SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bolehkah Gugat Cerai Suami Karena Pernikahan Yang Dipaksa?


Akhwat (Jakarta)
5 days ago on Keluarga

Assalamualaykum wr wb Sy seorang wanita 24thn yg telah menikah 8 bulan lalu dan belum punya anak. Sy terpaksa menikah dan suami sy, seseorang yg tdk sy cintai. Namun bukan berarti sy membencinya. Sy tetap bersikap baik dan patuh terhadapnya. Orgtua memaksa sy utk menikah dgnnya krn kemapanannya. Sebelum menikah, ia kerap membantu keluarga. Ayah sy sudah 8thn tdk bekerja, tdk ada penghasilan dan uang. Harta orgtua habis utk membiayai pengobatan sy. Smpat trjadi Konflik hebat antara sy dan orgtua, krn sy tdk ingin menikah dgnnya. Terdapat sikap dan perilakunya yg tdk baik dn Sy tdk suka. Stlh kami menikah, sikap perilakunya berubah. Ia tdk mampu menafkahi batin sy dgn baik. Janji2nyapun belum nampak terealisasi. Orgtua sy kecewa. Setiap hr sy tdk berhenti utk mengingatkan dan menasehatinya dgn baik2. Sy tetap menjalankan peran sy sbg istri dan berusaha menjadi istri yg patuh dan taat kpd suami. Sy selalu berusaha utk mencintainya, namun hingga saat ini perasaan itu blm hadir. Sejak awal sy memang tdk mencintainya. Batin sy tersiksa ustad. Sy ingin seperti org2 yg membangun rumah tangga dgn penuh cinta dan kebahagiaan. Bolehkah sy menggugat cerai suamibolehkah-menggugat-cerai-suami-krn-pernikahan-paksaan Jima boleh, alasan apa yg hrs saya utarakan. Terimakasih byk ustad. Jazakalloh khoiron katsii
Redaksi salamdakwah.com
3 days ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Seorang wanita yang sudah baligh tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izin dan ridhonya, baik dia itu masih perawan atau sudah janda, ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam

لاَ تُنْكَحُ الأَيِمُ حَتَّى تُسْتَأْمَر، وَلَا تُنْكَحُ البِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَن، فقالوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ: فَكَيْفَ إِذْنُهَا؟ قال: أَنْ تَسْكُتَ

“Janda tidak dinikahkan sebelum diminta arahannya. Dan gadis tidak dinikahkan sebelum diminta izinnya. Mereka bertanya, bagaimana izinnya wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Jika dia diam. " (HR. Bukhori, no. 4843 dan Muslim, no. 1419)

Dalam salah satu riwayat disebutkan

عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ جَارِيَةً بِكْرًا أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ، فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, seorang gadis datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu dia menceritakan bahwa bapaknya menikahkannya sedangkan dia tidak menyukainya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mempersilahkannya untuk memilih (antara membatalkan pernikahan dan meneruskannya). (HR. Abu Daud, no. 2096; Ibnu Majah no.1875 dan yang lainnya. dinyatakan shahih oleh Al-Albany)

Dalam riwayat lain disebutkan

عَنْ خَنْسَاءَ بِنْتِ خِذَامٍ الأَنْصَارِيَّةِ، أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهْيَ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتْ ذَلِكَ، فَأَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ نِكَاحَهُ 

Dari Khonsa binti Khazam Al-Anshori, bahwa ayahnya menikahkannya saat dia sedang menjanda, sedangkan dia tidak menyukainya. Kemudian dia mendatangi Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam, maka nikahnya ditolak. (HR. Bukhori, no.  5138; Abu Daud no.2096 dan yang lainnya.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:
Apa hukum Islam terkait seorang wanita yang dinikahkan dalam keadaan terpaksa?

Mereka menjawab:
Apabila wanita tersebut tidak rela dengan pernikahan tersebut maka ia boleh membawa masalahnya ke pengadilan untuk menetapkan akdnya atau untuk membatalkannya. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/126 pertanyaan pertama dari fatwa no.7289

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah menerangkan:

وعلى هذا فيكون إجبار الرجل ابنته للزواج برجل لا تريد الزواج منه يكون محرما، والمحرم لا يكون صحيحاً ولا نافذاً، لأن إنقاذه وتصحيحه مضاد لما ورد فيه من النهي، وما نهى الشارع عنه فإنه يريد من الأمة ألا تتلبس به أو تفعله ونحن إذا صححناه فمعناه أننا تلبسنا به وفعلناه وجعلناه بمنزلة العقود التي أباحها الشارع، وهذا أمر لا يكون، وعلى هذا فالقول الراجح يكون تزويج والدك ابنته هذه بمن لا تريده يكون تزويجاً فاسداً، والعقد فاسد يجب النظر في ذلك من قبل المحكمة.

"berdasarkan hal itu pemaksaan orang tua kepada anak wanitanya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak ingin dia menikah dengannya adalah haram. Dan kalau haram, berarti tidak sah dan tidak dapat dilaksanakan. Karena pelaksanaan dan pengesahannya itu bertolak belakang dengan riwayat yang melarangnya. Karena maksud syariat dalam melarang sesuatu agar kita tidak memakai dan melaksanakannya. Karena  kita kalau sahkan artinya kita memakai dan melaksanakannya, dan kita jadikan seperti akad yang telah dibolehkan agama. Dari pendapat ini, maka pendapat yang kuat bahwa orang tua yang menikahkan anak wanitanya kepada orang yang tidak disukai menjadi suami adalah pernikahan yang rusak, akadnya juga rusak. Hendaknya pengadilan mengkaji ulang (keabsaan akad nikahnya)." Fatawa Islamiah 3/251

Oleh karena itu anda bisa meminta talak dari suami, dan bila suami tidak berkenan menceraikan maka anda bisa mengajukan permintaan cerai ke pengadilan. Terkait alasan permohonan cerai, bila memang anda tidak diberi nafkah batin dengan baik oleh suami maka anda berhak meminta cerai berdasarkan alasan tersebut. Anda juga bisa beralasan belum dikaruniai anak bila terbukti yang menjadi penyebab adalah suami anda. Anda juga bisa beralasan dengan batin yang tidak nyaman bila memang anda sudah berusaha maksimal untuk menenangkan diri namun tidak berhasil. 

Dalam salah satu riwayat yang shahih disebutkan


امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ، أَنَّهَا جَاءَتْ إِلىَ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- فقالت يَا رَسُولَ اللَّهِ ما أنقم على ثابت فِي دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ، إِلاَّ أَنَّي أَخَافُ الكُفْرَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ؟» قَالَتْ: نَعَمْ، فَرَدَّتْهَا عَلَيْهِ، وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا


Bahwasanya istri Tsaabit bin Qais mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : "Wahai Rasulullah, tidaklah aku sangat membenci dan mencela Tsaabit bin Qais dalam agama atau pun akhlaknya. tapi aku khawatir kekufuran". Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Apakah kamu mau mengembalikan kebun miliknya itu?". Ia menjawab : "Ya". Dia pun mengembalikannya. Selanjutnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Tsabit, sehingga Tsabit menceraikannya. HR. Bukhari 

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2017 - Www.SalamDakwah.Com