SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bila Ayah Melakukan Kekejian


Ikhwan (Rembang)
11 months ago on Keluarga

ayah saya dulunya sebelum kecukupan seperti ini atau ketika kehidupan kami masih sederhana beliau sering mengerjakan ibadah dll namun sekarang beliau hanya mengerjakan sholat lima waktu dan jarang jarang ngaji setelah selesai mondok smp saya kembali ke rumah untuk sekolah di sma negeri lama kelamaan firasat atau insting saya insting mengetakan ada yang salah dengan ayah saya terlihat dari aura nya dan emosinya yang sangat sulit dikendalikan bahkan beliau lebih sensitif dan baperan daripada seorang perempuan, lalu saya iseng iseng membuka HPnya dan semua history nya isnya cuma bokep semua dan setiap malam ayah saya selalu menelpon perempuan sangat lama sekali bahkan pernah berjam-jam. setelah ibu saya meninggal ayah saya semakin menjadi jadi waktu itu saya mencuri kesempatan membuka hpnya lalu membuka whatsapp dan apa yang ku temukan ayah saya berulang kali menyewa PSK hati saya hancur menjadi berkeping keping saya tidak tahu harus bagaimana saya yang orangnya blak blakan takut menyakiti hati ayah saya,ayah saya ketika saya ceramhai tentang hal kecil saja tidak percaya dan sering sekali kolot dan malah menghina saya beda sekali dengan ibu saya. ustd mohon bantuannya saya harus apakan ayah saya padahal ia memondokkan saya dan adik saya namun kenapa kelakuannya seperti itu saya takut aya saya suul khotimah saya takut ayah saya meninggal ketika bermain dengan PSK nya saya sudah kehilangan ibu saya, saya menyesal belum bisa mengajari ibu saya mengaji dan saya tidak mau mengulangi hal tersebut pada ayah saya, saya ingin ayah saya taubat ustd mohon bantuannya dan maafkan tulisan saya yang berantakan
Redaksi salamdakwah.com
11 months ago

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Berdoalan kepada Allah ta'ala, dzat yang maha mendengar dan dzat yang mengabulkan doa doa hamba-Nya (di waktu dan momen yang memang dianjurkan kita untuk berdoa) semoga Allah ta'ala memberinya hidayah. Nasehatilah beliau dengan cara yang paling baik dan bijak semoga Allah ta'ala menerima. 

Dakwahilah dia dengan bijaksana, nasehatilah dia dengan lembut. Bersabarlah bila respon balik dari yang bersangkutan tidak enak didengar. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya (berikut terjemahan kami):
Ayah saya tidak melaksanakan shalat, apakah saya wajib mendakwahinya dan memerintahkannya untuk melaksanakan shalat. Beberapa orang memberitahu saya bahwa saya bertanggung jawab terkait ayah saya kelak di hari kiamat dan dihadapan Allah...?

Beliau menjawab:
Anda wajib mendakwahinya ke jalan Allah ta'ala serta wajib menasehatinya dengan metode yang bagus, dengan kelembutan dan bahasa yang indah sebagaimana Alah jalla wa ala berfirman:


أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ


Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (Luqman:14)

Apabila orang tua (dua orang tua yang musyrik) memaksa anaknya berbuat syirik maka


وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا


Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik (Luqman:15)

Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkannya untuk mempergauli kedua orang tuanya yang kafir di dunia dengan baik. Anda wajib mempergauli mereka dengan baik, dengan cara menasehati dan mengarahkan dan dengan kelembutan. Anda bisa meminta bantuan saudara-saudara yang baik (Dari kalangan kerabat, saudara dan paman-pamannya) supaya mereka juga menasehatinya. Semoga Allah memberinya hidayah melalui kalian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ دَلَّ عَلىَ خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ


Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan itu.

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Ali radhiyallahu anhu:


لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ


sungguh petunjuk Allah yang diberikan kepada seseorang melalui perantaraanmu, adalah lebih baik bagimu daripada kamu memperoleh unta merah (nikmat yang besar)

Berusahalah dengan keras dan bersungguh-sungguhlah terhadap Allah. Berdoalah kepada Rabb anda semoga Allah memberinya hidayah. Doakanlah dia kala sujud, di akhir shalat dan di waktu-waktu lainnya. Mintalah kepada Allah supaya Dia memberinya hidayah, supaya Dia melapangkan hatinya untuk kebenaran dan membantunya untuk menerima kebenaran. Berusahalah sekuat tenaga untuk itu. Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran...

