SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Pernikahan LDR


Akhwat (Jember)
1 month ago on Keluarga

Assalamualaikum, Sy sdh 9th menikah dg suami sy yg berprofesi sbg tentara. Dari awal pernikahan suami memutuskan utk menjalani LDR krn setiap 2/3 tahun beliau pindah dinas dan memiliki ketakutan anaknya akan kesulitan dalam masalah sekolah. Jujur sy tidak kuat menjalani ini, sy menginginkan keluarga yg utuh. Hampir semua teman yg tentara jg istrinya ikut dan anaknya tdk mengalami masalah dlm pendidikan. Sy sdh utarakan ratusan kali, tetapi suami selalu memiliki alasan, dari pendidikan anak sampai hal2 lain yg sy pikir terlalu dibuat2. Untuk informasi, suami sy memang sdh bbrp kali pindah dinas, tapi selalu ditempatkan di kota besar, bukan daerah pelosok atau perbatasan yg berbahaya. Saat ini sy justru di tempatkan suami di kampung halamannya bersama ayahnya dan akses sulit karena jauh dari kota2 besar dan membutuhkan waktu yg byk jika suami ingin menengok kami, sehingga seringnya beliau hanya di rumah kurang dari 24 jam, dan beliau jg jarang mau mengambil cuti. Hal ini kerap menjadi bumbu perselisihan dalam rumah tangga kami. Sy menjadi tidak tenang, dan mudah cemburu pada perempuan2 di sekelilingnya. Sy jg khawatir keberadaan saya semakin tidak dibutuhkan, karena suami semakin merasa mampu hidup sendiri. Mohon kiranya masukan untuk kami. Akan sangat bermanfaat. Terimakasih. Wassalamualaikum.
Redaksi salamdakwah.com
1 month ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Seorang suami dibolehkan meinggalkan istrinya untuk bekerja atau semisalnya dengan tujuan mencapai kemaslahatan yang dibolehkan. Namun waktu emninggalkan istri itu tidak boleh lebih dari enam bulan. Kalau lebih dari itu, maka harus minta izin dari istrinya.

Dasar hukum masalah tersebut adalah satu kisah yang menyebutkan bahwa Umar bertanya kepada putrinya Hafshah radhiallahu’anha, "

: كم تصبر المرأة عن زوجها ؟ فقالت : سبحان الله ! مثلك يسأل مثلي عن هذا ! فقال : لولا أني أريد النظر للمسلمين ما سألتك . قالت : خمسة أشهر . ستة أشهر  

Berapa lama wanita bisa sabar (ditinggalkan) suaminya?"  Beliau mengatakan, "Subhanallah! (orang) seperti anda menanyakan hal itu kepada orang seperti saya?" Umar menjawab, "Kalau bukan karena memperhatikan kaum muslimin, saya tidak akan bertanya kepadamu." Dia (Hafshah) berkata, "Lima bulan, (atau) enam bulan."

Kemudian beliau (Umar  bin Khattab) memberi batas waktu bagi orang yang berperang selama enam bulan. Waktu perjalanan sebulan, menetap empat bulan dan (waktu) perjalanan pulang sebulan.    

Imam Ahmad rahimahullah ditanya,

كم للرجل أن يغيب عن أهله ؟ قال : يروى ستة أشهر

Berapa lama laki-laki dibolehkan meninggalkan istrinya? Beliau menjawab, "Diriwayatkan enam bulan." (Silakan lihat kitab Al-Mughni, 7/232, 416)

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:“

سفر الرجل عن زوجته إذا كانت في محل آمن : لا بأس به ، وإذا سمحت له بالبقاء أكثر من ستة أشهر فلا حرج عليه ، أما إذا طالبت بحقوقها ، وطلبت منه أن يحضر إليها فإنه لا يغيب عنها أكثر من ستة أشهر ، إلا إذا كان هناك عذر كمريض يعالج وما أشبه ذلك ، فإن الضرورة لها أحكام خاصة . وعلى كل حال فالحق في ذلك للزوجة ، ومتى ما سمحت بذلك وكانت في مأمن فإنه لا إثم عليه ، ولو غاب الزوج عنها كثيرا 

Seorang suami yang pergi meninggalkan istrinya, tidaklah mengapa, jika dia berada di tempat yang  aman. Kalau diizinkan, menetap lebih dari enam bulan pun  tidak mengapa. Kalau (isteri) meminta haknya dan meminta untuk datang kepadanya, maka tidak boleh meninggalkan lebih dari enam bulan kecuali ada alasan yang dibenarkan agama seperti berobat karena sakit atau yang semisal itu, karena perkara darurat mempunyai hukum khusus. Yang penting dalam masalah ini adalah bahwa hak milik istri. Jika diizinkan,  dan dia berada di tempat aman maka dia tidak berdosa meskipun suaminya seringkali meninggalkannya.” (Fatawa A-Ulama Fi Isyroti An-Nisaa. Hal. 106)

