zina adalah:  

1. Firman Allah ta'ala dalam surat al-Furqon:68:

  وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا  

Dan orang-orang yang tidak menyembah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),  

2. Cerita tentang adzab pedih untuk para pezina dan para pendosa lainnya:

    عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمُ اللَّيْلَةَ رُؤْيَا؟» قَالَ: فَإِنْ رَأَى أَحَدٌ قَصَّهَا، فَيَقُولُ: «مَا شَاءَ اللَّهُ» فَسَأَلَنَا يَوْمًا فَقَالَ: «هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رُؤْيَا؟» قُلْنَا: لاَ، قَالَ: «لَكِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي فَأَخَذَا بِيَدِي، فَأَخْرَجَانِي إِلَى الأَرْضِ المُقَدَّسَةِ، فَإِذَا رَجُلٌ جَالِسٌ، وَرَجُلٌ قَائِمٌ، بِيَدِهِ كَلُّوبٌ مِنْ حَدِيدٍ» قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا عَنْ مُوسَى: " إِنَّهُ يُدْخِلُ ذَلِكَ الكَلُّوبَ فِي شِدْقِهِ حَتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ، ثُمَّ يَفْعَلُ بِشِدْقِهِ الآخَرِ مِثْلَ ذَلِكَ، وَيَلْتَئِمُ شِدْقُهُ هَذَا، فَيَعُودُ فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ، قُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ عَلَى قَفَاهُ وَرَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِهِ بِفِهْرٍ - أَوْ صَخْرَةٍ - فَيَشْدَخُ بِهِ رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فَلاَ يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وَعَادَ رَأْسُهُ كَمَا هُوَ، فَعَادَ إِلَيْهِ، فَضَرَبَهُ، قُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا إِلَى ثَقْبٍ مِثْلِ التَّنُّورِ، أَعْلاَهُ ضَيِّقٌ وَأَسْفَلُهُ وَاسِعٌ يَتَوَقَّدُ تَحْتَهُ نَارًا، فَإِذَا اقْتَرَبَ ارْتَفَعُوا حَتَّى كَادَ أَنْ يَخْرُجُوا، فَإِذَا خَمَدَتْ رَجَعُوا فِيهَا، وَفِيهَا رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى وَسَطِ النَّهَرِ - قَالَ يَزِيدُ، وَوَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ: عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ - وَعَلَى شَطِّ النَّهَرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهَرِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِي فِيهِ، فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ، فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيهِ بِحَجَرٍ، فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ، فَقُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ، فِيهَا شَجَرَةٌ عَظِيمَةٌ، وَفِي أَصْلِهَا شَيْخٌ وَصِبْيَانٌ، وَإِذَا رَجُلٌ قَرِيبٌ مِنَ الشَّجَرَةِ بَيْنَ يَدَيْهِ نَارٌ يُوقِدُهَا، فَصَعِدَا بِي فِي الشَّجَرَةِ، وَأَدْخَلاَنِي دَارًا لَمْ أَرَ قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهَا، فِيهَا رِجَالٌ شُيُوخٌ وَشَبَابٌ، وَنِسَاءٌ، وَصِبْيَانٌ، ثُمَّ أَخْرَجَانِي مِنْهَا فَصَعِدَا بِي الشَّجَرَةَ، فَأَدْخَلاَنِي دَارًا هِيَ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ فِيهَا شُيُوخٌ، وَشَبَابٌ، قُلْتُ: طَوَّفْتُمَانِي اللَّيْلَةَ، فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ، قَالاَ: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُوا الرِّبَا، وَالشَّيْخُ فِي أَصْلِ الشَّجَرَةِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَالصِّبْيَانُ، حَوْلَهُ، فَأَوْلاَدُ النَّاسِ وَالَّذِي يُوقِدُ النَّارَ مَالِكٌ خَازِنُ النَّارِ، وَالدَّارُ الأُولَى الَّتِي دَخَلْتَ دَارُ عَامَّةِ المُؤْمِنِينَ، وَأَمَّا هَذِهِ الدَّارُ فَدَارُ الشُّهَدَاءِ، وَأَنَا جِبْرِيلُ، وَهَذَا مِيكَائِيلُ، فَارْفَعْ رَأْسَكَ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا فَوْقِي مِثْلُ السَّحَابِ، قَالاَ: ذَاكَ مَنْزِلُكَ، قُلْتُ: دَعَانِي أَدْخُلْ مَنْزِلِي، قَالاَ: إِنَّهُ بَقِيَ لَكَ عُمُرٌ لَمْ تَسْتَكْمِلْهُ فَلَوِ اسْتَكْمَلْتَ أَتَيْتَ مَنْزِلَكَ      

