SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Penyakit halusinasi


Ikhwan (bekasi)
7 months ago on Aqidah

Assalamualaikum Ustadz apakah berdosa apa bila ada seseorang kena penyakit halusinasi yang jorok?
Redaksi salamdakwah.com
7 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Dalam salah satu situs konsultasi dokter secara online disebutkan pengertian dari halusinasi 

Halusinasi adalah gangguan persepsi yang membuat seseorang mendengar, merasa, mencium aroma, dan melihat sesuatu yang kenyataannya tidak ada. Pada keadaan tertentu, halusinasi dapat mengakibatkan ancaman pada diri sendiri dan orang lain.

Halusinasi adalah sensasi yang diciptakan oleh pikiran seseorang tanpa adanya sumber yang nyata. Gangguan ini dapat memengaruhi kelima panca indera. Seseorang disebut berhalusinasi ketika dia melihat, mendengar, merasa, atau mencium suatu aroma yang sebenarnya tidak ada. Hal-hal ini hanya ada di dalam pikiran mereka. Penderita gangguan halusinasi seringkali memiliki keyakinan kuat bahwa apa yang mereka alami adalah persepsi yang nyata sehingga tak jarang menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memiliki halusinasi juga mungkin bisa memiliki perilaku menyimpang.  https://www.alodokter.com/muncul-suara-dan-sosok-misterius-akibat-halusinasi

Bila ini yang dimaksud oleh penanya maka ini jenisnya banyak dan secara umum diantara pengobatannya adalah berdoa kepada Allah ta'ala mmeinta kesembuhan , melakukan ruqyah mandiri setiap malam, membiasakan dzikir dan petang, tidak menyendiri dan berusaha melawan halusinasi tersebut. Bila perlu juga bisa mendatangi psikiater untuk membantu menangani hausinasi tertentu.

Apabila yang dimaksud oleh penanya adalah semacam lintasan pikiran pikiran yang sifatnya ringan dan was-was maka was-was termasuk bentuk penyakit yang timbul dari penguasaan syetan terhadap manusia kemudian ia mengajak kepada kejelekan. Oleh karena itu obatnya dengan menguatkan keimanan, melemahkan sumber-sumber syetan, memperbanyak ketaatan, kembali (kepada Allah), zikir, tasbih, istigfar, menunaikan shalat, kembali kepada Allah dengan merendahkan diri kepada-Nya, agar dapat menyingkap keburukan dan menghilangkan kejelekan. Allah Subahanahu wa ta'ala sebaik-baik dzat yang Mengabulkan, dan Dia lebih sayang kepada hamba-Nya dibandingkan sayangnya seorang hamba kepada dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

 أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” QS. AN-Naml: 62

Allah juga berfirman:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya.” QS. Al-Anbiya’: 83, 84

Kebanyakan orang yang ditimpa penyakit was was biasanya dia lalai dari zikir yang dianjurkan pagi dan petang hari, ketika tidur, keluar masuk (rumah), serta makan dan minum. Hal ini menambah penguasaan syetan atasnya. Dan melemahkan pemikirannya sehingga ia diarahkan ke pada pemikiran buruk dan lamunan jelek yang akhirnya ini semakin menambah kegelisahan dan kesedihan.

Diantara sarana yang paling bermanfaat untuk mengobati was was adalah berpaling darinya dan berusaha sekuat mungkin agar tidak menengok kepadanya. Agar bisa hilang semuanya. Ibnu Hajar Al-Makki rahimahullah ditanya, “Tentang penyakit was was, apakah ada obatnya?

Maka beliau menjawab, “Ia ada obat yang bermanfaat, yaitu berpaling darinya secara keseluruhan. Meskipun  dalam jiwa masih ada keraguan, maka kapan saja tidak melihat hal itu, maka akan hilang. Bahkan akan segera hilang dalam waktu singkat sebagimana yang telah dipraktekkan oleh orang yang mendapatkan taufik. Sementara kalau masih mendengarkan dan melakukannya, maka akan senantiasa ragu-ragu sampai mengeluarkan pada kondisi kegilaan. Bahkan lebih jelek dari itu. Sebagaimana yang telah kami saksikan pada kebanyakan yang terkena (was was) ini yang masih mendengarkannya dan (mendengarkan) syetannya. Selesai dari ‘Fatawa Fikhiyah Kubro, (1/149).

Perlu diketahui orang yang terkena was was, bahwa apa yang terlintas dalam benaknya pikiran sejelek apapun tidak ada dosa atasnya selagi dia tidak suka dan ingin menghilangkannya. Hal itu disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, 132 dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata:

جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ قَالَ وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ قَالُوا نَعَمْ قَالَ ذَاكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ

Para shahabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam datang bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya kami dapatkan pada diri kami sangat berat kalau salah satu diantara kami mengungkapkannya. Beliau bertanya,”Apakah anda dapatkan hal itu? Mereka menjawab, “Ya, beliau mengatakan, “Itu adalah keimanan yang jelas.

Maksudnya dia tidak menyukai dan lari darinya. Hal itu menunjukkan adanya keimanan dalam hati.

 

Dimana kami juga mengingatkan dimana seharusnya dia menjauhi apa yang menjadi penyebab adanya was was dan hayalan buruk seperti anda hendak menonton film atau gambar-gambar porno yang ada pada drinya. Dan anda akan melakukannya meskipun beberapa waktu setelahnya. Dinukil dari https://islamqa.info/id/answers/88106/was-was-terkait-dengan-sex-datang-waktu-shalat

Kalau penanya didatangi was-was porno kemuidan dia biarkan dan bahkan ia bayangkan kemudian dia berazam kuat untuk melakukan perzinaan misalnya maka ini bisa jadi sumber dosa.

Wallahu ta'ala a'lam 

 

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com