SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Aura Tasbih


Ikhwan (Jakarta)
6 months ago on Aqidah

Assalamualaikum wr wb Saya akbar azhari Asal jakarta Ustadz bagaimana hukumnya memakai tasbih tiap hari dan di pakai berpergian dan saya merasakan aura di tasbih itu lain? saya merasakan aura jahat dari tasbih itu tasbih itu punya teman saya dan yang saya lihat setelah memakai tasbih itu di lehernya kemanapun dia pergi wanita selalu mengikutinya apakah dia membuka aura di wajahnya atau ada hal lain ustadz
Redaksi salamdakwah.com
6 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Wallahu ta'ala a'lam. Keberadaan aura tertentu pada tasbih termasuk sesuatu yang ghoib. Berdasarkan ilmu kami yang terbatas kami belum mengetahui ada alat yang bisa mengukur aura dengan ukuran yang disepakati ilmuwan saat ini. Kemudian belum juga ada penelitian yang disepakati tentang fungsi auraitu sendiri dalam kehidupan nyata.

Oleh karena itu masalah ghoib seperti ini perlu keterangan nash yang mendasarinya bila kita ingin membuat kaidah yang bisa dipakai oleh semua orang. Khawatirnya itu hanya sugesti pribadi. Apabila dikatakan bahwa ada jin yang mendiaminya sehingga bisa menimbulkan efek tertentu maka ini juga perlu diberi aturan bagaimanakah batasan dalam bermuamalah dengan jin yang berdiam di tasbih tersebut sehingga tidak terjadi pelanggaran syariat.

Kalau dikatakan bahwa tasbih itu punya manfaat dan keberkahan tidak terlihat  karena dipakai untuk berdzikir dan beribadah maka bagaimana menentukannya bila tidak ada nash yang mendasarinya, apakah ini juga berlaku untuk alat ibadah lainnya seperti sajadah, kopyah dan lain-lain.

Oleh karena itu nasehat kami adalah tinggalkanlah tasbih untuk penggunaan seperti mengambil manfaat dengan hanya didasari sesuatu yang tidak jelas karena dikhawatirkan itu akan menjadikan kita bersandar pada sesuatu yang memang tidak layak disandari. Menjadikan tasbih itu sebagai jimat. Sedangkan penggunaan jimat dari sesuatu yang bukan al-Qur'an adalah sesuatu yang terlarang.

Tamaa-im (jimat) adalah jamak dari tamimah. Yaitu yang biasa dikalungkan di leher anak kecil atau orang besar, atau digantungkan di rumah-rumah dan dimobil, terbuat dari permata atau tulang untuk menolak bala khususnya dari serangan hipnotis, atau untuk mendapatkan manfaat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak mau memnbaiat orang yang memakai jimat dan menyebut bahwa itu termasuk kesyirikan. Dalam suatu hadits disebutkan:

عن عقبة بن عامر الجهني أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أقبل إليه رهط فبايع تسعة وأمسك عن واحد فقالوا : يا رسول الله بايعتَ تسعة وتركت هذا ، قال : إن عليه تميمة ، فأدخل يده فقطعها فبايعه وقال : من علق تميمة فقد أشرك 

Dari Uqbah bin Amir diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditemui oleh sekelompok orang, lalu beliau membaiat sembilan di antara mereka dan tidak membaiat satu yang tersisa. Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah! Engkau membaiat yang sembilan orang, tetapi tidak membaiat yang satu ini?" Beliau menjawab: "Karena ia mengalungkan jimat." Orang itupun memasukkan tangannya ke balik bajunya dan mencopot kalung jimatnya. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaiatnya. Beliau bersabda: "Barangsiapa yang mengalungkan jimat, dia telah berbuat syirik.." (HR. Ahmad -16969--)  

Kalau kita bersandar kepada sejenis jimat maka dikhawatirkan kita disandarkan nasibnya pada jimat tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

" مَن تعلق شيئاً وكل إليه "

"Barangsiapa yang mengalungkan jimat, maka ia akan disandarkan kepada jimat tersebut.."