Dari Samurah bin Jundab berkata; Sudah menjadi kebiasaan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bila selesai melaksanakan suatu shalat, Beliau menghadapkan wajahnya kepada kami lalu berkata,: "Siapa diantara kalian yang tadi malam bermimpi". Dia (Samrah bin Jundab) berkata,: "Jika ada seorang yang bermimpi maka orang itu akan menceritakan, saat itulah Beliau berkata,: "Maa sya-allah" (atas kehendak Allah) ". Pada suatu hari yang lain Beliau bertanya kepada kami: "Apakah ada diantara kalian yang bermimpi?". Kami menjawab: "Tidak ada". Beliau berkata,: "Tetapi aku tadi malam bermimpi yaitu ada dua orang laki-laki yang mendatangiku kemudian keduanya memegang tanganku lalu membawaku ke negeri yang disucikan (Al Muqaddasah), ternyata disana ada seorang laki-laki yang sedang berdiri dan yang satunya lagi duduk yang di tangannya memegang sebatang besi yang ujungnya bengkok (biasanya untuk menggantung sesuatu). Sebagian dari sahabat kami berkata, dari Musa bahwa: batang besi tersebut dimasukkan ke dalam satu sisi mulut (dari geraham) orang itu hingga menembus tengkuknya. Kemudian dilakukan hal yang sama pada sisi mulut yang satunya lagi, lalu dilepas dari mulutnya dan dimasukkan kembali dan begitu seterusnya diperlakukan. Aku bertanya: "Apa ini maksudnya?". Kedua orang yang membawaku berkata,: "Berangkatlah". Maka kami berangkat ke tempat lain dan sampai kepada seorang laki-laki yang sedang berbaring bersandar pada tengkuknya, sedang ada laki-laki lain yang berdiri diatas kepalanya memegang batu atau batu besar untuk menghancurkan kepalanya. Ketika dipukulkan, batu itu menghancurkan kepala orang itu, Maka orang itu menghampirinya untuk mengambilnya dan dia tidak berhenti melakukan ini hingga kepala orang itu kembali utuh seperti semula, kemudian dipukul lagi dengan batu hingga hancur. Aku bertanya: "Siapakah orang ini?". Keduanya menjawab: "Berangkatlah". Maka kamipun berangkat hingga sampai pada suatu lubang seperti dapur api dimana bagian atasnya sempit dan bagian bawahnya lebar dan dibawahnya dinyalakan api yang apabila api itu didekatkan, mereka (penghuninya) akan terangkat dan bila dipadamkan penghuninya akan kembali kepadanya, penghuninya itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Aku bertanya: "Siapakah mereka itu?". Keduanya menjawab: "Berangkatlah". Maka kami pun berangkat hingga sampai di sebuah sungai yang airnya adalah darah, disana ada seorang laki-laki yang berdiri di tengah-tengah sungai". Berkata, Yazid dan Wahb bin Jarir dari Jarir bin Hazim: 'Dan di tepi sungai ada seorang laki-laki yang memegang batu. Ketika orang yang berada di tengah sungai menghadapnya dan bermaksud hendak keluar dari sungai maka laki-laki yang memegang batu melemparnya dengan batu kearah mulutnya hingga dia kembali ke tempatnya semula di tengah sungai, dan terjadilah seterusnya begitu, setiap dia hendak keluar dari sungai, akan dilempar dengan batu sehingga kembali ke tempatnya semula. Aku bertanya: "Apa maksudnya ini?" Keduanya menjawab: "Berangkatlah". Maka kamipun berangkat hingga sampai ke suatu taman yang hijau, didalamnya penuh dengan pepohonan yang besar-besar sementara dibawahnya ada satu orang tua dan anak-anak dan ada seorang yang berada dekat dengan pohon yang memegang api, manakala dia menyalakan api maka kedua orang yang membawaku naik membawaku memanjat pohon lalu keduanya memasukkan aku ke sebuah rumah (perkampungan) yang belum pernah aku melihat seindah itu sebelumnya dan didalamnya ada para orang laki-laki, orang-orang tua, pemuda, wanita dan anak-anak lalu keduanya membawa aku keluar dari situ lalu membawaku naik lagi ke atas pohon, lalu memasukkan aku ke dalam suatu rumah yang lebih baik dan lebih indah, didalamnya ada orang-orang tua dan para pemuda. Aku berkata: "Ajaklah aku keliling malam ini dan terangkanlah tentang apa yang aku sudah lihat tadi". Maka keduanya berkata,: "Baiklah. Adapun orang yang kamu lihat mulutnya ditusuk dengan besi adalah orang yang suka berdusta dan bila berkata selalu berbohong, maka dia dibawa hingga sampai ke ufuq lalu dia diperlakukan seperti itu hingga hari qiyamat. Adapun orang yang kamu lihat kepalanya dipecahkan adalah seorang yang telah diajarkan Al Qur'an oleh Allah lalu dia tidur pada suatu malam namun tidak melaksanakan Al Qur'an pada siang harinya, lalu dia diperlakukan seperti itu hingga hari qiyamat. Dan orang-orang yang kamu lihat berada didalam dapur api mereka adalah para pezina sedangkan orang yang kamu lihat berada di tengah sungai adalah mereka yang memakan riba' sementara orang tua yang berada dibawah pohon adalah Nabi Ibrahim 'alaihissalam, sedangkan anak-anak yang ada disekitarnnya adalah anak-anak kecil manusia. Adapun orang yang menyalakan api adalah malaikat penunggu neraka sedangkan rumah pertama yang kamu masuki adalah rumah bagi seluruh kaum mu'minin sedangkan rumah yang ini adalah perkampungan para syuhada' dan aku adalah Jibril dan ini adalah Mika'il, maka angkatlah kepalamu. Maka aku mengangkat kepalaku ternyata diatas kepalaku ada sesuatu seperti awan. Keduanya berkata,: "Itulah tempatmu". Aku berkata: "Biarkanlah aku memasuki rumahku". Keduanya berkata,: " Umurmu masih tersisa dan belum selesai dan seandainya sudah selesai waktunya kamu pasti akan memasuki rumahmu". HR. Bukhari no.1386    