Silahkan menyimak audio tanya jawab beliau dalam bahasa Arab di
http://www.alandals.org/gets.php?fid=36&id=8133&pid=150504

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya (berikut ini terjemahan kami):
Sesungguhnya ayah saya terkadang memerintahkan saya untuk melakukan perbuatan yang salah (sepengetahuan saya) seperti dia memerintahkan saya untuk memulangkan saudara-saudara saya dari madrasah supaya mereka bisa begadang sesuai keinginan dia. Bila ayah saya tidak shalat saya menasehati dia namun ketika itu dia duduk sambil mendoakan kebinasaaan atas diri saya, apajkah benar bahwa do'anya orang sakit tidak ada hijabnya (antara dia dengan Allah)? Apakah saya berdosa karena menggangu dia dengan nasehat tersebut?

Mereka menjawab:
Pertama taatlah kepada ayah anda dalam perkara yang ma'ruf dan bukan perkara yang mungkar.

Kedua: teruslah menasehatinya terkait masalah agama seperti shalat dan yang lainnya. Dengan begitu anda memperoleh pahala (biidznillah). Doanya yang buruk tidak akan membahayakan anda. Semoga Allah memberi manfaat dengan cara itu. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 25/185 pertanyaan kedua dari fatwa no.9452

Syaikh Sholeh al-Fauzan pernah ditanya:
Allah memerintahkan hambanya kaum mukminin untuk melaksanakan Amar makruf dan nahi munkar, apakah menasehati orang tua bila Salah seorang Dari mereka terjatuh dalam kesalahan termasuk kedurhakaan. Jawablah kami terkait hal itu. Semoga Allah memberkahi anda sekalian ?

Beliau menjawab:
Ya. Allah memerintahkan Amar makruf nahi mungkar sebisa mungkin. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"


«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ»


"Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu maka hendaknya dia ubah dengan lisannya. Jika tidak mampu maka hendaknya dia ubah dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah” HR. Muslim no. 49 dan yang lainnya

Dan dalam riwayat lain


(( وَلَيْسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ اْلإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ ))


“Dan tidak ada sesudahnya sebiji sawi pun dari iman.” (HR. Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayanu Kurhin Nahyi Anil Mungkar).

Kedua orang tua dan selainnya hukumnya sama dalam masalah ini. Mereka wajib diingkari bila mereka melaksanakan maksiat, dan mereka selayaknya diberi nasehat kala itu, ini adalah termasuk bentuk berbakti yang paling utama. Ini bukanlah termasuk kedurhakaan sebagaimana yang disangka oleh penanya, bahkan ini adalah termasuk bakti kepada keduanya, sebab anda ingin keduanya selamat serta berlepas diri dari neraka

Anda menndengar firman Allah ta'ala terkait Nabi Ibrahim kekasih Allah, dia memulai dengan menasehati ayahnya(Maryam 42-45):


إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَاأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا
يَاأَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا
يَاأَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا
يَاأَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا


42. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat mencukupi kamu sedikitpun?
43. Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.
44. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pengasih.
45. Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab dari Tuhan yang Maha pengasih, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan".

Ini Nabi Ibrahim kekasih Allah ta'ala, beliau menasehati ayahnya, mendakwahinya ke jalan Allah ta'ala dan berusaha menyelamatkannya dari neraka, ini menunjukkan bahwasanya menasehati para orang tua termasuk kewajiban yang paling ditekankan, dan seseorang memulai dengan mendakwahi mereka sebelum mendakwahi orang lain. Ini termasuk berbakti dan bakti yang paling agung bagi keduanya. Namun dakwah itu harus dengan hikmah (ilmu. Lih. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/245 no.16024.pent), mauidhah hasanah (memperingatkan dengan dalil yang menyemangati dan mengandung ancaman.pent), perkataan yang lembut, cara yang baik, dakwahnya juga harus dakwah yang paling halus, semoga Allah memberi mereka berdua hidayah. Majmu' Fatawa Fadhilatu asy-Syaikh Shaleh al-Fauzan 2/587-588

Apabila nasehat dari penanya tidak didengar maka bisa mengajak orang tua ke kajian atau memperdengarkan ceramah di rumah atau meminta bantuan orang lain (yang kira-kira di dengar oleh dia) untuk menasehatinya.

Jangan lupa untuk mengusulkan kepada ayah penanya supaya dia menikah lagi. Bila perlu penanya mencarikan calon yang kira-kira siap menghadapi dan menerima ayah nya. Semoga Allah ta'ala memberikan hidayah kepada ayah penanya dan semoga Allah merahmati ibunya di alam kubur. Wallahu ta'ala a'lam

 

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com