SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tindakan apa yg harus dilakukan oleh seorang pencuri?


Akhwat (Batam)
8 months ago on Aqidah

Assalamualaikum maaf mau bertanya apa yg harus dilakukan oleh seorang pencuri ketika dia sadar dengan apa yg diperbuat salah, namun dia sudah menyesalinya dan ingin bertaubat, tentu saja diterima taubat itu urusannya langsung dengan Allah SWT, lalu apa yg harus dia lakukan dgn barang" hasil curiannya?? Tentunya barang/ benda yg dicuri tidak mungkin dikembalikan jika itu diambil dari mall atau toko".. apakah harus dibuang? Disedekahkan?? Atau dijual?? Sementara kalau barang curian itu masih berada pada org tsb tentu yg kita tahu dosanya akan selalu mengalir terus menerus semisal pakaian yg dikenakan atau semacamnya?? Mohon pencerahannya, terimakasih banyak. Wassalamualaikum wr.wb
Redaksi salamdakwah.com
8 months ago

 


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Bismillah washshalatu wassalamu 'ala Rasulillah.
Seseorang yang berdosa harus segera bertaubat, baik dosa itu dia lakukan dengan cara mendholimi dirinya sendiri dengan cara meninggalkan kewajiban yang Allah bebankan atau melakukan apa yang Allah larang (tanpa disertai kedholiman kepada yang lain) ataukah dosa itu dia lakukan dengan melakukan kedholiman kepada yang lain.

Apabila seseorang tahu dirinya berdosa namun ia enggan untuk bertaubat maka ia terancam adzab Allah ta'ala. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin bertaubat kepada Allah ta'ala dari dosa-dosanya. Berikut ini syarat-syarat taubat yang disebutkan oleh Ulama':
1. Ikhlas karena Allah ta’ala : maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya

2. Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya.

3. Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya

4. Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut

5. Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380

Apabila dosa itu berbentuk kedholiman kepada yang lain maka ada syarat lain yang harus dipenuhi yaitu meminta keridhoan dan kehalalan dari orang yang didholimi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ 


“Siapa yang berbuat kedzaliman kepada saudaranya baik dari sisi kehormatan atau sesuatu hal, maka mohonlah dihalalkan darinya sekarang (pada hari ini) sebelum tidak berguna lagi dinar dan dirham. Kalau dia mempunyai amal shaleh, maka akan diambil darinya sesuai dengan kadar kedzalimannya. Kalau tidak mempunyai kebaikan, maka keburukan orang tersebut akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2449)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الظُّلْمُ ثَلَاثَةٌ: فَظُلْمٌ لَا يَتْرُكُهُ اللهُ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ، وَظُلْمٌ لَا يُغْفَرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُغْفَرُ فَالشِّرْكُ لَا يَغْفِرُهُ اللهُ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ فَظُلْمُ الْعَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُتْرَكُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ فَيَقْتَصُّ اللهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ "


“Kedzaliman itu ada tiga; kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan, kedzaliman yang akan dia ampuni, dan kezhaliman yang tidak akan dia ampuni. Adapun kedzaliman yang tidak Allah ampuni adalah syirik, itu tidak akan Allah ampuni. Adapun kedzaliman yang akan diampuni adalah kedhaliman hamba (terhadap dirinya sendiri) dalam perkara yang ada antara dirinya dan Rabb-nya. Adapun kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah kezhaliman sesama hamba hingga Alah akan mengqishah yang satu dengan yang lain.” Hilyatul auliya' wa Tabaqat al-Ashfiya' 6/309 . Hadits ini hasan menurut syaikh al-Albani, lih. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 4/560

Apabila diperhatikan dengan seksama hadits di atas kita akan dapati bahwa kedholiman bisa menyengsarakan pelakunya di akhirat kelak, menyengsarakannya di kehidupan abadi mengingat kedholimannya dibayar dengan pahala yang ia perbuat di dunia atau ia akan menanggung dosa dari orang yang ia dholimi. Sungguh ini merupakan kesengsaraan dan kerugian yang nyata.

Dalam kasus pencurian, terjadi kedholiman terhadap pemilik barang dengan cara menghalangi pemilik barang untuk menggunakan barang miliknya yang sah. Cara bertaubat dari dosa ini adalah segera mengembalikan barang tersebut ke pemiliknya, bahkan seandainya pemilik barang tersebut adalah non muslim, barang tersebut juga harus dikembalikan selama ia bukanlah kafir yang diperangi.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:
Ayah saya bekerja di sebuah perusahaan kira-kira sejak tiga puluh tahun lalu, dan sekarang beliau sudah pensiun. Di perusahaan tersebut, ayah saya bekerja di bagian pertukangan dan pernah mengambil sebagian perkakas milik perusahaan tanpa sepengetahuan mereka serta menyimpannya di rumah. Barang-barang seperti palu, gergaji, bermacam jenis paku, dan banyak lagi yang lainnya, masih tersimpan di rumah kami sampai sekarang. Ayah saya menganggap bahwa tindakannya mengambil semua barang itu adalah halal karena mayoritas pekerja yang terkait dengan tempat itu beragama Yahudi yang terikat kontrak dengan perusahaan. Ayah saya yakin sekali bahwa hal itu tidak masalah. Syekh yang terhormat, mohon beri kami penjelasan segera tentang pertanyaan ini agar saya bisa merespon dan meyakinkannya dengan pendapat Anda.