Diantara dalil terkait pelarangan mendekati perbuatan zina adalah firman Allah ta'ala di surat Al-Isra':32:

   وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا    

Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.  Silahkan melihat tulisan kami sebelumnya terkait pacaran: http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/pacaran-1.html    

Sesudah kita fahami haramnya hubungan spesial yang disebutkan oleh penanya maka para pelaku zina itu harus bertaubat dari zina dan dari hubungan yang diharamkan tersebut. Taubat yang dilakukan harus memenuhi syaratnya. Berikut ini syarat taubat yang harus dipenuhi: syarat taubat, yaitu:  

1. Ikhlas karena Allah ta’ala : Maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya    

2. Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya.    

3. Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya.    

4. Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut.    

5. Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380    

Disebutkan pada point 3 di atas: Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya. Sehingga orang yang memiliki hubungan tadi harus segera berhenti dari zina dan dari hubungan terlarang itu (pacaran).  Apabila kakak penanya dan pacarnya bertaubat kemudian menikah maka itu tidak dipersoalkan. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya: Seorang pria hidup bersama seorang wanita tanpa ikatan pernikahan (kumpul kebo) dan memiliki banyak anak. Setelah itu, laki-laki tersebut menikahi dua orang wanita secara syar'i dan keduanya pun melahirkan banyak anak. Kemudian, laki-laki itu ingin mengusir wanita yang pertama dari rumah, tetapi anak-anaknya melarang. Bagaimana hukum atas permasalahan ini?    

Mereka menjawab: "kumpul kebo" merupakan perbuatan zina yang diharamkan menurut Alquran, Sunah, dan ijmak umat Islam. Kedua pasangan zina itu harus berpisah, bertobat kepada Allah, dan meminta ampun kepada-Nya. Apabila keduanya sudah bertobat dengan sungguh-sungguh lalu menikah secara syar'i, maka tidak ada lagi yang dipersoalkan...Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 22/24-25 Pertanyaan Kelima dari Fatwa Nomor:6575    

Ketiga: Ibu yang selingkuh

Saran kami adalah teruslah penanya mendoakan dan mensehati ibunya dengan cara yang bijak kemudian perbaikilah bentuk bakti kepada ibunya. Usahakan juga untuk menasehati anggota keluarga yang lain untuk memberi hak si ibu secara proporsional sesuai tuntunan syariat baik itu dari pihak anak dalam bentuk bakti dan dari pihak suami dalam bentuk pemuliaan kepada yang bersangkutan serta memberinya nafkah. Semoga saja dengan begitu si ibu merasa malu dengan dirinya sendiri dan dia akhirnya merasa sebagai seseorang yang punya kedudukan mulia di tengah keluarganya. 

