SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

haruskah berpisah?


Akhwat
10 months ago on Keluarga

Saya akhwat, bekerja, menikah pada akhir tahun 2017 dan saat ini telah memiliki anak berusia 7 bulan. Suami saya orang berpendidikan tinggi namun pada saat menikah hingga saat ini belum memiliki pekerjaan (pada saat sebelum menikah habis mengalami kebangkrutan & sampai saat ini masih mencari pekerjaan). Sampai saat ini suami belum pernah memberikan nafkah. Untuk nafkah anak pun hanya pernah membelikan susu sebanyak 3x dan untuk selebihnya saya yang membelikan semua kebutuhan anak. Sehabis waktu cuti melahirkan saya dan anak tinggal dirumah orang tua saya yang tidak jauh dari kontrakan saya dan suami, karena saya belum mampu untuk membayar pembantu. Hal ini juga telah atas diskusi dengan suami dan suami menyetujui. Hari sabtu dan minggu baru pulang kekontrakan. Di kontrakan suami bermain sebentar dengan anak lalu tidur sampai sore hari karena malam hari dia tidak bisa tidur alasannya. Perlakuan suami pun tidak terlalu baik terhadap saya, gampang sekali mengatakan kata-kata kasar seperti bodoh, telmi, goblok ketika saya melakukan kesalahan kecil, termasuk pada saat marah kata-kata kasar pasti terucap. Dan saya pun pernah di tendang bagian pinggang karena kata suami saya selalu mendebatnya ketika kami bertengkar. Suami selalu menginginkan ketika kami bertengkar atau ketika dia berbicara saya terima dan diam saja tidak usah mendebat baik itu salah. Selang 2 minggu setelah menendang kami bertengkar lagi dan suami menampar saya karena mengatakan apakah ibumu tidak mengajarkan untuk tidak berlaku kasar kepada perempuan. Hal itu membuat suami saya marah sekali. Untuk diketahui suami pun suka mengatakan bahwa orang tua saya salah mendidik saya atau mengatakan apakah kamu tidak diajarkan oleh orang tuamu. Suami pun jarang sekali untuk mampir kerumah orang tua saya, sudah masuk tahun ketiga pernikahan kami masih dalam hitungan jari untuk kerumah orang tua saya. orang tua saya mengetahui keadaan tersebut dan meminta saya untuk berpisah dengan suami atau melupakan mereka jika saya memilih suami, karena mereka melihat tidak ada masa depan dan tidak bertanggung jawab atas anak & istrinya. Saya sendiri tidak kuat dengan perlakuan kasar suami dan membuat saya trauma. Apakah saya harus berpisah atau tetap bersama suami yang tidak ingin berpisah namun orang tua tidak mau bertemu saya lagi jika tetap bersama suami.
Redaksi salamdakwah.com
10 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apabila faktanya seperti yang disampaikan oleh penanya maka yang pertama kali harus diperbuat oleh istri adalah berdoa semoga suami memperoleh hidayah dari Allah ta'ala disertai pemberian nasehat kepada suaminya, baik itu secara langsung atau melalui orang lain yang didengar perkataannya oleh si suami. Kami berdoa dan berharap semoga Allah ta'ala memberikan petunjuk kepada suami penanya sehingga ada perubahan sikap dan akhlak  suami dan semoga Allah ta'ala memudahkan suami untuk mencari nafkah, baik itu dengan cara mendapatkan pekerjaan atau Allah ta'ala mudahkan berwiraswasta . Ada kemungkinan sikap yang temperamental bersumber dari pikiran suami yang kalut karena lama tidak bekerja. Oleh karena itu kami sarankan kepada penanya untuk membantu suami mencarikan lowongan pekerjaan atau menginformasikan peluang berwiraswasta.  

