SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

teman tidak mau bayar hutang


Ikhwan (tangerang)
1 month ago on Riba

Assalamualaikum ustad, teman saya punya hutang ke saya 1jt sudah hampir 2 tahun, tapi dia belum juga bayar sedikitpun. Pernah saya tagih katanya belum ada duit. Belum lama ini dia kredit motor mahal, dia bilang selama cicilan motor belum lunas (3th) tidak akan bisa bayar hutang. Harus bagaimana saya?
Redaksi salamdakwah.com
1 month ago

 


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Menghutangi orang lain dalam kebaikan adalah hal yang dianjurkan. Mengingat di dalamnya ada pertolongan terhadap orang yang biasanya membutuhkan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ»


Dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur'an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak meninggikannya di sisi Allah ta'ala. HR.Muslim no.2699 dan yang lainnya.

As-Sarkhasi menerangkan: Dan meminjami hukumnya adalah dianjurkan. Al-Mabsuth 14/36

Ibnu Quddamah menerangkan:
Hutang hukumnya dianjurkan bagi orang yang menghutangi dan dibolehkan bagi orang yang berhutang. Al-Mughni 4/236

Apabila orang yang berhutang sedang dalam kesusahan sehingga belum mampu untuk melunasi hutangnya maka seharusnya ia diberi tempo. Allah ta'ala berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 280:


وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ


Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Apabila orang yang berhutang sengaja menunda pembayaran padahal dia mampu maka ia telah berbuat kedholiman yang nyata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


«مَطْلُ الغَنِيِّ ظُلْمٌ»


Menunda-nunda pembayaran hutang padahal mampu, termasuk kedholiman”.[HR. Bukhori, no. 2400 dan Muslim no.1564]

Oleh karena dia telah berbuat dhalim maka kita harus menolongnya. Apabila Anda mendapati orang yang berhutang kepada Anda melakukan penundaan pembayaran padahal dia mampu maka Anda harus menolongnya dari kedholimannya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


«انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا»


Tolonglah saudaramu dalam keadaan dia dhalim atau didhalimi. HR. Bukhari no.2443 dan yang lainnya.

Cara Anda untuk menolongnya adalah menasehatinya secara langsung atau tidak langsung supaya dia segera melunasi hutangnya. Selanjutnya adalah Anda tidak memberinya hutang lagi bila ia masih belum berubah dari kebiasaan penundaannya supaya kedholimannya tidak bertambah.

Bila dia tidak membeli motor mahal secara angsuran maka kemungkinan besar ia punya kemampuan untuk mencicil ke penanya. Karena dia nekat membeli motor mahal maka dia telah melakukan kesalahan dan tentu saja kesalahan ini tidak bisa ditanggung oleh penanya. Sebenarnya kalau alasan dia membeli motor untuk usaha maka secara umum bisa dikatakan bahwa seharusnya membeli motor yang tidak mahal sehingga tidak sampai menjadikan dia menunda pembayaran ke penanya. Karena kesalahan ini adalah murni kesalahan orang yang berhutang maka penanya berhak tetap menuntut pembayaran hutangnya baik itu mencicil atau cash karena sehausnya hutang ke penanya lebih diprioritaskan karena lebih dulu terjadi. Diantara solusi yang bisa ditempuh adalah orang yang berhutang bekerja lebih giat sehingga tetap bisa mencicil ke penanya dan bisa mencicil untuk motor mahalnya. Apabila dia tidak mampu maka dia menjual motor mahal itu secara cash kemudian hasil penjualan untuk membeli motor yang murah untuk dia bisnis kemudian sisanya untuk membayar hutang ke penanya dan untuk membayar sebagian hutang ke dealer motor mahal selanjutnya dia tinggal mencicil untuk motor mahal. Apabila dia tetap tidak mau memprioritaskan penanya maka penanya bisa mengadukan kepada pihak berwenang dan menyebutkan kedholiman dia ke orang lain tertentu dan ini tidak termasuk ghibah

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda tentang orang yang memiliki kemampuan namun memnunda pembayaran.

    ليّ الواجد يحل عرضه وعقوبته  

Orang mampu yang menunda pembayaran menjadikan kehormatannya dihalalkan dan boleh dihukum. (HR. Abu Daud no. 3628, An Nasa-i no. 4689, Ibnu Majah no. 2427)  

Syaikh Ibnu Baz menerangkan hadits di atas:

 مُماطلته وهو يستطيع الوفاء يحلّ عرضه وعقوبته، الليُّ: المماطلة، يحلّ عرضه، يقول: سأشتكي، يقول: تراه ماطلني، عطَّل حقِّي، ما يصير غيبةً، وللقاضي أو الأمير أن يُعاقبه حتى يسلم الحقَّ، ما دام مليئًا عليه أن يُسلم الحقَّ لمستحقه، ولو بالسجن، أو بالتَّأديب.  

Dia menunda pembayaran padahal dia mampu melunasi menjadi sebab kehormatannya tidak dijaga dan ia boleh dihukum...  Kehormatannya tidak dijaga: bisa dengan cara orang yang memberi hutang mengatakan: saya akan mengadukan. Dia juga bisa mengatakan: kamu lihat dia (orang yang berhutang) menunda pembayaran hutangnya kepadaku, dia menunda pemberian hak ku. Seperti ini tidaklah termasuk ghibah.  Hakim atau pemimpin daerah boeh menghukumnya hingga dia (orang yang berhutang) menyerahkan hak orang lain. Selama dia ada harta maka ia wajib menyerahkan hak kepada orang yang berhak meskipun dengan cara dipenjara atau dengan hukuman tertentu untuk mendidik dia.    

https://binbaz.org.sa/audios/71/12--من-حديث-لي-الواجد-يحل-عرضه-وعقوبته  

Syaikh Ibnu Jibrin menerangkan makna hadits di atas:

 المراد بالواجد الغني القادر على وفاء دينه الذي في ذمته من حقوق الناس وليه هو نقله وتأخيره للوفاء، فهذا الفعل يحل لصاحب الدين الكلام في عرضه والتظلم من فعله، ويحل عقوبته بشكايته عند الوالي الذي يقدر على أخذ الحق منه، ولا يعد ذلك من الغيبة المحرمة  

Maksud al wajid adalah orang yang berkecukupan dan mampu melunasi hutang (hak masyarakat)  yang menjadi kewajibannya.  

Layyuhu artinya menukil dan menunda untuk dilunasi. Perbuatan ini membolehkan orang yang memberikan hutang untuk membicarakan kehormatan orang yang berhutang. Orang yang memberikan hutang juga boleh membicarakan kedholiman perbuatan orang ini. Boleh juga memberikan hukuman kepada dia dengan cara mengadukannya kepada pemimpin yang mampu mengambil hak dari orang yang berhutang itu. Ini tidak termasuk ghibah yang diharamkan.     

http://www.ibn-jebreen.com/fatwa/vmasal-1100-.html    

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com