Disebutkan dalam Fatawa Lajnah Daimah (19/469):

المدة التي يجوز فيها الغياب عن الزوجة أربعة أشهر ، وتسمى : مدة الإيلاء ، وما زاد على ذلك فالغياب عنها فيه حرام إلا برضاها

“Masa yang dibolehkan bagi seorang suami meninggalkan istrinya adalah selama 4 bulan, yang dinamakan dengan “muddah ilaa’”, meninggalkannya lebih dari 4 bulan haram hukumnya, kecuali dengan persetujuannya.

Syeikh Ibnu Utsaimin berkata:

ومن المعاشرة بالمعروف : أن لا يغيب الإنسان عن زوجته مدة طويلة ؛ لأن من حقها أن تتمتع بمعاشرة زوجها كما يتمتع هو بمعاشرتها ، ولكن إذا رضيت بغيبته ولو مدة طويلة فإن الحق لها ، ولا يلحق الزوج منها حرج ، لكن بشرط أن يكون قد تركها في مكان آمن لا يخاف عليها

“Termasuk etika menggauli seorang istri dengan baik adalah tidak meninggalkannya dalam jangka waktu yang lama; karena menjadi hak seorang istri untuk menikmati pergaulan suaminya, sebagaimana seorang suami juga menikmati pergaulan istrinya, akan tetapi jika istrinya rela untuk ditinggalkan meskipun dalam jangka waktu yang lama, maka itu menjadi haknya, suami pun tidak berdosa karenanya, dengan syarat seorang suami meninggalkannya di tempat yang aman yang tidak perlu dihawatirkan lagi”. (Fatawa Nur ‘alad Darb: 10/307)

Cobalah dicari tahu dan introspeksi diri apakah mungkin sebab suami seperti itu murni demikian atau ada faktor istri yang menjadikan dia berbuat demikian, misalnya istri punya sifat temperamental. Apabila ada masalah di istri maka istri bisa melakukan perubahan diri dan melakukan hal lain untuk merubah persepsi suaminya. Apabila setelah introspeksi diri dengan sunguh-sungguh ternyata tidak ada masalah di istri maka istri perlu menasehati suaminya dengan cara memberikan masukan terkait hak istri yang wajib ditunaikan oleh suaminya sebagaimana yang disebutkan di atas. 

Istri perlu menggunakan seluruh kemampuannya untuk menasehati suaminya, mengingatkannya dengan cara terbaik, tidak perlu dengan ucapan keras, tidak juga dengan bermuka masam, akan tetapi dengan lemah lembut dalam berucap dan bergaul. Bila istrui masukannya tidak didengar ia bisa menginformasikan masalah ini kepada salah satu kerabat dekat suami untuk ikut menasehatinya, mengingatkan dan mengarahkannya kepada kebenaran. Ini semua perlu disertai dengan kesungguhan seorang istri dalam berdoa kepada Allah ta'ala di saat dan momen yang mustajab agar Allah berkenan memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada si suami.

Suami juga mungkin perlu diberi cerita tentang sikap Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Katsir rahimahullahu ta'ala menerangkan:

وقوله : ( وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ) أي : طيِّبُوا أقوالكم لهن ، وحَسّنُوا أفعالكم ، وهيئاتكم ، بحسب قدرتكم ، كما تحب ذلك منها ، فافعل أنت بها مثله ، كما قال تعالى : ( وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ) البقرة/228 ، وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأهْلِهِ ، وأنا خَيْرُكُم لأهْلي ) - رواه الترمذي ( 3892 ) وصححه - ، وكان من أخلاقه صلى الله عليه وسلم أنه جَمِيل العِشْرَة ، دائم البِشْرِ ، يُداعِبُ أهلَه ، ويَتَلَطَّفُ بهم ، ويُوسِّعُهُم نَفَقَته ، ويُضاحِك نساءَه ، حتى إنه كان يسابق عائشة أم المؤمنين ؛ يَتَوَدَّدُ إليها بذلك ، قالت : سَابَقَنِي رسولُ الله صلى الله عليه وسلم فَسَبَقْتُهُ ، وذلك قبل أن أحملَ اللحم ، ثم سابقته بعد ما حملتُ اللحمَ فسبقني ، فقال : ( هذِهِ بتلْك ) – رواه أبو داود ( 2578 ) وصححه الألباني في " صحيح أبي داود " - ، ويجتمع نساؤه كل ليلة في بيت التي يبيت عندها رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فيأكل معهن العشاء في بعض الأحيان ، ثم تنصرف كل واحدة إلى منزلها ، وكان ينام مع المرأة من نسائه في شعار واحد ، يضع عن كَتِفَيْه الرِّداء وينام بالإزار ، وكان إذا صلى العشاء يدخل منزله يَسْمُر مع أهله قليلا قبل أن ينام ، يُؤانسهم بذلك صلى الله عليه وسلم ، وقد قال الله تعالى : ( لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ) الأحزاب/21

