SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Kakek Tidak Memberikan Restu Karena Beda Ormas


Akhwat (Kalimantan Selatan)
1 month ago on Keluarga

Assalamualaikum ustadz... Saat meminta restu untuk menikah ketika sdh ada lelaki yang datang meminang, pihak siapa saja yang perlu dimintai restu?bukankah sudah cukup ayah dan ibu wanita saja? Orangtua sudah merestui tadz, tapi sayang sekali kakek tidak memberi restu karna beda ormas (calon Muhammadiyah keluarga kami NU) meski kami berdua sama sama meniti jalan sunnah. Beliau bilang silahkan lanjutkan tapi jangan undang aku dan aku tdk akan datang. Mohon jawabannya tadz, جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا
Redaksi salamdakwah.com
1 month ago

 

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apabila ayah si wanita sudah setuju maka tidak masalah melanjutkan pernikahan meski kakek wanita tersebut tidak setuju. Karena ayah wanita itulah yang menjadi wali bila keadaan seperti yang penanya sampaikan. Berikut ini keterangan syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkenaan dengan urutan wali:
Urutan perwalian nikah yang diwajibkan  adalah keluarga dekat secara berurutan, inilah yang pendapat yang paling kuat dari pendapat-pendapat ulama' yang ada. Keluarga dekat secara berurutan menjadi wali. Dan yang paling dekat adalah ayah kemudian kakek, anak laki-laki, saudara-saudara kandung, saudara-saudara se ayah, paman kandung sebagaimana urutannya dalam pembagian warisan, inilah pendapat yang kuat ....http://www.binbaz.org.sa/mat/19388

Sambil terus jalan untuk memproses pernikahan tetaplah usahakan untuk mendekati kakeknya supaya beliau melunak. Apabila berhasil maka alhamdulillah. Apabila tetap kokoh memegang pendapatnya maka tidak masalah. Teruslah menjalin silaturrahim dengannya. Teruslah menghormatinya dan berbuat baiklah kepada beliau meski sikapnya kurang mengenakkan. Ada beberapa riwayat yang menyebutkan keutamaan menyambung silaturrahim ke keluarga yang enggan menyambung silaturrahim:
1. Abu Hurairah radhiyallahu anhu menceritakan kisah yang mirip dengan kisah yang Anda ceritakan:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ، فَقَالَ: «لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ، فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ


Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Seorang laki-laki berkata:“Wahai Rasulullah aku mempunyai kerabat, aku menyambung tali silaturrahim ke mereka namun mereka memutuskan tali silaturrahim kepadaku, aku berbuat baik kepada mereka namun mereka berbuat jahat kepadaku, aku lemah lembut kepada mereka namun mereka berbuat kasar kepadaku. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Jika keadaanmu seperti yg engkau katakan, seakan-akan engkau menutupi mereka dengan rasa jenuh dan senantiasa akan ada bersamamu penolong dari Allah selama engkau demikian.” HR. Muslim. no. 2558 dan yang lainnya.

2. Menyambung silaturrahim yang sesungguhnya adalah menyambung silaturrahim kepada keluarga yang memutus silaturrahim kepada kita. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


لَيْسَ الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا


"Orang yang menyambung silaturrahim bukanlah orang yang menyepadani (dalam silaturrahim) akan tetapi orang yang menyambung silaturrahim adalah orang yang menyambungnya kembali ketika tali silaturrahmi itu sempat terputus. HR. Bukhari no. 5991:

Janganlah Anda menjadi orang yang memutus tali silaturrahim sebab Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memperingatkan:


لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ


Tidaklah masuk Surga orang yang memutus tali silaturrahim. HR. Bukhari no.5984 dan Muslim no.2556


والله تعالى أعلم بالحق والصواب

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com