Syaikh Hafidz Al-Hakami menerangkan

…Bahwa tamengnya itu dapat memelihara dirinya dari sekian jenis penyakit. Apakah kita menganggap perbuatan tersebut dengan keyakinan itu termasuk perbuatan syirik kecil? Tidak, justeru itu termasuk penyembahan selain Allah, bertawakkal kepada selain Allah dan bersandar kepadanya, bahkan cenderung kepada perbuatan makhluk dan mencabut pelakunya dari agamanya. Syetan hanya mampu membuat kiat yang semacam itu dengan pertolongan saudaranya dari kalangan syetan manusia. Allah ta’ala berfirman:

قل من يكلؤكم بالليل والنهار من الرحمن بل هم عن ذكر ربهم معرضون

"Katakanlah:"Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah" Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Rabb mereka" (Q.S Al-Anbiyaa : 42)

Apabila jimat itu berasal dari selain Al-qur'an dan hadits, bahkan berasal dari mantera-mantera Yahudi dan para penyembah kuil, bintang-bintang dan para malaikat, atau berasal dari para pelayan jin dan sejenisnya, atau berasal dari permata, tali senar atau kalung besi dan sejenisnya, maka semua itu adalah syirik. Yakni bahwa mengalungkannya sebagai jimat adalah syirik, tidak diragukan lagi. Karena bukan termasuk cara yang dibolehkan, dan bukan termasuk pengobatan yang lazim. Justeru dengan cara itu mereka meyakini secara lepas bahwa semua itu dapat menolak bahaya ini dan itu, yakni bahaya berbagai rasa sakit, karena khasiatnya. Mereka berkeyakinan dalam hal itu sebagaimana yang diyakini oleh para penyembah berhala terhadap berhala mereka. Mirip atau bahkan serupa dengan berhala-berhala terbuat dari cawan-cawan di masa jahiliyyah yang dijadikan alat mengundi, kalau mereka menginginkan sesuatu. Yakni cawan-cawan yang diberi tulisan, salah satunya berisi tulisan: "Lakukan," yang kedua: "Jangan lakukan," sedang yang ketiga: "Biarkan." Kalau yang keluar adalah yang bertulisan "lakukanlah," maka segera dilakukan. Bila yang keluar adalah yang bertulisan "jangan lakukan," mereka tidak jadi mengerjakannya. Dan bila yang keluar adalah yang bertulisan "biarkan," mereka mengocoknya kembali. Allah telah menggantikan cara itu untuk kita dengan cara yang lebih baik, Al-Hamdulillah, yakni shalat istikharah berikut doanya.

Sasaran pembahasan di sini, bahwa semua jenis jimat yang tidak berasal dari Al-Qur'an dan Hadits adalah syirik, seperti undian dengan cawan tadi, dilihat dari keyakinan batil dan pelanggaran terhadap syariat Allah, serta jauhnya perbuatan itu dari sifat-sifat Islam sesungguhnya, yakni dari ciri khas Islam. Karena Ahli Tauhid sejati amatlah jauh dari sikap semacam itu. Iman dalam hati mereka terlalu besar untuk bisa dimasuki keyakinan semacam itu. Mereka terlalu mulia dan terlalu bagus keyakinannnya untuk harus bertawakkal kepada selain Allah, atau bertakwa kepada selain-Nya. Wa billahit Taufik." (Ma'arijul Qabul II : 510-512)

Al-Lajnah Ad-Daa-imah menyatakan:

"Para ulama bersepakat tentang haramnya menggunakan jimat dari selain Al-Qur'an. Namun mereka masih berbeda pendapat bila berasal dari Al-Qur'an. Di antara mereka ada yang membolehkannya dan ada juga yang melarangnya. Namun pendapat yang melarang itu lebih kuat, berdasarkan keumuman hadits-hadits yang ada, dan demi mencegah terjadinya keharaman."

(Syaikh Ibnu Baaz -Rahimahullah-- , Syaikh Abdullah Ibnu Ghadiyan dan Syaikh Abdullah bin Qu'uud. Fatwa Al-Lajnah Ad-Daa-imah I : 212)

Syaikh Al-Albani -Rahimahullah-berkata:

"Kesesatan ini masih saja meraja-lela di kalangan orang-orang badui, para petani bahkan juga orang-orang kota. Di antaranya adalah sejenis kalung yang digantungkan oleh para supir di depan mereka di kaca mobil. Sebagian mereka ada yang menggantungkan sendal butut di depan atau di belakang mobil. Ada lagi yang bahkan menggantungkan sepatu kuda di muka rumah atau tokonya. Menurut keyakinan mereka, semua itu untuk menolak sihir. Dan banyak lagi berbagai hal lain yang meraja lela di mana-mana karena tidaktahuan orang terhadap tauhid dan yang menjadi lawan tauhid, yakni berbagai perbuatan syirik dan berhalaisme (paganisme). Seluruh rasul diutus dan seluruh kitab diturunkan semata-mata hanya untuk menyanggah dan memberantas semua itu. Hanya kepada Allah-lah kita mengadukan ketidaktahuan kaum muslimin sekarang dan jauhnya mereka dari agama-Nya." (Silsilatul ahadits Ash-Shahihah 492, I : 890) https://islamqa.info/amp/ar/answers/10543

Wallahu A'lam.

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com