Apabila berkali-kali nasehat dari istri dan orang lain tidak merubah akhlak dan sikapnya, baik itu si suami sudah bekerja atau belum sedangkanistri tetap tersiksa dan tertekan oleh perlakuan suaminya maka istri boleh meminta khulu' kepada suaminya.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menerangkan,"

ولكن لو تضررت المرأة ببقائها مع الزوج لبغضها له أو سوء عشرته أو أسباب أخرى فقد جعل الله لها فرجا بالمخالعة

Namun bila seorang wanita terkena mudhorot ketika dia bersama suami disebabkan karena bencinya wanita itu kepada suami atau karena perlakuan yang buruk dari suami atau sebab lain maka Allah telah memberikan jalan keluar berupa khulu'. Majmu' Fatawa Ibnu Baz  21/292

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah menerangkan,"

امرأة كرهت عشرة زوجها، إما لسوء منظره، أو لكونه سيئ الخلق، أو لكونه ضعيف الدين، أو لكونه فاتراً دائماً، المهم أنه لسبب تنقص به العشرة، فلها أن تطلب الخلع.

Seorang wanita benci perlakuan suami terhadapnya bisa jadi karena dhohirnya yang buruk atau karena suaminya buruk akhlaqnya atau karena agamanya lemah atau karena suaminya selalu lemah, yang penting dikarenakan sebab yang mengurangi kualitas pergaulan, maka kala itu istri boleh meminta khulu'. Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 12/451 


Muhammad bin Ibrohim at-Tuwaijiri menerangkan diantara sebab yang dengannya seorang wanita boleh meminta talak dari suaminya:

1. Apabila suami lalai dalam memberi nafkah

2. Jika suami menimbulkan mudhorot untuk istri yang karenanya menjadikan hubungan suami istri tidak bisa berlangsung seperti selalu mencelanya, memukulnya, menyakitinya dan istri tidak mampu menahannya atau memaksanya berbuat mungkar atau semacamnya.

3. Bila istri terkena mudharat karena tidak hadirnya suami dan ia pun khawatir terkena fitnah karena itu.

4. Jika suaminya ditahan untuk waktu yang lama dan istri merasa terkena mudharat karena terpisah dengannya

5. Bila wanita mendapati ada aib yang berat seperti mandul, tidak mampu untuk melakukan penetrasi, berbau tidak sedap atau sakit dalam jangka waktu lama yang menyebabkan dia tidak mampu melakukan hubungan suami istri dan bersenang-senang dengan pasangan, atau suaminya memiliki penyakit berbahaya dan menular atau sejenisnya.

6. Apabila suaminya tidak melaksanakan apa yang Allah wajibkan,  atau dia biasa saja  ketika melakukan dosa besar  dan hal yang haram seperti laki-laki yang kadang-kadang tidak melaksanakan shalat, atau dia meminum khamr, atau dia berzina, atau memakai narkoba dan yang semacamnya. Maushu'ah al-Fiqhi al-Islami 4/191

Dalam salah satu riwayat disebutkan:


أَنَّ الرُّبَيِّعَ بِنْتَ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ، أَخْبَرَتْهُ: أَنَّ ثَابِتَ بْنَ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ ضَرَبَ امْرَأَتَهُ فَكَسَرَ يَدَهَا، وَهِيَ جَمِيلَةُ بِنْتُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ، فَأَتَى أَخُوهَا يَشْتَكِيهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَابِتٍ فَقَالَ لَهُ: «خُذِ الَّذِي لَهَا عَلَيْكَ وَخَلِّ سَبِيلَهَا»، قَالَ: نَعَمْ، فَأَمَرَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَتَرَبَّصَ حَيْضَةً وَاحِدَةً، فَتَلْحَقَ بِأَهْلِهَا


Bahwa Ar Rubayyi' binti Mu'awwidz bin 'Afra telah mengabarkan kepadanya, bahwa Tsabit bin Qais bin Syammas memukul isterinya hingga mematahkan tangannya, yaitu Jamilah binti Abdullah bin Ubay. Saudaranya (Jamilah) lalu datang mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seseorang kepada Tsabit dan berkata kepadanya: "Ambillah apa yang menjadi haknya atas dirimu dan lepaskan dia!" Tsabit lalu berkata, Ya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lantas menyuruh Jamilah untuk menunggu (Iddaah) dalam durasi satu kali haid sebelum kembali kepada keluarganya. HR. An-Nas'i no.3497 Dishahihkan oleh Al-Albani

Wallahu ta'ala a'lam

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com