Mereka menjawab:
Ayah Anda wajib mengembalikan semua alat pertukangan itu ke perusahaan, kecuali jika dia sudah mendapat izin. Pengembalian itu wajib dilakukan sekalipun mereka orang-orang kafir. Sebab, mereka telah meminta perlindungan di negara Islam, sehingga harta mereka pun menjadi terlindungi dengan kontrak keamanan tersebut. Harta mereka tidak boleh diambil dengan cara yang tidak benar.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/36- 37 pertanyaan pertama dari fatwa no. 17681 .

Apabila tidak dimungkinkan mengembalikan barang tersebut ke pemilik, misalnya karena pemilik telah meninggal dunia maka dikirim ke ahli warisnya. Bila khawatir masalah besar saat pengembalian maka mantan pencuri itu bisa menggunakan jasa kurir atau yang lainnya. Berikut petikan fatwa syaikh Utsaimin yang kami terjemahkan:

Harta yang diperoleh oleh seseorang apabila terambil dari pemiliknya dengan paksaan, seperi: Dicuri, Dirampas, Dirampok atau yang semacamnya dan ia (pelaku.pen) tahu siapa pemilik barang tersebut maka ia wajib mengembalikan ke pemiliknya dalam keadaan apapun atau apapun hasilnya karena ini adalah hak khusus muslim yang diketahui barang dan pemiliknya...
Apabila pemiliknya tidak diketahui, karena (misalnya.pen) ia mengambil harta khalayak dan ia tidak mengetahui dengan pasti siapa mereka maka ketika itu ia mensedekahkan harta tersebut atas nama pemilik sebenarnya (dalam rangka berlepas diri dari harta yang tidak halal tersebut). Pemilik sebenarnya diketahui oleh Allah ta'ala, harta tersebut halal bagi yang disedekahi...
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=109617

Bila barang yang dicuri sudah hilang maka mantan pencuri itu bisa menggantikannya dalam bentuk uang dengan nilai yang sesuai dengan masa pengembalian 

Dalam salah satu riwayat shahih disebutkan

 وَكَانَ المُغِيرَةُ صَحِبَ قَوْمًا فِي الجَاهِلِيَّةِ فَقَتَلَهُمْ، وَأَخَذَ أَمْوَالَهُمْ، ثُمَّ جَاءَ فَأَسْلَمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَّا الإِسْلاَمَ فَأَقْبَلُ، وَأَمَّا المَالَ فَلَسْتُ مِنْهُ فِي شَيْءٍ»

 “Dahulu Al Mughirah di masa jahiliyah pernah menemani suatu kaum, lalu dia membunuh dan mengambil harta mereka. Kemudian dia datang dan masuk Islam. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda saat itu: "Adapun keIslaman maka aku terima. Sedangkan mengenai harta, aku tidak ada sangkut pautnya sedikitpun" (HR Bukhari No : 2731 dan yang lainnya)

Apabila ada kesulitan dalam proses pengembalian barang itu maka pencuri itu harus rela menerimanya selama masih memungkinkan proses itu ditempuh mengingat ini adalah resiko dari perbuatan dosa yang dilakukan sebelumnya.

Apabila tidak diketahui pemilik dan ahli warisnya  maka dia perlu bersegera mensedekahkan barang tersebut atas nama pemilik barang yang sah dan perbanyaklah berbuat kebaikan, semoga kebaikan-kebaikan itu bisa menghapus dosa yang telah diperbuat sebelumnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ
بِخُلُقٍ حَسَنٍ.


“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapus kejelekan tersebut dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” HR. Tirmidzi no.1987. Dihasankan oleh Al-Albani

Bila tidak mampu mengembalikan maka ia perlu meminta kehalalaln barang tersebut Syaikh Ibnu Baz menerangkan: Terkait orang yang ia kenal (yang ia ambil haknya dengan cara yang batil.pent), ia wajib mengembalikan hak mereka sesuai dengan usaha dia (usaha memperkirakan.pent) dan sesuai perkiraannya yang kuat. Atau ia meminta maaf dan meminta kerelaan hati ke mereka atas apa yang telah lalu dan apa yang telah terjadi. Adapun orang yang tidak dikenal dan tidak diketahui statusnya apakah ia meninggal atau masih hidup dan ahli warisnya pun tidak diketahui keadaannya maka ketika itu orang tersebut seharusnya mensedekahkan harta yang ia ambil dengan mengatasnamakan pemilik harta tersebut. Ini harus disertai taubat dari orang yang mengambil barang secara dholim dan kesungguhan dalam taubat ini. Dengan begini ia akan terlepas dari tanggungan insya Allah. http://www.binbaz.org.sa/mat/9338

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com