Apabila itu masih dilakukan namun si ibu tetap selingkuh (berdasarkan bukti dan saksi) maka silahkan disampaikan masalah ini kepada orang yang kira-kira punya kedudukan di mata si ibu sehingga orang itu berkenan menasehati ibu tersebut. Di sisi lain penanya perlu menyelidiki siapa yang menjadi selingkuhan ibunya, bila perlu dibantu oleh keluarganya yang bisa dipercaya menjaga rahasia. Apabila sudah ketemu maka selingkuhan itu diberi peringatan, dan bila ia tidak menggubris maka bisa dilaporkan ke keluarga selingkuhan itu, apabila langkah itu sudah ditempuh namun si selingkuhan tetap melanjutkan perbuatan buruknya maka bisa dilaporkan ke polisi.   

Apabila si ibu belum juga sadar dan melakukan perselingkuhan maka silahkan diinformasikan kepada suami ibu tersebut (ayah dari penanya) supaya diberikan teguran. Apabila dia sadar maka alhamdulillah, apabila tidak sadar maka biar dilepas oleh suaminya dari ikatan pernikahan. Dalam salah satu riwayat disebutkan,"


جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ امْرَأَتِي لَا تَمْنَعُ يَدَ لَامِسٍ قَالَ: «غَرِّبْهَا» قَالَ: أَخَافُ أَنْ تَتْبَعَهَا نَفْسِي، قَالَ: «فَاسْتَمْتِعْ بِهَا


Seorang laki-laki datang menghadap Nabi dan berkata: Istri saya tidak menolak menolak sentuhan tangan lelaki lain. Nabi menjawab: asingkanlah dia (ceraikan.pent). Laki-laki itu berkata: Saya khawatir diri saya masih sayang. Nabi berkata: Kalau begitu, bersenang-senanglah dengannya (pertahankan). Hadits riwayat (HR) Abu Daud no.2049; an-Nasai no.3229 dan yang lainnya

Dalam riwayat Syafi'i disebutkan,"


أَتَى رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله، إِنَّ لِيَ امْرَأَةٌ لَا تُرَدُّ يَدَ لَامِسٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَطَلِّقْهَا» . قَالَ: إِنِّي أُحِبُّهَا، قَالَ: «فَأَمْسِكْهَا إِذًا»


Seorang laki-laki datang menghadap Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan berkata: Istri saya tidak menolak sentuhan tangan lelaki lain. Nabi menjawab: ceraikan dia. Laki-laki itu berkata: Tapi saya mencintainya. Nabi berkata: Kalau begitu, pertahankan.

Syaikh Ali al-Qari menerangkan perihal riwayat tersebut,"
(Istri saya tidak menolak sentuhan tangan lelaki lain) Dia tidak menjaga dirinya dari orang yang ingin berbuat kekejian dengannya
(Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata," talaklah dia" Dia berkata," saya mencintainya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"kalau begitu pertahankan") maksudnya jagalah dia supaya dia tidak berbuat kekejian. Hadits ini menunjukkan bahwa mentalak perempuan semacam ini lebih utama sebab Nabi shallallahu alaihi wa allam mendahulukan opsi mentalak dari mempertahankan. Bila susah untuk mentalaknya misalnya karena mencintainya atau memperoleh anak darinya yang susah terpisah dari ibunya, atau si suami punya hutang kepada istri tersebut dan belum mampu melunasinya, bila demikian boleh baginya untuk tidak mentalaknya namun dengan syarat dia bisa menjaga istrinya dari perbuatan keji, bila dia tidak mampu menjaganya dari perbuatan keji maka dia telah berbuat maksiat dengan tidak mentalaknya. Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih 5/2171

Semoga Allah ta'ala memberikan hidayah kepada keluarga penanya sehingga bisa kembali ke jalan yang lurus dan melaksanakan tugas masing-masing sesuai sesuai kedudukannya sebagai hamba Allah ta'ala dan sesuai posisinya dalam keluarga dan. 

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com