“Maksud dari firman Allah: ( وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ) adalah berkatalah kalian dengan baik kepada mereka, perbaikilah perbuatan dan tingkah laku kalian kepada mereka sesuai dengan kemampuan kalian. Sebagaimana anda menyukai yang demikian itu dilakukan olehnya, maka lakukanlah oleh anda hal yang serupa. Sebagaimana firmah Allah –ta’ala-:

 وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf”. (QS. Al Baqarah: 228)

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأهْلِهِ ، وأنا خَيْرُكُم لأهْلي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku”. (HR. Tirmidzi: 3892 dan beliau menshahihkannya)

Di antara akhlak beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah indahnya pergaulan beliau (kepada keluarganya), selalu tampak bahagia, bermain dengan keluarganya, berlaku lembut kepada mereka, memperluas nafkah mereka, bercanda dengan para istrinya, sampai-sampai beliau berlomba dengan ‘Aisyah Ummul Mukminin, menjadikan ‘Aisyah menyukainya, ‘Aisyah berkata:

سَابَقَنِي رسولُ الله صلى الله عليه وسلم فَسَبَقْتُهُ ، وذلك قبل أن أحملَ اللحم ، ثم سابقته بعد ما حملتُ اللحمَ فسبقني ، فقال :   هذِهِ بتلْك 

“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah berlomba lari denganku, dan aku telah mendahului beliau, hal itu sebelum berat badanku bertambah. Lalu aku berlomba lari lagi dengan beliau setelah berat badanku bertambah, lalu beliau yang menang dan mendahuluiku, seraya beliau bersabda: “Kemenangan ini dengan yang itu (satu sama)”. (HR. Abu Daud: 2578)

Dan dishahihkan oleh Abu Daud dalam Shahih Abu Daud, pada setiap malamnya para istrinya berkumpul di rumah salah seorang istri beliau dimana pada malam itu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menginap, maka beliau terkadang manyantap makan malam bersama mereka, setelah itu masing-masing dari mereka kembali ke rumah masing-masing. Beliau juga tidur satu ranjang bersama salah seorang istrinya, meletakkan selendang di atas kedua pundaknya dan tidur dengan menggunakan kain (sarung), setelah shalat isya’ beliau masuk rumah dan bercengkrama dengan keluarganya sebentar sebelum beranjak ke tempat tidur, menjadikan mereka bahagia dengannya –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan Allah telah berfirman tentang beliau:

 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. (QS. Al Ahzab: 21)

(Tafsir Ibnu Katsir: 2/242)

 

Syaikh Utsaimin pernah ditanya tentang suami yang melakukan dosa besar. Beliau menjawab:

أرى أنها إذا نصحته ولم يستفد : فلها الحق في طلب الفسخ ، ويفسخ النكاح ، لكن على كل حال مثل هذه الأمور قد يكون هناك أشياء ما تتمكن معها من الفسخ ؛ لأنها معها أولاد ، يحصل مشاكل في الفسخ ، فإذا لم تصل معصيته إلى حد الكفر : فلا حرج عليها أن تبقى معه ؛ خوفاً من المفسدة ، أما إذا وصلت إلى حد الكفر مثل كونه لا يصلي : فهذا لا تبقى معه طرفة عين

“Pendapat saya, jika istrinya sudah menasehatinya dan tidak memberikan manfaat, maka menjadi hak seorang istri untuk mengakhiri ikatan pernikahannya, akan tetapi secara umum dalam kondisi seperti itu ada banyak hal yang bisa jadi seorang wanita tidak sanggup menjalani hidup pasca terjadinya perceraian; karena ia membawa anak-anak, ada banyak permasalahan setelah mengakhiri pernikahan, maka jika kemaksiatan suaminya tidak sampai pada tingkat kekufuran, maka tidak masalah baginya untuk tetap bersama suaminya, karena khawatir dengan kerusakan. Adapun jika kemaksiatan suaminya sudah sampai pada tingkat kufur, seperti; suamianya sudah tidak shalat lagi, maka sebaiknya seorang istri tidak menetap bersamanya lagi”. (Liqa’at Al Bab Al Maftuh: 13/ Soal nomor: 18). Dinukil dari berbagai sumber dengan beberapa penyesuaian

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com